Tradisi Ramadhan Dulu & Kini


Rantang, perkakas tradisi 'rantangan'
Ramadhan kini dan zamanku ketika masih ingusan memang beda banget. Entah karena apa, aku jadi ingat hal-hal unik dimasa kecil, terutama saat bulan Ramadhan tiba. Saat aku masih gadis kecil yang sedang belajar berpuasa, biasanya aku mengekor sepupu-sepupuku yang usianya lebih tua dariku untuk menghibur diri setelah sahur atau menjelang berbuka/ ngabuburit. Sebagai anak kecil, dulu aku menganggap nasehat konvensional Bapakku adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Namanya juga anak kecil, maunya senang-senang tanpa memikirkan konsekuensi. Nah, ini beberapa kenangan yang hinggap di kepalaku tentang Ramadhan di masa lalu.....


Asmara Subuh

Dahulu sekali, puluhan-belasan tahun lalu, setelah sahur dan shalat Subuh, biasanya anak-anak kecil, remaja dan muda-mudi berkumpul di jalan raya untuk lari maraton, pacaran dan main petasan. Muda-mudi yang punya pacar biasanya janjian dengan pacar mereka untuk bertemu di suatu tempat setelah shalat subuh dan berkumpul bersama yang lainnya. Gaya pacaran para sepupu dan tetanggaku di bulan Ramadhan memang tidak kelihatan, karena mereka selalu berkegiatan secara berombongan. Jadi, mereka jalan kaki hingga lari-lari kecil sekitar beberapa ratus meter hingga sekitar 2 kilometer. Aku dan anak-anak kecil lain hanya mengekor. Subuh hari begitu, di desaku, masih sangat lengang. Jadi, jalan raya merupakan lapangan bermain nan panjang dan bebas hambatan. 


Selain ngobrol dan ketawa-ketiwi, mereka biasanya membuat ketenangan waktu Subuh pecah oleh bising merecon yang meledak ratusan kali. Aku ingat sekali bagaimana lautan kertas akibat ledakan merecon membanjiri jalan beraspal dan bikin para orangtua memarahi kami. Biasanya, Bapak atau Nenekku akan mengomel saat aku pulang. Mereka bilang sebaiknya aku mengaji atau membaca buku pelajaran sekolah daripada ikut-ikutan sepupu-sepupuku luntang-lantung di jalanan dan bikin sampah bertebaran. Setelah itu, biasanya Bapakku akan menceramahiku habis-habisan. Tentang bahaya pacaran lah, tentang bahaya merecon lah, tentang bahaya tertabrak mobil lah, tentang bahaya lain-lain yang menurutku waktu itu sangat tidak fit untuk anak kecil sepertiku. 



Saat aku beranjak remaja, aku memutuskan menjadi anak baik. Setiap Ramadhan tiba, aku tidak lagi mengekor sepupuku atau temanku untuk bermain selepas Shalat Subuh. Aku mengikuti nasehat bijak Bapakku. Nah, sekarang baru terasa manfaatnya. Ramadhan memang bukan bulan untuk bersenang-senang, apalagi bikin kegaduhan dengan ledakan merecon, melainkan bulan untuk belajar. Kini: Laptop dan televisi jadi penghibur. Semua hiburan tersedia via televisi dan internet. Modern, tapi garing ;) 



Mengumpulkan Makanan

Entah kenapa, cerita ini mirip dengan cerita teman sebayaku di berbagai tempat. Saat aku masih SD, saat Ramadhan tiba, aku suka sekali mengumpulkan makanan yang rencananya akan kumakan semua saat waktu berbuka puasa tiba. Mulai dari buah-buahan, jajanan, permen, coklat dan sebagainya. Tapi, biasanya dari seluruh makanan yang dikumpulkan itu, paling-paling hanya satu atau dua jenis makanan yang memang benar-benar dimakan. Sisanya dibagi-bagikan ke teman-teman saat salat tarawih di Masjid. 


Kini: tinggal belanja, maka makanan apapun yang diinginkan bisa terhidang di meja. 



Mengumpulkan Tanda Tangan Imam

Semasa SD-SMP, setiap bulan Ramadhan, guru agama memberi tugas baru, yaitu menulis inti ceramah dan meminta tanda tangan imam dimana kami melaksanakan shalat Tarawih. Kami diberi buku khusus, semacam buku kontrol. Jadi, setiap hari, mau tidak mau, sedang malas ataupun tidak, aku harus ke Masjid, demi mengumpulkan tanda tangan Imam. Nah, kalau waktu itu tidak ada ceramah, maka kami akan merangkum kultum yang biasa disiarkan di televisi. Ah, kebiasaan ini sudah lama tidak ada, sejak aku masuk SMA. Bagus sih untuk melatih ketulusan beribadah, tapi ketiadaan buku kontrol itu bikin anak-anak lebih memilih stay di rumah daripada ke Masjid. Jadi kangen masa-masa itu. Kini: entahlah....


Ngabedah

Dulu, saat aku masih SD, aku ingat sekali kalau seminggu-3 hari menjelang Idul Fitri, kami ngabedol kolam dan mengambil semua ikan. Masa itu, keluargaku masih memiliki beberapa buah kolam yang penuh dengan ikan. Keluarga lain juga begitu. Setiap keluarga dipastikan memiliki kolam, dan melakukan tradisi bedah kolam menjelang Idul Fitri. Nah, biasanya kami akan menjadikan sejumlah ikan untuk dibuat ikan asap, sejumlah lainnya dipindang manis dan sebagian lainnya digulai. Bisa dibayangkan jika seminggu menjelang Idul Fitri tuh setiap rumah memang banjir makanan. Pokoknya makanan enak dimana-mana. 


Kini: alam sudah berubah, kolam-kolam sudah berubah fungsi mulai dari menjadi rumah hingga kebun sayur. Hanya tersisa 1 kolam di keluargaku dengan jumlah ikan yang sedikit, karena bergantung ketersediaan air. Tradisi ini sudah hilang sejak aku masih SMA. Kehilangan itu, sejak beberapa tahun lalu, kupahami sebagai dampak dari degradasi hutan dan alam, sehingga debit air semakin berkurang. Ikan, adalah jenis makhluk yang bergantung pada ketersediaan air, terutama air bersih yang mengalir. 


Rantangan

Seminggu hingga H-1 Indul Fitri, dulu di kampungku, orang hilir mudik untuk mengantarkan 'rantangan' kepada kerabat, guru atau tokoh masyarakat. Biasanya, keluargaku memasak besar pada H-1 untuk kegiatan rantangan. Saat SD, aku biasa menjadi pengantar ke berbagai rumah kerabat, guru, atau tetua di kampungku. Bisanya aku mengantarkan 'rantangan' hingga ke 15 rumah. Saat mengantarkan 'rantangan', biasanya aku akan menerima bingkisan baik berupa makanan maupun sejumlah uang. Nah, uang hadiah itu biasanya kugunakan untuk jajan di hari Idul Fitri. 


Rantangan adalah tradisi tua, selain kami mengirim 'rantangan' ke berbagai tempat, kami juga menerima 'rantangan' dari berbagai keluarga dan kerabat. Dampak menyenangkan dari tradisi 'rantangan' ini adalah melimpahnya aneka masakan dan kue saat bua puasa di hari ke 30 Ramadhan atau malam Idul Fitri. Setiap rumah di kampungku merasakan sensasi yang sama, kami berbagi makanan untuk saling mencicipi. Itulah masa paling menyenangkan selama bulan Ramadhan. Aku makan dengan lahap, dan aku diperbolehkan makan sepuasnya. 


Kini: beberapa tahun terakhir, tradisi 'rantangan' nampaknya mulai memudar. keluargaku masih mengirim dan menerima 'rantangan' tapi jumlahnya menjadi berkurang. salah satu sebabnya mungkin karena jumlah tetua yang mulai berkurang, termasuk nenekku yang sudah meninggal tahun 2006 lalu, atau mungkin juga karena kata 'efisiensi' sebagai bentuk campur tangan zaman atas kehidupan di kampungku. Tetapi sesungguhnya, aku merindukan masa-masa itu. Masa dimana antara kerabat dan tetangga saling berkirim makanan dan setiap keluarga berbahagia dengan makanan yang berlimpah pada malam Idul Fitri. 

Depok, 11 Juli 2013  


Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram