Curhat Pak Lurah


Buang sampah di Pot Kembang? di Kantor Kecamatan? pasti kerjaan aparat gak waras....
Sudah 4 hari lamanya aku dan timku yang terdiri dari beberapa lembaga melakukan blusukan ke kantor-kantor kecamatan dan kelurahan se-Kota Bandar Lampung dalam rangka melakukan penilaian lomba kebersihan. Dalam proses itu, ada beberapa kisah menggelitik, yang beberapa diantaranya membuatku pengen muntah. Bukan karena selokan yang mampet oleh sampah atau warna air comberannya seperti tinta cumi-cumi. Tapi, ya, misalnya oleh curahan hati salah seorang Lurah di sebuah kecamatan. 

Hari ini, aku bertemu dengan lurah itu. Kantornya kecil, menyewa pula. Terletak ditengah perumahan yang, ya, lumayan tidak terawat lingkungannya. Sembari mempersilakan kami menikmati air mineral dan gorengan, ia curhat soal kondisi kantornya. Katanya, ia diangkat menjadi lurah setelah Kota Bandar Lampung dinobatkan sebagai Kota Terjorok se-Indonesia tahun 2013. Padahal, sesungguhnya 'dalam kenyataan' yang terjorok itu Kota Tangerang. Nah, dia bilang, Adipura itu sebuah penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup yang bikin gengsi politik. Jadi yang menang dan kalah tak soal gimana kondisi kotanya, tapi gimana lobi dan jaringan antar personal. 

"Petugas sokli disini banyak alasan, katanya kurang armada lah, katanya inilah, itulah. Susah sih jadinya." Kata pak lurah saat salah seorang tim bertanya soal pengelolaan sampah. "Kantor kami ini beginilah. Bulan 12 nanti sudah habis sewanya. Kalau kita bagusin, nanti harga sewanya dinaikin sama yang punya. Pusing juga gak ada staf perempuan. Apalagi rumput-rumput itu cepet bener tumbuhnya." Celotehnya tak lama setelah aku mengambil gambar 'Selokan Cumi-Cumi" di depan kantor mungilnya. Dikiranya perempuan itu tukang bersih-bersih, hihihihi. Trus dia dia berceloteh soal para kasi yang arogan. "Ada itu kasi yang arogan bener. Kerja gak beres tapi gaji mau gede." Hadeh, masih mending loh digaji, kita-kita yang di NGO ini kerja ikhlas, hehehehe. 

Kami para tim yang sedang menikmati gorengan dan pengen segera cabut buat makan siang mesem-mesem dan sok mendengarkan saja. Curhatan beliau tidak merubah penilaian yang dilakukan. Sewa atau gak sewa, kecintaan pada pekerjaan lah yang akan menentukan apakah kantor mereka layak mendapat nilai sesuai atau sebaliknya. 

Selokan cumi-cumi
Armada pengangkut sampah...
Jadi, kategori penilaian lomba kebersihan tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, kategorinya hanya ada dua saja. Terbersih dan Terjorok. Nah, ada beberapa lurah yang mengaku bahwa kantornya nggak mungkin menang karena kondisinya, bla bla bla gitu deh. Tapi tentunya mereka was-was kalau-kalau mendapat peringkat Terjorok, sebab pasti jabatan Lurahnya akan dicopot di tempat dengan tidak hormat. 

Bahkan, hari ini ada kejadian menggelikan. Saat mobil tim kami masuk ke halaman sebuah kelurahan, para staf kaget, dan bertanya "Ada apa ya?" setelah tahu bahwa kami adalah tim penilai lomba kebersihan, mereka baru buru-buru membenahi kantornya. Ya, terlambat lah, kami kan menilai dengan mata, gak bisa nunggu kantor disapu dulu atau ditanami pohon baru. Singkatnya, aparat semacam itu adalah cerminan masyarakatnya. 

Selama empat hari blusukan, ini kali kedua tim kami makan siang di rumah makan Hang Dihi. Klo kemaren-kemarin makan ayam penyet mulu, nah siang ini makan Udang Saus Asam Pedas. Sedap betul deh. Tapi ya gitu deh, tempe tahu dan cah kangkung gak telat. Rasanya perut ini sudah jadi kebun kangkung, hehehehe...
Bandar Lampung, 17 September 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram