Belajar Merasa, Belajar Merupa

Lukisan Andreas Iswinarto
Hari sabtu, 27 Juli lalu, aku bertemu dengan seorang aktivis nasional yang tiga tahun belakangan ini menekuni seni lukis. Aku memesan dua lukisan yang saat pertama kali melihatnya di akun Facebook-nya membuatku terpikat. Dalam melukis, ia konsisten dengan tema-tema 'pedas' umpama lagu-lagi Iwan Fals. Untung saja ia berkarya dizaman Orde Berantakan ini, coba kalau dizaman Orde Baru, pasti sudah masuk bui. Lukisan-lukisannya yang tegas dan menggambarkan 99% ketidakdilan yang terjadi di negeri ini, juga yang menjadi salah satu faktor pendorongku untuk kembali menggerakkan kuas. Sore itu, kami mengobrol di salah satu kantin di kompleks Taman Ismail Marzuki. Setelah ngobrol mengenai metode hidroponik sederhana, kami ngobrol banyak soal rupa-merupa itu.

Lukisan hasil belajarku
Aku yang melukis secara otodidak memang banyak memiliki ketidaktahuan mengenai banyak hal. Sebut saja soal kertas dan kombinasi cat. Aku berharap, gerakan kuasku, obrolan kami dan lain-lainya menjadi bagian yang membawaku kemasa depan, kemasa dimana aku bisa dengan bangga mempersembahkan hasil tarian kuasku pada dunia. Nah, sekarang aku harus belajar lebih banyak, sebab merupa sesuatu bukan sekedar untuk kepuasan diri, melainkan untuk memihak kepada keadilan dan kemanusiaan.

Saat ini, aku sedang belajar mencari 'khas'ku sendiri dan menentukan apa yang hendak kuperjuangkan melalui lukisan-lukisan itu. Alhamdulillah, pada koleksi-koleksi awalku, 4 buah lukisan sudah diminta teman. Aku memang berjanji pada diriku sendiri, bahwa pada periode awal ini aku ingin menghadiahkan lukisan-lukisan itu pada teman-temanku, agar 'aku' ikut kemanapun mereka pergi dan tinggal di rumah-rumah mereka, sehingga mereka akan senantiasa mengingatku. 

Depok, 30 Juli 2013
-menjelang sahur-

Wijatnika Ika

2 comments:

PART OF

# # # # #

Instagram