Ben dan Juwita # 22



Kekasih dari Negeri Seberang

Ben, apa kamu dengar merdu semilir angin dari arah barat?
Ya, disana ada sebuah pohon berdaun rindang
Pohon berwarna perak seperti pohon palsu
Pohon itu berdaun kuning kemerahan, seperti daun Mapel tua
tetapi bukan, tak ada pohon Mapel dinegeri kita
Dibawah pohon itu duduk dua orang sahabat

Lama tak bertemu, mereka bercerita tentang
pengalaman mencintai
Kadangkala, aku tak butuh satupun alasan untuk mencintai
Tetapi, aku butuh seribu alasan untuk merayakan cinta, 
kata seorang diantara mereka
Ya, cinta memang urusan hati
Tapi, perayaan agung itu urusan logika, bukan?
tanya seorang lainnya.
Angin semilir membisikkan aroma bunga-bunga liar
Warnanya kuning, seumpama anak-anak matahari

Aku tidak lagi percaya bahwa cinta itu universal,
Lihat cincin matahari di jari manisku ini
Ibuku bilang, untuk masuk surga aku hanya butuh restunya
Cinta yang kucari setengah mati, hingga ke negeri seberang
Meski sudah bertemu, nyatanya
harus bertekuk lutut dibawah kaki ibuku dan ibunya 
Kata seorang diantara mereka, tersenyum tipis  

Lalu, kita hanya bisa berandai-andai
Bahwa cinta dari negeri seberang akan datang
Menjemput kita dari pelukan ibu, bukan?
Kata seorang lainnya, sambil menciumi bunga kuning itu

Mereka tertawa bersama, Ben
Apalah daya, kekasih yang ditunggu
Yang mungkin datang dari negeri seberang
Tak akan mampu meluluhkan hati ibu
Yang memiliki anak-anaknya di rahimnya
Ibunya bilang, 
"Nak, kekasihmu itu tak sebaik pilihan hatiku"

Depok, 7 Mei 2013  
-kisah seorang teman-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram