Bertemu Karen Armstrong


Maybe, next time I will be the lecturer, hehehe..
Aku mendapat kabar bahwa Karen Amrstrong akan memberikan kuliah umum di Universitas Paramadina pada 15 Juni. Wah! ini kesempatan emas untuk melihat langsung penulis terkenal itu dari dekat, minta tandatangan untuk buku-bukunya dan berphoto bersama. Hm, rencanaku begitu manisnya. Setelah urusan-urusanku di Depok selesai. Jam 14.30 aku meluncur ke Jakarta via Commuter Line. Trus meluncur pake Ojek dari stasiun Cawang. Sport jantung sih, karena tuh mamang ojek ngambil jalur Busway atau nyelip-nyelip ke kendaraan lain di tengah jalanan Jakarta yang macet. Sampai kemarin, aku masih berkeinginan untuk tidak tinggal dan bekerja di Jakarta. Bukan Jakarta tidak menjanjikan, tetapi aku memilih membela paru-paruku. Jalanan Jakarta dan udaranya bikin aku menjadikan Jakarta sebagai kota yang paling tidak ingin kutinggali di seantero Indonesia ini. 

"Gimana ya rasanya jadi Karen?"
Ruangan yang disebut Ruangan Nurcholis Madjid itu penuh dengan peserta yang duduk, di kursi, ngemper dan yang berdiri untuk menyaksikan Karen dan mendengar apa yang akan dikatakannya mengenai bukunya yang terbaru "Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih". Begitu antusiasnya orang-orang. Karen, yang baru pertama kali ke Indonesia memancarkan pandangan yang takjub, bahagia dan heran. Ekspresi wajahnya sangat bisa dibaca. Mungkin, ia tidak menyangka bahwa Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim yang tak sama dengan negara-nagara Arab.  So, selama ini dia belum pernah liburan ke Bali, Lombok dan Raja Ampat? ya ampun, kemana aja? 
 
Video pembukaan dari Mizan tentang buku 'Compassion' dan gerakan Welas Asih yang piagamnya bisa ditandatangani setiap orang. Ups! Ada pemandangan unik, hehehe...

 Karen's words. Gak bisa lama-lama merekamnya, tanganku pegel....

Nah, untuk mendapatkan tandatangannya, aku membeli 6 buah bukunya yang hak terbitnya di Indonesia di pegang Mizan. Sebelumnya, untuk pertama kalinya aku mengenal dan membaca bukunya 'Sejarah Tuhan'. Lumayan, dapat harga penerbit. Rp. 400.000 untuk 6 buku yang tebal dan keren. Buku termahal, Rp. 90.000 tetap milik 'Sejarah Tuhan' dan 'The Meassage of Compassion' ini merupakan buku dengan bandrol termurah. Rp. 30.000 saja. Tapi kalau sudah masuk toko buku besar semacam Gramedia, ya siap-siap saja menguras beberapa puluh ribu lebih mahal.
Tanda tangan Karen di buku The Great Transformation, buku yang bercerita tentang perubahan dalam hidupnya dan latar belakang penulisan buku Sejarah Tuhan
Nah, peserta Public Lecture ini bukan hanya mahasiswa. Tapi ada juga ekspatriat, orang-orang top, penulis, hingga Taufik Ismail. Bahkan, secara khusus Taufik Ismail membacakan sebuah sajak khusus untuk Karen yang bertema tentang perdamaian alam semesta dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang kemudian dihadiahkan kepada Karen.

 
 

Aku dan temanku sangat berharap untuk bisa berphoto dengan Karen. Kesempatan langka kan bertemu dengan penulis ciamik kelas dunia. Tapi, tak ada photo session. Entah karena Karen capek, atau karena menghindari terhambatnya waktu untuk kegiatan Karen yang lain, yang pasti tak seorangpun diantara peserta yang dapat berphoto dengan Karen. Sayang sekali. Jadi, setiap peserta yang pede buat narsis seperti aku dan temanku dan beberapa peserta lain, berphoto dari jarak 1 meter dari posisi Karen duduk dan melakukan book signing, dengan aneka gaya, yang penting kami dapat wajah Karen. Setiap orang dibatasi hanya boleh membawa dua buku untuk ditandatangan. So, karena aku punya enam buku, jadi 3 buku yang lain kutitipkan ke temanku dan adiknya. Tujuan mereka sih supaya bisa diphoto pas buku itu ditandatangani. Nah, pas antrian yang mengular itu habis. Temanku melihat peluang dan mendorongku untuk maju minta tandatangan buku ke-6, dan mereka berhasil memotrektu dan Karen yang menandatangani bukuku. Kocak habis. 
Public Lecture tersebut diselenggarakan atas kerjasama penerbit Mizan dan program studi Islam Universitas Paramadina. Oleh karena itu, Karen pun bicara tentang konsep welas asih yang berdasarkan atas pemahamannya atas ajaran Al-Qur'an. So, ia mengajak kita semua untuk kembali menghidupkan the golden rule, yang dalam Islam dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Aku berjanji akan membaca semua buku yang kubeli, dan akan kubagi pemahamanku mengenai buku-buku dan ide Karen di blog ini di tulisan-tulisan selanjutnya...
Charter for Compassion 
Buku Compassion ini bukan sekadar sebuah buku, melainkan melahirkan gerakan Welas Asih internasional. Setiap orang di seluruh dunia, yang mencoba ingin membangun sifat welas asih dirinya, berdasarkan konsep universal atau ajaran agamanya masing-masing bisa menandatangani piagamnya di  Charter for Compassion. Buku ini memberikan 12 langkah yang bisa dilakukan siapapun di seluruh dunia dalam upaya menjadi pribadi welas asih dan menjasi bagian dari masyarakat dunia dalam menghidupkan kembali the golden rule. Jika tertarik, kita bisa masuk ke alamat webnya, kemudian "sign the charter"

Depok, 16 Juni 2013
Semua photo dalam tulisan ini karya Julia dan Rahmi, kecuali photo tandatangan Karen. 

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Karen Armstrong? Yang ngaku sebagai Monotheistic Freelance bukan?

    ReplyDelete
  2. Entahlah, aku belum banyak baca tentang latar belakang dia. Tapi cukup berterima kasih atas buku-bukunya yang bikin kening berkerut dan semangat untuk terus belajar.

    Trims udah baca tulisanku :)

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram