RECIPE: Martabak Mie dan Kisah Kehidupan

Ini adalah photo 'Martabak Mie' yang kubuat pada malam 12 Mei lalu. Maklum, aku lagi suka narsis dan cari perhatian investor dengan memotret masakan yang kubuat sendiri.
Hm, setiap tahun, di tanggal ini, aku selalu menyempatkan diri untuk diam dan mengingat masa lalu. Ada hal-hal yang sepanjang hidup ingin kukenang, kulupakan atau kuperbaiki. Hal-hal itu saling berkejaran dalam benakku, bahkan dalam mimpi-mimpiku. Tua. Ya aku memang merambat menjadi tua dalam hitungan usia dan biologis tentunya. Tetapi, aku masih seperti anak kecil, yang merindukan sesuatu yang paling diinginkan dalam hidupnya. Anak kecil yang menunggu, yang memelihara kesetiaannya dalam menunggu, dan terus memelihara keyakinan bahwa yang ditunggu akan datang. Haruskan kuberi tahu apa atau siapa yang kutunggu sepanjang hidupku? Ah, tak perlu...

Seperti apa rasanya menunggu?
Hm, setiap orang yang memiliki pengalaman menunggu tahu rasa yang berkecamuk didalam dadaku. Tetapi, mungkin perbedaannya terletak pada berapa lama menunggu, apa atau siapa yang ditunggu dan seberapa penting 'nilai' yang ditunggu. Dan, selama masa menunggu segala sesuatu bisa terjadi. Di tanggal ini, aku tidak terlalu peduli orang akan mengingatnya atau tidak, memberiku ucapan selama dan do'a atau tidak, sebab bagiku sampai di tanggal ini setiap tahun seperti sampai di terminal kosong dan aku kembali harus menunggu. Tetapi, menunggu bukan berarti diam seperti air yang menggenang. Menunggu adalah proses setia, namun aku terus beraktifitas sebagaimana biasanya. Menunggu adalah proses percaya, sembari terus memenuhi kepala dengan impian-impian dan buku-buku dengan tulisan-tulisan. Sebab, jika aku tidak menunggu apa yang kuinginkan, maka aku tidak punya energi untuk bergerak dan aku akan mati. 

Yang dikenang
 27 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Sehingga, ada begitu banyak keping bahagia yang harus dikenang. Disimpan layaknya tabungan, agar dapat digunakan sebagai kapital untuk terus melanjutkan hidup. Begitu banyak sahabat yang mencintai, selain keluarga tentunya. Kasih sayang mereka, yang dirajut bersama waktu, menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku. Mereka adalah bagian dari angin yang terus meniup api semangat dalam jiwaku. Bersama mereka, dengan aneka bentuk interaksi dan komunikasi, aku menjadi makhluk sosial yang tidak kesepian. Dengan demikian aku merasa berarti, disayangi, dipikirkan dan diperhatikan.


Yang dibuang

27 tahun juga bukan waktu yang singkat untuk berada dalam kekangan mimpi buruk, keinginan yang tidak terpenuhi atau hal-hal sepele yang semakin hari semakin membesar layaknya balon. Hal- hal buruk, manakutkan, mengecewakan dan menyedihkan tentunya harus segera dilupakan, dibuang dan dilenyapkan. Hidup di zaman ini terlalu berat untuk terus dibuntuti hal-hal buruk layaknya benalu di pohon teh. Tetapi, karena kenangan layaknya file dalam suatu ruang didalam waktu yang telah kulampaui. Ada hal-hal yang secara mengejutkan tiba-tiba muncul seperti film kuno yang membuat tidur dihiasi mimpi buruk. Atau kejadian-kejadian sehari-hari yang dihiasi berita-berita buruk yang turut menekan jiwa. Semua itu harus dibuang. Hati dan ingatan harus dibersihkan sebagaimana aku membersihkan pakaianku dari debu. Hati dan pikiran harus senantiasa dibersihkan, agar ia bisa menjalani tugasnya sebagai manusia paripurna. 

Yang dipertahankan
Sepanjang 27 tahun juga terdapat keinginan-keinginan, mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang harus terus dipertahankan dan dipupuk. Misalnya, aku ingin jadi penulis. Tentu saja aku harus berlatih menulis terus menerus, memperkaya bacaan dan berusaha percaya diri untuk segera mengirimkan karya pada penerbit. Mengirimkan tulisan lalu ditolak juga bagian dari proses. Menjadi penulis tentu harus memenuhi kriteria 'layak dan bermutu'. Tahun-tahun telah berlalu, dan belum ada hasil yang bisa kubagi pada publik bernama 'buku' atau 'novel'. Aku tetap yakin bahwa aku bisa. Dan menikmati proses panjang ini adalah bagian dari menunggu. Oleh karena itu aku terus berlatih. 

Aku juga ingin keliling Indonesia. Jelas saja ini belum kesampaian, karena belum ada kesempatan dan dana. Tapi, karena selama 3 tahun belakangan ini aku memiliki banyak teman baru dari seluruh Indonesia, aku yakin suatu saat aku bisa mewujudkan impian ini. Nah, impian-impian serupa ini lah yang harus dipertahankan, dipupuk dan dijaga baranya agar tidak padam. Bagian ini, yang akan menjadi bagian terbesar dari masa depan yang kutuju. Wallahi, 5 menit kedepan aku memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tetapi, bermimpi dan berproses mewujudkannya adalah bagian dari keyakinan bahwa menunggu bukan sebuah kegiatan omong kosong dan buang-buang energi. Ya, begitulah aku.

Maka, hari ini aku mengaminkan do'a dan dukungan dari teman-temanku. Semoga semuanya atau sebagiannya dikabulkan, entah dalam waktu dekat atau tahun-tahun setelahnya. Aku selalu percaya, bahwa hidup yang kujalani, sebagiannya merupakan kontribusi kolektif dari orang-orang yang mendukungku dan mendo'akanku karena mereka menyayangiku.


Depok, 13 Mei 2013

-finally, 28-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram