Titik Balik Lebaran 2013


Lebaran kali ini merupakan titik balik untuk persoalan domisili. Yah, aku pindah lagi ke Bandar Lampung, setelah dua tahun lebih tinggal di Jakarta dan Depok untuk kepentingan S2ku. Setelah mendapat izin untuk bimbingan Tesis via email, aku memutuskan untuk kembali tinggal di Bandar Lampung sebagaimana sebelumnya untuk meminimalkan pengeluaran atas biaya hidup yang melambung tinggi (maklum kontrak beasiswa sudah habis, Rupiah-US Dollar melemah, dan belum punya pendapatan tetap layaknya pegawai). Selain aku bisa menyelesaikan Tesisku dengan jarak ke lokasi penelitian yang semakin dekat, aku juga bisa memulai karirku kembali. Rencana yang klop. Entah jika ada rencana Tuhan yang lain. Nah, lebaran kali ini lumayan seru meski ya, 1/2 hari dari hari-hariku di kampung halaman dihabiskan untuk menikmati hujan yang mengguyur dengan derasnya. Umpama sihir yang menghentikan segala aktivitas. Berikut adalah peristiwa di lebaran 2013:

Mudik Depok-Bandar Lampung:
Mudik tahun ini aku menggunakan jasa travel langgananku. Aku malas menggunakan bis karena jumlah barang-barangku yang memang sangat banyak, sekalian pindahan. Ongkosnya? setelah naik pas Juli kemarin, kali ini naik lagi entah berapa persen plus biaya barang (yang sebelumnya gak pernah ditarik biaya barang). Nah, jika pas bulan Juli lalu tarif Depok-Bandar Lampung Rp. 230.000 (dari Rp.200.000) naik menjadi Rp. 295.000 dan Rp. 50.000 untuk barang bawaanku. Disepanjang jalan sopirnya marah-marah mulu (bawa-bawa monyet dan kemaluannya sendiri), padahal saat itu jalanan memang macet karena memang banyak pemudik berkendaraan pribadi. Nah, pas sampai di pelabuhan merak jam 1 malam, kami tertahan karena antrian kendaraan yang super panjannnnggggg layaknya ular besi yang berderet-deret menunggu giliran masuk kedalam lubang. Alhasil kami baru bisa masuk ke kapal pukul 5.30 pagi. 

Awalnya aku dan para penumpang lain merasa kesal, tetapi pas sudah di kapal, aku merasa bersyukur karena aku bisa menikmati fajar menyingsing dan pemandangan indah di Selat Sunda. Ini pengalaman indahku yang pertama setelah sekian kali bolak-balik Lampung-Jawa via darat dan laut. Dan, aku bertambah senang saat kami tiba di Bandar Lampung pukul 9 pagi karena aku bisa beristirahat di kosan sebelum pulang ke rumah. 


Ini dia beberapa potret selama di kapal.



ini videonya: 

Lanjut ke Rumah:
Pulang ke rumah itu, bagiku, umpama seekor kerbau yang kembali ke kubangan dinginnya setelah seharian berpanas-panas ria membajak sawah. Sehari menjelang lebaran, aku memanen sayuran di pekarangan mulai dari daun dan bunga pepaya, terong, leunca, daun bawang, cabe, daun kemangi hingga rampai muda. Dibanding makan dengan daging, aku menikmati tumisan kampung yang sangat kurindukan. Pas sore hari lebaran, aku membuat besengek bawang kucai yang dibawa sepupuku yang tinggal di Liwa. Bawaannya yang paling khas setiap lebaran, dan selalu disambut gembira oleh para sepupuku yan bekerja di Jakarta dan merindukan makanan kampung. Nah, salah seorang saudara jauhku turut mampir dan menikmati masakan sederhana itu bersama ikan asin goreng. Kami nngemper di lantai layaknya hari itu bukanlah lebaran. Makanan itu ludes saat seorang tetangga yang biasa suka makan bareng di rumah datang, dan kami tertawa bahagia saat melihat wajahnya cemberut. Rendang dan sambal ayam, ah itu dihabiskan sama anak-anak saja. Jadi, semua isi pekarangan ludes dan menunggu bertunas kembali.....

para sepupu kecilku yang berpose ria...


Lebaran kali ini sungguh ramai. Sepupuku yang sudah pada menikah membawa serta anak-anak mereka yang masih kecil. Kadangkala keributan yang diciptakan anak-anak itu menjadi bahan lelucon kami bahwa rumah ini kalau lebaran mirip dengan panti asuhan saking ramainya oleh jeritan dan tangisan anak-anak kecil, apalagi kalau mereka sedang rewel, bertengkar atau berebut mainan. Tetapi aku suka. Suara anak-anak itu membuatku merasa nyaman, selain bahwa trah keluarga kami akan dilanjutkan oleh mereka. 

Musim Hajatan:

Nah, pasca lebaran adalah saat-saat yang penuh dinamika. Ada banyak keluarga yang menyelenggaraakan hajatan seperti khitanan dan pernikahan. Dari sekian keluarga yang mengadakan pesta pasca lebaran, tiga diantaranya adalah masih kerabatku. Jadi, keluargaku sibuk kalar-kilir kesana kemari mengurus ini-itu terkait hajatan-hajatan tersebut. Aku bahkan menyempatkan diri untuk menjadi panitia dalam sebuah hajatan kerabatku, dan ya, itu adalah momen yang sangat baik untuk berkumpul dan bertegur sapa dengan kerabat yang selama setahun hidup berjauhan. Selain itu, kepanitiaan keluarga dalam sebuah hajatan juga menjadi semacam tali penguat ikatan kekerabatan, dibanding jika semua diurus oleh EO sebagaimana di kota-kota besar. Hm, aku jadi membayangkan, jika kelak aku menikah maka mereka itulah yang menjadi panitia dari urusan A-Z. Yah, seperti reuni keluarga super besar. Maka dari itu, tak heran jika hajatan dalam masyarakat Indonesia memang memerlukan dana yang besar, sebab yang diberi makan bukan hanya para tamu-undangan, melainkan sejumlah besar kerabat dan keluarga, serta para tetangga di sekitar rumah.

Meski harga-harga kebutuhan pokok meningkat tajam pasca kenaikan harga BBM, tetapi untungnya lebaran tahun ini dan hajatan-hajatan yang berlangsung itu tidak terlalu jauh jaraknya dengan musim panen kopi. Sehingga, ya, meskipun panen tahun ini tidak telalu menggembirakan, namun masyarakat masih punya uang dan tidak menyelenggarakan hajatan dari uang hasil pinjaman. Begitulah ceritaku seputar lebaran 2013, nggak detail dan full sih, tapi lumayan lah...


Bandar Lampung, 21 Agustus 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram