Thesis: Next Step


Cerita tentang kemarin.
Selama seminggu aku ngambek. Aku kesal karena pembimbing Tesisku pergi ke Medan. Padahal menurutku waktu seminggu itu cukup untukku mengurus keperluan untuk seminar. Aku kalang kabut dan panik. Seminggu itu waku yang sangat berharga untuk mahasiswa level akhir yang sedang mengerjakan Tesis sepertiku. Oke, mungkin aku harus istirahat. Aku mengirim imel dan mengatakan bahwa, ya meminta pertimbangan lah ya, supaya aku segera seminar proposal. Ya, berprasangka baik saja. Well, akhirnya aku diminta bertemu pada selasa 21 Mei.


Aku datang dengan membawa print out proposal Tesisku, dan sebagaimana biasa, yang dikomen hanya sedikit. Sebel! Karena si bapak belum siap. Beberapa hal harus dikoreksi. Ya sudah, akhirnya aku mendapat restu untuk mengurus seminar. Nah, 2 minggu alias 14 hari kan jadinya. 


Dari sudut pandangku, si bapak,  yang udah sering membimbing Tesis dan seorang dosen yang professional, hanya perlu membalas imeku saja untuk perbaikan yang hanya sedikit itu minggu lalu, hanya perlu beberapa jam. Kenapa harus menunggu lebih dari 7 hari dan menjadi 9 hari pada pertemuan 21 Mei, yang akhirnya terbuang sia-sia. Kenapa hal-hal seperti itu dibuat sulit? Ah!!!!

Jika tanggal 14 Juni -warning, dengan asap mengepul seperti dari cerobong pabrik, dari pihak jurusan- adalah hari terakhir menyerahkan draft final untuk sidang, dan minggu keempat Mei aku baru seminar, bisa dibayangkan betapa akan terburu-burunya aku mengumpulkan data di lapangan. Nggak kebayang pokoknya gimana rusuhnya aku melihat waktu yang sangat sempit ini saat di lapangan. Belum analisa data dan bimbingan via imel. Mo nangis, tapi buat apa. Toh masih 20 hari kedepan. Nangisnya mungkin ya di hari ke 20 itu. Ya, semoga saja aku bisa memperoleh perpanjangan waktu hingga beberapa waktu sebelum limit sidang Thesis pada tanggal 28 Juni. Oh, tetap saja terlalu singkat.

Mari belajar dari kasusku
Aku mendapat imel balasan dari pembimbingku beberapa jam sebelum aku bimbingan kemarin, intinya beliau mengatakan bahwa keseriusanku dalam mengerjakan Tesis ini adalah kunci/ faktor internal, sedangkan peran beliau sebagai pembimbing hanyalah pembantu/ faktor eskternal. Sebentar, apakah beliau menilai aku tidak serius? 

Jika proses pengerjaan Tesis diibaratkan sebagai lingkaran, anggaplah ada dua lingkaran. Lingkaran dalam/ inti adalah aku dan lingkaran kedua adalah pembimbingku. Bukankah posisi keduanya saling mempengaruhi? Betapapun serius aku, tetapi jika pembimbingku butuh waktu 9 hari untuk membalas imel yang hanya ia perlukan dalam beberapa jam saja diantara kesibukannya, maka ia akan melihat sedalam apa keseriusanku. Sebab, setiap proses yang kujalani selalu berdasarkan atas koreksi-koreksi yang beliau berikan, bukan atas kemauanku sendiri. Nah, bukankah kadangkala aku harus menunggu seberapa serius beliau untuk melanjutkan proses?

Kenapa gak protes? ya aku ingin protes dan membalas imel tidak sopan seorang pembimbing pada siswa bimbingannya. Tetapi, aku tidak ingin protesku dimaknai sebagai bentuk ketidaksopanan seorang siswa atas pembimbingnya. Dunia akademik negeri ini tidaklah sama dengan dunia akademik di negara Barat sana, dimana siswa bebas mengoreksi dosennya. Jadi ingat, bahwa: pasal 1' guru tidak pernah salah', dan pasal 2 'kalau guru salah, kembali ke pasal 1'. Jadi, imel permohonanku pada pembimbingku yang dibalas dengan teks tersebut bermakna bahwa aku, si siswa, yang salah karena tidak serius. 

Membaca tulisan itu aku jadi ingat bagaimana aku berjuang selama beberapa bulan untuk berperang dengan diriku sendiri, yang mengalami, ah, apa harus kuceritakan pada publik? dimana aku berjuang sendirian tak berani untuk, bahkan, bicara dengan pembimbing akademikku. Aku berjuang, bangun dan berproses meski seakan-akan aku adalah sesosok tubuh yang tidak memiliki tulang untuk menegakkan tubuhnya. Lalu, aku bangkit, kadang tak tidur semalam suntuk untuk mencerna bahan-bahan berbahasa asing yang ditulis dengan konteks asing, bukan konteks masyarakatku. Semua rasa sakit itu, sekarang aku harus melihatnya sebagai proses bermain-main dan menyia-nyiakan waktu. Itu sudut pandang pembimbingku. Sudut pandang kami berseberangan. Itu realitasnya. 

Aku yakin bahwa, tidak seorang mahasiswa pun, yang tengah berada di level akhir masa studinya, yang main-main dengan studinya. Jujur, aku merasa dituding sebagai siswa yang tidak serius. Nangis? oh, nggak. Imel balasan itu hanya serupa cubitan kecil, meski cubitan itu meninggalkan bekas. Yo wes lah, sing penting aku tetep bisa melangkah dalam proses panjang dan melelahkan ini. 
  
So?
Now, the best thing yang harus aku lakukan adalah memperbaiki proposalku dan mengurus seminar. Hanya itu.  

Then?
Pembuktian. Jelas pembuktian diperlukan sebagai bentuk protes, tanpa perlu berteriak kencang atau mengajukan gugatan akademis. Aku serius. Aku siswa anda yang paling baik diantara siswa yang lain. Lihatlah hasilnya. Lihatlah karyaku. Akulah siswa anda yang berani menerjunkan diri untuk menjadi peneliti di tanah yang terbakar itu.....

Depok, 22 Mei 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram