Jadi Guru (lagi) di Kelas Inspirasi


Kami, para Guru Inspirasi, beberapa murid dan para pengajar photo bersama di halaman sekolah setelah kegiatan selesai.
Hari ini aku sempat linglung pakai sepatu, sehingga beberapa kali bolak-balik ke kamar kosan setelah keluar pagar. Hufff! Karena saking semangatnya hendak mengajar di program Kelas Inspirasi. Kukira aku kesiangan, padahal sih nggak. Aku dan kawan-kawanku yang tergabung ke kelompok 14 mendapat jatah mengajar di SD N Tugu 9 Cimangis, Depok. Ini adalah kali kedua aku menjadi guru sehari/guru inspirasi dalam program besutan Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar-nya yang fenomenal. Keputusan berpastisipasi dalam program ini bukan hanya sekedar untuk menantang diri sendiri dalam berkomunikasi dengan anak-anak usia sekolah dasar, juga melatih mentalku saat bekerjasama dalam sebuah kelompok dadakan, hahahaha. Juga, untuk mengenalkan ratusan jenis profesi pada anak-anak agar mereka paham bahwa jika mereka dewasa kelak, mereka bisa menjadi apapun yang mereka mau untuk sukses dan berkarya.

 

 
 
 Suasana sekolah setelah kegiatan selesai dan para murid pulang. 

 
 
 

Hal tersulit bagiku dalam memberikan pemahaman pada anak-anak tentang profesiku sebagai orang yang bekerja di NGO adalah memberi mereka analogi, dengan sebuah pekerjaan yang mungkin mereka pahami. Karena kelas inspirasi bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak sesuai dengan keseharian mereka, maka aku mengenalkan diriku sebagai polisi lingkungan. Emang selama ini ada ya polisi lingkungan? Itu sih hasil ngarang aja, karena aku bingung bagaimana cara menjelaskan jenis pekerjaanku pada mereka, apalagi anak kelas 2 SD. Dan partnerku mengajar adalah pengajar, jadi mereka juga mengira aku pengajar, apalagi penampilanku hari ini ya mirip lah dengan pengajar. Hadehhhh

Terdapat beberapa pelajaran yang bisa kupetik atas kegiatan hari ini. Pertama, saat aku bertemu semakin banyak orang, aku merasa semakin takjub atas perbedaan karakter, pola pikir, ide, dan nilai-nilai dalam kehidupan pribadi seseorang. Misalnya saja, aku dan teman-teman kelompokku. Mereka bekerja dan kuliah, tetapi juga sibuk wara-wiri mengurus segala persiapan kegiatan ini selama kira-kira dua minggu. Hm, salut sama kerjasama mendadak yang menunjukkan kalau mereka tuh orang-orang yang memang terbiasa bekerjasama dengan orang lain. 

Kedua, adalah soal komunikasi dan kerjasama. Kami terdiri atas 10 orang pengajar, dan kami mengajar di 5 kelas. Jadi, masing-masing kami mengajar bersama satu teman lainnya yang profesinya mirip. Nah, aku berpartner dengan seorang pengajar. Salahnya, kami tidak komunikasi di awal soal bagaimana kami mengelola kelas dan membagi waktu saat menjadi guru di depan anak-anak. Kami seperti perahu yang berlayar dengan dua nahkoda tapi tanpa peta. berjalan semaunya dan hanya mengandalkan improvisasi. Di setiap kelas, temanku itu lebih dominan karena selalu memotong pembicaraanku. Bahkan dia berani-beraninya menjelaskan pekerjaanku saat aku belum selesai berbicara, layaknya moderator. Sehingga, sesekali aku harus nekat memotong jalur yang melebar kemana-mana untuk kembali menjelaskan apa maksud keberadaan kami sebagai guru inspirasi. Pengalaman pertamaku mengajar di kelas semacam ini memberiku pelajaran berharga, bahwasanya keberadaan kami disana bukan untuk menggurui, menyalahkan pendapat murid, atau bahkan berbicara tentang hal-hal yang sesungguhnya biasa mereka pelajari di sekolah, seperti materi pelajaran sekolah.

Kelas inspirasi adalah kelas yang berbeda dari kelas-kelas mereka sehari-hari, oleh karena itu sebagai guru inspirasi, kami hanya bertugas membeir inspirasi. Bukan memberi pelajaran sekolah. Tujuan kami seharusnya hanya satu dan yanga kami lakukan hanya satu, yaitu berbicara tentang what the meaning of dream? what is your dream? how to realize your dream? dan how to challenge yourself to get your dream. Hanya itu. Karena memang itulah tujuan kelas inspirasi, sebagaimana kupelajari dari materi saat briefing dan surat dari Anies Baswedan. But then, meski aku agak kesal, ya setidaknya aku tidak kehabisan suara dan energi. Tugaksu tertunai sudah. 

Ketiga, kerjasama dengan pihak sekolah. Berdasarkan hasil bincang-bincang dengan kepala sekolah dan beberapa guru, tidak semua SD di Depok bersedia memberikan tempat bagi para relawan guru untuk mengajar di sekolah mereka. Entah karena anggapan mainstream bahwa yang datang ke sekolah itu selalu merepotkan, atau memang mereka tidak tahu visi pendidikan yang digagas Anies Baswedan dan pasukannya itu. Entahlah. Disinilah aku melihat satu fakta, bahwa ketika lembaga sekolah menutup diri dari hal-hal yang datang dari luar, karena prasangka negatif, maka mereka telah memberangus kesempatan anak-anak didik mereka untuk mendengar dan melihat hal-hal baru diluar keseharian mereka yang monoton dan seragam. 

Keempat, sistem pendidikan. Telah belasan tahun aku lulus SD dan meski memang belum kenyang mengenyam pendidikan, aku masih saja heran, bahwa sistem pendidikan di negara ini masih kacau balau. Aku masih berfikir bahwa apakah masuk akal di zaman ini siswa SD yang jumlahnya sekitar 40an orang itu dipegang oleh satu orang guru? OH! jika aku yang jadi guru mungkin aku sudah masuk rumah sakit karena depresi! Suasana kelas seperti itu sangat tidak nyaman dan jauh dari ideal. Ditambah keadaan kelas yang sempit dan panas.  

Photo bersama para guru dan para guru Inspirasi
Yups, Kelas Inspirasi ini benar-benar memberi inspirasi....


Depok, 18 Juni 2013
-Terima kasih pada seisi semesta dan pemiliknya atas pelajaran hari ini....- 

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Nice story, bu guru .. ;-D

    ReplyDelete
  2. Iya nih pengalaman jadi guru sehari, asyik meski lelah hehehe

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram