Cerita dari Lampung

dari dextoshare.blogspot.com
Tanggal 18 sore, tepatnya setelah aku mengajar sehari saja di Kelas Inspirasi, di SD Tugu 9 Cimanggis-Depok, aku pulang ke Lampung. Tujuanku pulang adalah: untuk cari kosan di Bandar Lampung, sowan ke kantor WALHI dan AGRA, nganterin buku-buku buat biang perpustakaan keluarga, makan makanan kampung dan ketemu sahabatku. Perjalanan membelah sedikit bagian barat pulau Jawa, Selat Sunda dan Lampung membuatku merasa remuk. Oleh karena itu baik di bis maupun kapal kerjaku hanya tidur. Setelah 6 bulan lamanya stuck di Depok, perjalanan ini rasanya berat banget. Nah, karena aku sudah tiba di Depok lagi, aku mau cerita mengenai pengalaman beberapa hariku pulang ke Lampung.

Hungting kos-kosan
Saat tiba di Bandar Lampung, aku menumpang di kosan sahabatku, dan seharian aku keliling Bandar Lampung buat cari kosan. Yup, akhirnya kembali ke Jl. Lada dan dapat kosan dengan harga sedang dengan fasilitas yang manusiawi. Saat itu aku membandingkan harga dan kualitas kosan antara Depok-Bandar Lampung. Yah, fasilitas kosan memang berbanding lurus dengan keperluan. Tapi, setelah hunting sana-sini sih, kosan di Bandar Lampung itu mahal. Ada beberapa kos-kosan dengan harga sama tapi fasilitasnya jauh berbeda. Selama pencarian itu, gak ada kos-kosan yang pake Wifi, hiks...

Kota yang tumbuh
Pemandangan terbaru di kota Bandar Lampung, dalam kacamata ekonomi jangka pendek, nampaknya menjanjikan dan ekonomis. Tapi, dalam jangka panjang kupikir akan jadi masalah serius. Kenapa? Wajah kota ini memang terlihat bopeng karena kesibukan membangun ini-itu dan mungkin akan menjadi kota antah berantah yang ada di seputaran Jakarta. Entah akan dibangun sebagai kota apa lah kota ini oleh Walikota. Sebab, nampaknya wewenang Pemeirntah Kota sudah ada di balik kaki korporasi, hancur berkeping-keping. Bisa dibayangkan akan jadi kota apa Bandar Lmapung di masa depan jika yang dibangun hanya ruko, rukan, mall, department store milik asing dan gedung-gedung penjual junk food. Miris. Beberapa lokasi kulihat sudah berganti wajah, misalnya Hutan Kota di Way Halim sudah menuju habis dan berganti sebagai pusat bisnis, beberaa rumah tradisional tamat dilibas bangunan kampus dan rukan atau ruko. Sepanjang jalan raya hanya ruko dan rukan sebagai ruang bisnis. Manusia-manusia korporasi yang bersekongkol dengan pemerintah nampaknya memang hendak memaksa rakyat ketagihan produk-produk modern tanpa ampun, dan mereka juga dipaksa melupakan indahnya bercengkrama di taman-taman dan  ruang terbuka hijau. 

Dokumentasi pribadi dong...
Bahkan konsep penghijauan yang dilakukan Walikota hanya terlihat sebagai kesombongan atas otoritasnya. Coba bayangkan, apa enaknya kota megah bergedung tingkat yang dipenuhi pohon nangka? aneh bener pemkot itu! kenapa tak pohon jeruk saja supaya kota menjadi orange? atau pohon flamboyan saja supaya kota menjadi merah? atau sekalian pohon beringin yang berbadan besar dan berdaun rindang supaya kota menjadi super hijau dna sejuk? ah, ada-ada saja. Nah, ini soal patung. Saat aku ke pusat kota, aku melihat Patung Radin Intan sang pahawan berdiri Jumawa di dekat departtemen store Ramayana. Apa indahnya patung pahlawan ditaruh disana? kalau tujuannya adalah untuk edukasi, sungguh tidak tepat sasaran. Bikin aja museum. Kalau tujuannya untuk mengenang jasa pahlawan dan keindahakn kota, sungguh salah taruh!!!!

Baiklah, tunggu suara cemprengku yang akan segera membangunkan kekacauan ini. Aku tidak bisa membanggakan kota macam itu, kota tanpa tujuan, kota yang aneh, kota yang berimprovisasi secara dadakan dan menyalahi aturan. Kota yang .....

Berubahnya fungsi Kampus
Aku juga menyempatkan diri berkunjung ke almamaterku si kampus hijau yang terkenal itu. Aku dan temanku masing-masing punya janji untuk bertemu teman kami yang lain. Ya, almamaterku iytu memang hijau, karena pohon yang dulu ditanam kini sudha tumbuh tinggi dan berdaun rindang. Tapi, yang miris adalah kampus ini tetap tidak bebas sampah. Sampah bertebaran dimana-mana sebagaimana mahasiswa yang bertebaran untuk nongkrong atau melakukan berbagai aktivitas lainnya. Jadi, mahasiswa kampus ini masih gengsi mungut sampah yang bertebaran di kampus hijau mereka dan masih mengandalkan petugas kebersihan. Masalah lain adalah, ruang terbuka hijau di kampus ini nampaknya menyusut. Di fakultasku saja ada tiga bangunan baru yang masih mangkrak karena menunggu dana proyek untuk pembangunan selanjutnya. Akibatnya, halaman yang seharusnya ditumbuhi tanaman hijau jadi tempat parkir karena memang tak ada lagi lahan parkir. Sungguh aneh kampus ini. Kampus lain? sama saja. semua berlomba membangun dengan tipe pertumbuhan tetapi lupa kesejahteraan psikologis para civitasnya dengan melahap ruang publik dan ruang terbuka hijau. 

Kampungku
Yang terjadi di kampungku adalah ibarat api dalam sekam. Miris, tapi memang tak terlihat dan tak terbaca secara kasat mata. Mungkin tak ada yang percaya bahwa kampung (dua desa) yang memiliki 3 pesantren ini ternyata aktivitas keuanganya dikuasai oleh rentenir dan sistem pendidikan sekolahnya disetir praktek suap menyuap untuk beli kursi. Ketika para orangtua panik karena nilai anaknya sangat rendah dan tidak bida diterima di sekolah, mereka pakai jalan belakang dengan menyuap guru atau kenalan mereka di sekolah. Orangtua masih belum paham bahwa praktek itulah jalan yang menjerumuskan mental anak-anak mereka ke penyimpanan perilaku yang lebih kacau dimasa mendatang. Ya, anak masih dianggap bodoh karena nilai skeolah meeka jeblok. Anak dianggap nakal kalau kelakukan mereka anti mainstrem. Tapi, para orangtua tak berkaca diri pada perilaku mereka sendiri, Mereka lupa bawa anak adalah peniru paling ulung di dunia. 

Nah, bulan-bulan ini para petani sedang memanen kopi mereka. Asyik dong ya kelimpahan uang? nampaknya tidak, Musim kopi di zaman sekarang, meski harganya tembus Rp. 17. 000, tidak membuat wajah para petani sumringah. Pasalnya, gara-gara harga BBM naik, yang lain ikutan naik termasuk bahan-bahan pokok. Selain itu, biaya sekolah anak mereka juga mahal, apalagi yang sedang kuliah di Bandar Lampung. Biaya hidup di kota kan jauh lebih mahal dibanding di kampungku. Musim justru bikin para orangtua kelimpungan. So, musim kopi tahun ini, hanya bikin uang mampir sebentar trus menguap untuk berbagai kebutuhan. 

Kampungku masih dingin, supe dingin seperti dulu. Dan kalau pulang kampung aku hanya sanggup mandi seklai sehari di sing bolong, hehehehe. Meski hanya sehari di rumah, aku merasa senang, Aku bisa makan bersama keluargaku dengan menu makanan kampung yang full sayuran hasil memetik di pekarangan rumah. Pohon buah-buahan yang baru ditanam juga sedang tumbuh. Mungkin 5 tahun kedepan sudah rimbun ya.

Makanan
Sebelum kembali ke Depok, tanggal 21 Juni, aku menyempatkan diri keliling kota bersama kawanku dan makan di warung tenda, sebagaimana sangat kamu sukai dulu. Kali ini kami menemukan empek-empek dan otak-otak yang enak di Simpur Center dan menu bebek di warung tenda di dekat Chandra Department Store. Makanan di Lampung memang paling enak dibanidng di Jawa. 

 

Biaya-biaya
Buat siapapun yang mau jalan-jalan ke Lampung dan nggak tahu ongkosnya, nih bocorannya:
Depok-Bandar Lampung via Travel Rp. 200.000
Gambir-Bandar Lampung via bus Damri Rp. 115.ooo (kelas Bisnis) 
Gambir-Bandar Lampung via bus Damri Rp. 150.ooo (kelas Eksekutif) 

Kalau ngeteng jauh lebih murah. 
1. Depok-Pasar Baru-Merak Rp. 30.000 
2. Kapal Rp. 11.500 (bisa nambah biaya ruangan kelas eksekutif dan tikar) tergantung jenis kapal. Ada juga kapal bagus tapi serba gratis. 
3. Bakauheni-Bandar Lmapung Rp. 20.00 (bis AC)

Something interesting
Nah, pas pulang menuju Depok kemarin itu, aku pake bus Damri karena bawa koper dan malas repot kalau ngeteng. Lagian badanku rasanya remuk redam. Daripada remuk beneran di jalanan, mending antisipasi dengan memudahkan perjalanan deh. Nah, ternyata dapat kapal yang bagus, entah KM apa namanya, lupa lagi. Kita sebut saja KM X. Seuruh ruangan di KM itu berAC kelas apapun dia. Ruang lesehannya besar sekali, dan gratis. Nah, kelas ekonominya aja kursinya bagus dan berAC. Toiletnya bagus dan bersih. Ada fasilitas charger HP dengan bayaran Rp. 10.000. Yang bikin meirnding adalah Mushola-nya. Ruangannya lumayan besar, tempat wudhunya bersih, airnya segar, dan ada rak buku tempat menaruh mushaf Al-Qur'an. Nah, saat kau masuk buat shalat malam, tuh penumpang udah banyak yang kumpul. Mereka duduk tenang nyambi mendengar Murattal Qur'an. 

Pas waktu subuh, aku bersama sekitar 100 orang jamaah, shalat subuh berjamaah dengan imam yang bacaan Shalatnya bagus. Pas kami para makmum berseru 'aamiiiiiiin" aku merinding. Gimana pun juga, kami ini semua lelah tapi menyempatkan diri untuk shalat berjamaah, dalam kondisi kapal yang bergoyang. Setelah kami selesai jamaah lain yang sudah menunggu giliran masuk. Ini pengalaman pertamaku soal shalat berjamaah di kapal, di Selat Sunda. Nikmat sekali bagi jiwa.  Nah, pas aku keluar menuju bis, kulihat senja di Merak yang mulai tampak. Magis. Pengen kulukis. Semoga masih ingat komposisi warnanya. 


Yup, inilah ceritaku tentang Lampung kali ini.


Depok, 23 Juni 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram