Thesis: Gara-Gara Proposal



Cerita tentang hari ini, kemarin dan kemarinnya lagi...
Hari ini, 
Siang tadi aku terbangun dari tidur siangku karena sebuah SMS dari seorang teman. Kami bertemu di kampus, di Takor. Ternyata dia berencana mentraktir aku dan beberapa teman. Berangkatlah kami ke Roti Bakar Eddy yang ternyata sudah pindah ke Depok *meski sempat berangkat ke Lenteng Agung*, tepat didepan Gramedia Depok. Nah, setelah puas makan-minum dan ketawa-ketiwi, aku dan dua temanku May dan Vonik pulang. Di angkot, aku dapat SMS dari pihak jurusan kalau jadwalku untuk seminar proposal adalah Selasa, 28 Mei pukul 15.30 wib. Yuhu...eh, Alhamdulillah...

Kemarin
Sejak dini hari, alias begadang, aku mengerjakan perbaikan proposal seminarku, setelah bimbingan kemarin. Ada beberapa hal yang harus ditambah di bagian metode penelitian, kerangka pemikiran. Capek banget. Printerku rusak *aneh, nggak bisa print tulisan, padahal bisa print gambar* jadinya harus bolak-balik percetakan, karena beberapa rental komputer gak pake MS Word 2010.  Udah print bab 1 dan 2, aku masih harus stay di kosan, karena harus cek daftar pustaka, mana yang cocok dan mana yang harus dibuang atau ditambahi. Ini proses yang ribet dan lama banget. Hm, rasanya keluar asap dari kedua telinga dan tanduk tumbuh di kepala, hiyyyyy

Setelah sholat Ashar, aku kembali ke percetakan buat print, copy dan jilid. Hm, setelah cek satu-persatu masih aja ada yang salah dan keliru. Proses cek dan ricek ini, meski kelihatannya sepele, tapi biasanya hal-hal itu yang mengundang banyak komentar saat seminar dan berkemungkinan berpengaruh pada nilai. Pas Maghrib aku baru bisa keluar percetakan dengan membawa 4 jilid proposal Tesis dan 1 jilid Laporan Kajian Literatur. Dan, OMG! Hujan deras!!!!
Taksi. Dalam kondisi hujan aku hanya bisa ke kampus, untuk mengantarkan proposal Tesisku dan meminta tanda tangan pembimbingku *tumben pembimbingku masih di kampus, biasanya jam 5 udah pulang klo nggak ngajar, hm, mungkin beliau nungguin aku yang emang bilang mo minta tanda tangan*, dengan taksi. Gak mungkin pake ojek, angkot, atau jalan kaki. Brrrr. Eh, dapat sopir taksi yang sok keberatan klo nganter ke kampus, tapi nganter juga, meski harus dengan kelebihan ongkos yang lumayan banyak karena katanya nggak punya kembalian. Itu modus apa emang nggak punya kembalian ya? apa semua duitnya berwarna merah? trus seharian bawa taksi ngapain aja tuh orang? ah, entahlah. Setelah turun dari taksi aku langsung lari ke jurusan. 

Pembimbingku baru memakai jaket dan mematikan komputernya saat aku datang dan menyerahkan 3 jilid proposal yang harus ditandatanganinya. Setelah itu beliau pulang. Nah, pas aku lagi motret proposalku, ada suara kursi jatuh di lantai atas, padahal kan udah nggak ada yang kuliah dan lantai atas udah gelap. Kata mas Tinton, yang emang kerjanya siang-malam, ada penunggunya *entah siapa penunggunya, tapi katanya sesuatu yang bisa menjatuhkan atau menggeser beban berat melebihi yang bisa dijatuhkan atau digeser tikus*. Bisa aja sih ada sesuatu, tahun lalu, pas aku selalu ke lantai atas untuk kuliah selama 2 semester, suasana di lantai atas memang lain, apalagi toiletnya, seremmmmmm...

Nah, aku pulang, beli makan malam, shalat Maghrib, makan, trus Isya, trus tidur. Capek bangetttttt, sampe gak sempat nulis di blog. 

Kemarinnya lagi...
Minggu lalu,  aku dapat SMS dari pembimbingku untuk ketemuan pada Selasa, 21 Mei, buat melihat poin mana saja yang sudah bagus dan yang harus kuperbaiki. Nah, pas ketemuan kemarinnya lagi itu, beliau hanya komentar tentang: 1) beberapa hal tentang bagian metode penelitian, 2) harus mencantumkan nomor halaman pada bagan kerangka pemikiran, 3) beberapa hal teknis terkait aturan penulisan, *yang udah pasti referensinya ke pedoman penulisan dari UI*. Udah gitu aja. Trus beliau bilang aku bisa mengajukan untuk seminar kalau udah selesai perbaikan tiga poin itu.  

Gara-gara itu, selama dua hari dua malam aku nggak kemana-mana dan nggak masak heboh sebagaimana biasanya dan fokus pada proposal Tesisku. Kerjaanku hanya duduk di depan komputer, bolak-balik baca proposalku, baca bahan-bahan dan mikir berat *apa?, gimana?, kenapa?, lalu?*. Pola tidurku yang sebelumnya sudah balik ke normal, kembali ke gaya kalong. Agak susah untuk tidur cepat di kosan yang ramai. 
Di kosanku ini, yang jumlahnya 22 kamar, ada beberapa penghuni yang aktif banget di malam hari. Selama beberapa hari ini aku berusah tidur cepat agar bisa bangun dini hari. Tapi, nggak bisa. Alasannya sepele, keributan tetangga. Misal, anak-anak di kamar sebelah kiri lagi ketawa-ketiwi, entah karena apa. Anak-anak yang ngumpul di kamar sebelah kanan, lagi ngobrolin sesuatu dengan suara keras. Nah, ada beberapa anak di kamar ujung kanan, yang nanyi-nyanyi keras-keras, trus ketawa-keras-keras, trus ada yang lari sana lari sini. Ah, pokoknya ribut banget. Gara-gara itu aku kebangun dari tidur yang baru 10 menit seakan-akan aku jatuh dari tangga. Ah....

Balik lagi ke Hari ini...
Hm, aku bisa lulus semester ini nggak ya? Kalau aku seminar 28 Mei, trus baru turun lapangan 1 Juni karena harus melakukan beberapa perbaikan setelah seminar, aku hanya punya waktu 14 hari untuk mengumpulkan, dan menganalisa data, trus nulis laporan untuk jadi draft siap uji, dengan jadwal ujian paling lambat 28 Juni. Sangat tidak mungkin! nggak bisa ngebayangin gimana akan hancur badanku untuk mengerjakan semua itu dalam waktu 14 hari. Kelak, teman-teman yang melihatku akan bilang dengan mata melotot dna mulut menganga, "Ya ampun Ikaaaaa, kamu kurus banget sih?!!!!" seperti komentar mereka hari ini.

Nah, kalau misalnya, aku tidak bisa ujian pada 28 Juni, alhasil aku nggak bisa wisuda Agustus dong. Nah, kalau misalnya Tesisku selesai bulan Agustus, dan udah masuk perpustakaan, dan aku sudah dinyatakan lullus, aku tetap harus mendaftar untuk semester selanjutnya. Gila, bayar Rp. 8.5 juta cuma buat nunggu waktu dapat Ijazah dan daftar Wisuda. Oh, itu mah kayak buang-buang uang. Gimana ya? nggak suka banget dengan kebijakan ini, sure. Emangnya aku AF yang suka bagi-bagi uang sama orang? hm...

Gara-gara proposal...
Kebiasaan duduk di depan komputer, ternyata bikin beberapa hal yang membuatku pasang muka cemberut saat menghadap ke cermin besar di kosanku, di dekat tangga, benda favorit di kosan ini. 

  1. Aku merasa pundakku tak lagi tegap, alias sedikit bungkuk. Hm, harus segera ke tukang urut dan rajin olahraga, masa iya masih muda udah bungkuk kayak manula 
  2. Capek. Karena sejak Januari aku melulu di kosan, aku jadi mudah capek dan ngantuk kalau pulang hangout sama teman-temanku. Alasannya ya jelas, mengerjakan Tesis. Ake ke luar kamar paling buat beli makanan, jemur-angkat pakaian, ke kampus buat bimbingan. Sisanya stuck di kamar. Jarang banget buat jalan-jalan, atau sekedar makan di warteg. Di jaman canggih begini ada yang banyak hal yang bisa dilakukan sendirian disela-sela kebosanan mengerjakan Tesis. Ada banyak film gratis di berbagai website, yang bisa jadi hiburan tanpa harus ke bioskop. Bisa baca banyak ebook atau buku-buku yang belum kubaca, dll dll dll.
  3. Homesick. Lama nggak pulang ke rumah itu bikin dunia jadi asing, hm, meski awal Juni udah bisa ke Lampung, buat Turlap, belum tentu juga bisa mampir ke rumah, secara arahnya berlawanan. Aku datang dari Timur untuk ke Utara, sedangkan keluargaku ada di barat. Hiks...

Well, menjadi mahasiswa itu bukan pekerjaan mudah dan menyenangkan. Meski demikian, aku tetap bersyukur jika melihat mereka yang tidak mendapatkan kesempatan yang sedang kunikmati ini. Jadi, meski sakit, sedih, kesal dan homesick, aku tetap bersyukur, alhamdulillah  :)

Depok, 24 Mei 2013 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram