Pindahan, Lukisan dan Sebagainya


Udah 8 Juli, dan belum ada satupun tulisan muncul di blog ini. Pertama-tama, memang karena akhir Juni lalu Blogger error jadi meski ada bahan buat nulis nggak bisa posting. Selain itu, awal Juli aku juga sibuk mengerjakan beberapa hal. Pertama, aku lagi suka banget melukis. Siang malam sibuk berlatih melukis (tanpa guru hehehehe...). Sempat juga ke Jogya buat kursus agraria (dapet proyek penelitian nih ceritanya), trus tes IELTS di IDP Jakarta, trus ngurus beberapa surat ke bagian akademik kampus, trus beres-beresin barang, trus membenahi mental (tapi nggak sakit jiwa loh ;), rasanya deg-degan mulu). Entah karena mau masuk bulan Ramadhan, entah karena mau pindah ke Lampung, entah mau dapet hoki, entah apalagi. Ada banyak PR postingan untuk blog ini, Nggak bisa buru-buru, apalagi klo posting gambar. Terakhir, aku lagi capek lemes banget karena bawaan PMS. So, awal puasa gak ikutan jadinya...

Pindahan
Seneng rasanya bisa mastiin jadwal buat pulang ke Lampung. Tahun ini adalah tahun ke 10 pengalaman hidup sendiri dan mandiri. Kadangkala bosen, kadangkala membebaskan. Setiap orang harus bisa sendiri-sendiri aau bersama-sama. Pindahan antar pulau memang ribet, kutaksir barang-barangku bisa menghabiskan setengah ruangan travel. Dan, tentu saja biaya perjalanan menguras dompetku. Tetapi, ya, inilah seninya hidup dinamis. Seninya jadi anak kos. 

Atas: Kamarku yang rapi. Bawah: Kamarku yang mirip kapal pecah....
Lukisan
Semalam aku dapat request dari seorang teman. Ia minta dibuatkan lukisan untuk salah satu cover photo di FBnya. Gambar lahan pertanian yang ada beberapa orang petani sedang mengobrol. Wah, permintaan yang berat. Aku paling nggak bisa gambar atau lukis manusia dan binatang. Rumit. Eh, setelah dicoba, sampe 2 jam lamanya ternyata bisa juga. Nih hasilnya: 


Nah, gara-gara itu, aku jadi dapat pesanan lagi dari temanku yang lain. Dia minta aku menggambarkan suasana belajar mengajar di luar kelas, antara guru dan murid-muridnya. Alamak! permintaan yang berat tuh. Dalam kepalaku memang kebayang jenis interaksi macam apa yang bagus dijadikan lukisan, tapi, bagaimana proses melukisnya aku nggak tahu. Yang jelas, aku harus mencoba. Satu langkah akan membawaku ke langkah-langkah selanjutnya, dan ke tempat yang memang ditakdirkan menjadi milikku di masa depan. 

Tapi, memang ini sebuah kemajuan yang patut kuhargai. Aku harus memberikan penghargaan kepada diriku sendiri atas apresiasi teman-temanku atas hasil belajarku dalam dunia lukisan. Aku tidak menyangka bahwa mereka menyukai lukisan-lukisan perdananku. 


Sebagainya:

Oh ya, barus pertama kalinya aku ke Jogjakarta menggunakan pesawat terbang (ndeso kali aku ya, hehehehehe...). Takjub aja pas nunggu di terminal 3 bandara Soekarno Hatta, udah bagus gitu. Layak lah diberi label standar internasional, meski masih kurang di sentuhan seninya. Pertama kalinya pula menggunakan maskapai Batik Air. Pesawat baru, jadi ya aromanya masih baru dan masih kinclong. Eh, pas pulangnya, serasa nunggu di ruang tunggu stasiun kereta api. Ruang tunggu bandara Adi Sucipto sederhana banget untuk dikatakan sebagai bagian dari bandara berstandar internasional. Ditambah lagi aku pakai maskapai Sriwijaya Air, kelas ekonomi pula, badanku yang pegal makin hancur. Benar kata paka Habibie, bangsa ini perlu membangun transportasi udaranya dengan baik karena memang sangat dibutuhkan. Berharap banget deh, pesawat buatan pak Habibi bakal mengudara di seluruh Nusantara dan jadi sarana transportasi kebanggaan bangsa. 


Depok, 8 Juli 2013


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram