Thesis : Revisi Level Eneg


Pasca seminar proposal dan sebelum ngumpulin data di lapangan, aku harus merevisi proposal Tesisku telebih dahulu. Ya, aku tahu. Tapi, berhubung aku udah eneg ngubek-ngubek file-ku, aku jadi bingung sendiri mana bagian yang mau dibuang dan mana yang mau diperbaharui. Bukan soal sayang akan mempertipis jumlah halaman, melainkan karena aku khawatir fokus yang dibahas akan berubah. Berdasarkan masukan dari penguji dan pembimbing, ada beberapa hal yang secara garis besar memang harus diperbaharui: 

1. Teknik Penulisan
Ya, biasalah, selalu ada saja hal remeh temeh yang terlewatkan saat mata berhadapan dengan kertas di layar komputer sehingga kekurangannya baru ketahuan pas udah baca print out. Salah di 'titik', 'koma', 'huruf', dll dll dllPembimbingku bilang, "Lihat lagi itu buku panduan penulisan UI." Nah, setelah kubaca sampai khatam pun aku masih bingung dimana letak kesalahanku. Biasanya yang jadi panduanku *karena aku sudah muak baca buku panduan itu*, ya Tesis pada mahasiswa yang udah lulus. Kenapa sih nggak ditunjukin aja sekalian atau kalimatnya digarisbawahi dengan tinta warna-warni? Ah, gitu deh pembimbing dan penguji yang nggak mau kerja detail (ngambek.com)

2. Metode Penelitian
"Saya sarankan, penelitian kamu ini lebih eksplanatif, bukan deskriptif. Jadi jawaban yang akan kamu cari itu tentang 'mengapa', sehingga penelitian kamu lebih mendalam, bukan hanya mendeskripsikan kasus di lapangan." Kata Kajurku yang jadi penguji. Nah, klo begini kan bikin aku nambah 1 pertanyaan penelitian dan nambah beberapa informan. Kebayang deh aku bakal bolak-balik beberapa kantor di Pemkab Mesuji buat wawancara. Eneg bener....

3. Literatur
"Coba deh kamu baca bukunya James C Scott tentang Perlawanan Kaum Petani. Mungkin cocok untuk membantu mengkaitkan antara konsep dan kenyataan di lapangan." Aku jadi mikir tingkat eneg soal hubungan antara judul Tesisku dengan konsep-konsep yang kugunakan. Penelitianku bukan masuk ke ranah perlawanan kaum petani (ini bahasan gerakan sosial), tapi soal kebijakan kesejahteraan sosial di (....). Bener deh, masukan pak Kajur jadi bikin aku bingung. 

Ada beberapa literatur yang kubutuhkan (jika masukan pak Kajur memang harus mendapat perhatian lebih dari sebelumnya, tapi aku masih bingung....): 

  1. Perlawanan Kaum Petani, James C Scott, 1993
  2. Petani Rasional, Samuel Popkin, 1986 
  3. Senjatanya orang-orang yang kalah, James C Scott, 2000
  4. Sengketa Agraria Pengusaha Perkebunan Melawan Petani, jk Pelzer, 1991
  5. Mikung: Bertahan dalam Himpitan, Sofwan Samandawai, 2001
  6. Lingkup Agraria Menuju Keadilan Agraria, MTF Sitorus, 2002  


Ketiga hal tersebut bener-bener bikin aku eneg untuk melakukan revisi proposalku. Kubolak-balik, kubaca-baca, kuedit sedikit-demi sedikit, dan kupikir-pikir malah bikin perutku mual. Memang sih, aku nggak mau Tesisku ini cuma Tesis asal-asalan yang bikin aku asal lulus. Goalku adalah buku. Jadi, setelah Tesis kelar dan aku dinyatakan lulus, aku akan garap penelitian lanjutan untuk Tesisku pantas dijadikan buku, sebagaimana Skripsiku dulu (yang akan kugagarap dengan serius setelah aku lulus). 


Dulu, waktu selesai kompre tahun 2008 lalu, saat aku dipanggil lagi kedalam ruang ujian, pembimbing dan dan pembahas Skripsiku bilang bahwa mereka bangga padaku dan memintaku melanjutkan penelitian Skripsiku agar hasil penelitiannya bisa diterbitkan sebagai buku. Wow, rasanya jantungku mau meledak saat itu. Entah karena gembira atau apa. Tahun 2009, Skripsiku memang sangat membantuku dalam membuat buku mengenai Kelompok Tani pengguna Sistem Hutan Kerakyatan (SHK) di Lampung. Tapi, itu buku buat laporan internal NGO tempatku bekerja dan belum punya ISBN. Makanya harus dilanjutkan, punya ISBN dan aku akan mewujudkan rasa bangga kedua dosenku yang tertunda selama beberapa tahun ini. Dan hey, aku ingin seperti Agung Nugroho yang berhasil membukukan hasil penelitiannya di Kalimantan dengan sangat apik. Mimpi, mimpi, mimpi....

Tambahan:

4. Semangat  
Kalau lagi eneg, bete, males, dan gila tidur, rasanya muak bener lihat proposal Tesis. Tapi, klo inget mimpi-mimpi dan masa depan yang kutuju, rasanya aku ingin berlari kencang dan bekerja 30 jam sehari, hahahahah. Apalagi kalau homesick melanda dan pengen pulang ke kampung halaman. Pasca seminar proposal, semangatku memang mulai melemah seperti baterai Hp yang low gitu yang butuh energi, jadi harus dicharge. Aku hanya punya beberapa cara sederhana untuk menjaga api semangat agar menyala. 

Pertama, ngeblog dan baca blog orang. Selain nambah pengetahuan, juga menghibur.  Kedua, baca buku-buku inspiratif atau novel, ya sama-sama nambah pengetahuan dan mengibur. Ketiga, membaca buku harian, buku 'keinginan' dan melihat album photo. Tujuannya ya untuk mengingat langkah-langkah yang telah dilakukan sejauh ini, sebab sukses dan bahagia itu memerlukan jutaan langkah dan aksi. Keempat, mengkhayal. Ya, khayalannya tentang wisuda, kembali ke kampung halaman, kembali bekerja di lapangan keliling Lampung dan menandatangi bukuku yang sudah diterbitkan. Hm, begitulah...

5. Bersyukur
Kadang-kadang aku mengeluh untuk proses yang kupikir lambat ini. Namun, akhir-akhir ini aku mulai menata ulang alur pikirku sendiri. Buat apa mengeluh? toh rezeki ini sudah lebih dari cukup dibandingkan orang-orang lain yang tidak sampai pada tingkat ini dalam pendidikan mereka, atau lebih ekstrim lagi buat mereka yang terpaksa nikah di usia belia karena nggak sekolah atau karena berada di wilayah terpencil yang tidak tersentuh informasi. Bersyukur, memang merupakan langkah pamungkas dan jitu dalam menghalau rasa tidak puas dan ambisi yang ingin tumbuh menguasai yang lain. Kondisiku yang sekarang ini, bahkan jauh lebih baik dari kondisi masyarakat yang akan kuteliti untuk Tesisku. Kurang apa coba? 

Depok, 4 Juni 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram