Buku: Sebuah Investasi Jangka Panjang



Buku-buku ini masih di kamarku di Depok, bulan Juni akan berpindah ke Lampung Barat dan mendapat banyak penggemar baru disana, insya Allah...
Sejak kecil aku selalu tertarik dengan buku. Meski tak ada tradisi mendongeng atau membaca buku bersama di keluargaku, aku tetap tertarik pada buku. Aku selalu membaca setiap bacaan yang sampai di mataku, entah koran pembungkus sayuran, buku-buku pelajaran sepupu-sepupuku, atau tulisan di spanduk-spanduk yang melintang di jalan-jalan di desaku. Saat aku remaja, seingatku ketika aku duduk di bangku SMP, aku menemukan tumpukan buku-buku usang milik bibiku yang sudah meninggal, yang sempat sekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Buku-buku yang kertasnya sudah menguning, berdebu, dan dimakan rayap itu membuat hatiku senang saat menemukannya. Berhari-hari aku tenggelam membaca buku-buku itu meski aku tidak terlalu paham apa isinya. Aku seperti menemukan dunia baru dan teman bicara. 

Aku menyimpan buku-buku tersebut bersama buku-buku yang kubeli. Suatu hari, saat aku duduk di bangku SMU, salah seorang tetanggaku yang merupakan guru bahasa Inggrisku saat SMP berniat membentuk perpustakaan yang dikelola remaja masjid. Karena aku memiliki niat baik dalam rangka mencerdaskan pemuda desa, aku sumbangkan koleksi buku-bukuku. Tak sampai sebulan, semua buku habis, tak pernah dikembalikan oleh para peminjam.  Aku ingat, waktu itu aku baru saja memperoleh novel karangan Pipit Senja dan Gola Gong setelah mengumpulkan uang jajanku selama berbulan-bulan. Sebelllllllll!!!! 

Nah, sejak saat itu aku benar-benar kapok berhati polos. Aku mulai mengoleksi buku-bukuku, membuat catatan termasuk harga buku-buku, dan menandai semua bukuku dengan namaku. Dalam masyarakat seperti ini, aku tak rela jerih payahku menguap begitu saja. Aku menaruh perhatian penuh pada buku-buku yang dipinjam teman-temanku, agar tak lupa dikembalikan. Bukan apa-apa, aku punya banyak sepupu yang menurutku membutuhkan buku-buku tersebut. Di desaku mereka hanya bisa membaca buku dari perpustakaan sekolah. Tak ada toko buku, apalagi perpustakaan publik. Oleh karena itu, aku mulai membuat perencanaan agar saudara dan teman-temanku membaca buku-buku yang pernah kubaca, tanpa harus kau kehilangan buku-buku yang kuperoleh dengan susah payah. Aku mau, aku mewariskan pengetahuan melalui buku-buku pada generasi penerus keluargaku. Kupikir, itu warisan terbaik. 

Kurang lebih dua tahun lalu, saat aku harus ke Jakarta untuk melajutkan sekolahku setelah resmi mendapat beasiswa IFP, aku menitipkan buku-bukuku pada seorang teman yang memiliki ide sama denganku terkait buku. Tetapi, tidak banyak anak muda yang datang ke rumahnya untuk sekedar membaca buku. Karena itu, aku berniat memperbaharui caraku dengan membangun perpustakaan keluarga sebelum aku membangun perpustakaan komunitas. Aku berniat menjadikan salah seorang sepupuku yang saat ini masih duduk di kelas 6 SD untuk mengelolanya bersama adikku. Sedangkan, untuk perpustakaan komunitas, aku mencoba menggunakan cara lain untuk membangun minat teman-teman sekolahku. 

Aku selalu ingat kisah peradaan Islam dimasa lampau, dimana kegemilangan itu berhias perpustakaan-perpustakaan kecil. Kini, telah berabad-abad lamanya, kegemilangan itu, bukan saja hancur oleh invasi asing, juga oleh kebobrokan moral yang berlanjut hingga saat ini. Aku juga ingat kata-kata inspirasi, bahwa pendidikan adalah tugas orang terdidik. Dengan level pendidikan yang sekarang kucapai, sangat kurang ajar jika aku hanya menggunakannya untuk memajukan karirku sendiri, dan lupa pada orang-orang dimana aku dahulu tumbuh sebagai anak kecil yang haus pengetahuan. Jika dulu tak ada yang memberiku sarana untuk mengobati dahagaku akan bacaan-bacaan bermutu, maka kini akulah yang harus menjadi penolong mereka. 

Aku menyebut langkah ini sebagai investasi, bukan pengorbanan. Memang, uang yang dibelanjakan itu nampak sebagai kegiatan berkorban, tetapi aku menghitungnya sebagai investasi. Aku ingin berbagi pada sepupu-sepupuku tentang pengetahuan yang kumiliki, tentang ide-ide yang bersemayan dikepalaku, tentang belahan dunia yang ingin kukunjungi dan tentang cita-cita yang tak kuraih, yang mungkin bisa mereka raih. Aku bermimpi tentang mereka di 20 tahun mendatang, saat aku mungkin telah berusia nyaris 50 dan tidak mungkin berkeliling dunia. Aku ingin melihat mimpi-mimpiku terwujud dalam masa depan mereka. Aku percaya, setiap keinginan akan menjadi kenyataan. Tuhanlah yang kelak akan memberi jawaban, melalui apa dan siapa keinginna itu terwujud. Bismillah...

Depok, 28 Mei 2013
-gerimis-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram