KETIKA PETANI MELAWAN KETIDAKADILAN

13624744141622407082
Petani dari Kabupaten Ogan Ilir dan aktivis WALHI  Sumatera Selatan yang berunjuk rasa dan menuntut dibebaskannya 12 petani yang ditangkap Polres  Ogan Ilir (sumber: republika.or.id)
Pasca kasus Mesuji yang menghebohkan dunia, api kembali membara di tanah Sumatera. Beberapa media melansir bahwa pada 29 Januari 2013 lalu, sebanyak 25 aktivis petani, termasuk Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Selatan bersama beberapa staff-nya ditangkap aparat polda Ogan Ilir. Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi bahkan menyebakan luka di kepala Anwar Sadat, luka sekujur tubuh Dedek Chaniago dan beberapa aktivis. ‘Sudah jatuh tertimpa tangga pula’, begitulah keadaan yang menimpa para aktivis tersebut ketika mereka kemudian ditahan dalam kondisi terluka di sekujur tubuh. Apa pasal sampai mereka harus ditangkap, ditahan, dan harus menjalani persidangan?

Awal dari konflik berdarah ini adalah ketimpangan distribusi tanah. Dalam catatan WALHI Sumsel, sebanyak 56% tanah di sumsel atau seluas 4.9 juta ha dari luas keseluruhan 8.7 juta ha dikuasai perusahaan. Rinciannya adalah 1.2 juta ha adalah areal Hutan Tanaman Industri (HTI), 1 juta ha adalah perkebunan sawit dan 2.7 ha sisanya adalah areal pertambangan batubara. Maka jumlah penduduk Sumsel sebanyak 7 juta jiwa hanya bisa mengelola tanah seluas 3.8 juta ha, dan hanya 0.5 ha saja per orang jika dirata-rata. Faktanya, tidak semua orang memiliki tanah. Ada sebagian orang memiliki tanah berhektar-hektar, sementara yang lainnya harus puas hanya dengan menjadi buruh di perkebunan. Ketimpangan distribusi lahan ini menyebabkan sering terjadinya konflik tanah. Aduan soal konflik tanah yang masuk ke WALHI sumsel adalah 20 kasus pada 2010, 27 kasus pada 2011 dan 32 kasus pada 2012. Padahal, terdapat 143 ha tidur di 60 lokasi yang seyogyanya bisa didistribusikan untuk meredam konflik. 

13624902001177135552
Anwar Sadat saat diamankan aparat (sumber: antaranews.com)

Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa aksi unjuk rasa yang diikuti oleh 500 peserta tersebut merupakan aksi yang menuntut agar: 1) Kapolda segera mencopot Kapolres Ogan Ilir, AKBP Denni Dharmapala, yang dianggap penanggung jawab utama di lapangan dalam tragedi berdarah 27 Juli 2012 di Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir yang menyebabkan meninggalnya Angga bin Dharmawan (13), teramputasinya lengan kanan Rusman (36), dan beberapa warga lainnya juga mengalami luka tembak, puluhan orang dikriminalisasi, serta hampir banyak rakyat mengalami traumatik yang dalam hingga saat ini; 2) Mendesak Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir untuk segera membebaskan tanpa syarat warga dan aktivis yang ditangkap tanpa syarat yang bernama Damiri (32); 3) Dikembalikannya tanah-tanah rakyat yang telah dirampas oleh PTPN VII Cinta Manis; dan 4) Secara mutlak dihentikannya turut campur Polri/TNI dalam konflik agraria. Namun, beberapa jam kemudian terjadi bentrok antara massa dan polisi. Kronologi lengkapnya bisa dibaca di : WALHI Sumsel.
1362485634410982100
Peta ini berbicara bahwa negara lebih suka  rakyatnya menjadi buruh 
(sumber: www.pu.go.id)
Dalam sidang perdana di PN Palembang pada 27 Februari lalu, Anwar Sadat dinyatakan sebagai terdakwa karena dianggap sebagai ‘otak dan perancang’ aksi unjuk rasa di depan kantor Mapolda Ogan Ilir. Ia juga dijerat pasal 170 KUHP (tentang pengrusakan) dan 160 KUHP (tentang penghasutan). Dalam sidang perdana tersebut, Anwar Sadat masih dalam kondisi berdarah-darah dan ruangan sidang dijaga ketat aparat bersenjata api, yang secara hukum juga melanggar pasal 143 KUHP. Semetara itu tim kuasa hukum Anwar Sadat dkk yang mengajukan permohonan sidang praperadilan meyakini bahwa Penyidik Polda Sumsel melanggar beberapa pasal dalam KUHAP diantaranya pasal 17, pasal 18 ayat (2) dan pasal 75 KUHAP. Dalam gugatannya, Anwar Sadat menuntut Polda Sumsel melakukan pembatalan proses hukum dan memberikan ganti rugi sebesar Rp. 1 sebagai simbol bahwa keadilan tak bisa dibeli dengan uang. 

Di Indonesia, kriminalisasi terhadap aktivis petani, gerakan lingkungan hidup dan HAM bukanlah perkara baru. Kriminalisasi terhadap Anwar Sadat dkk hanyalah bentuk teranyar dari sikap arogan negara dalam menangani berbagai gejolak sosial yang sesuangguhnya berakar dari ketidakadilan yang diciptakan negara sendiri. Distribusi dan pengelolaan tanah yang timpang karena mencomot sistem raja-raja di zaman feodal dan kolonial Belanda, menjadikan negara sebagai ‘penjajah’ di rumahnya sendiri. Adalah wajar bahkan wajib jika rakyat melawan, sebab tanah adalah tempat hidup. Hak rakyat atas distribusi tanah yang adil dijamin secara tegas dalam UUD 1945. 

Pembaca, tulisan ini bersumber pada beberapa berita di media cetak yang keabsahannya ditolak oleh WALHI Sumsel sendiri. Seorang aktivis WALHI Sumsel memberikan  informasi yang sebenarnya mengenai aksi yang terjadi pada anggal 29 Januari 2013 lalu. Secara tegas WALHI Sumsel menolak pemberitaan mengenai terjadinya bentrok antara pengunjuk rasa dan aparat yang menyebabkan ditangkapnya Anwar Sadat dkk. 

Inilah kejadian sebenarnya (berdasarkan dokumen WALHI Sumsel):

Pada pukul 12.3o WIB, pengunjuk rasa yang terdiri dari aktivis WALHI Sumsel, aktivis perempuan, aktivis serikat petani Indonesia, petani yang tergabung dalam Serikat petani sriwijaya, dan aktivis Sarekat Hijau Indonesia yang berjumlah sekitar 300 orang tiba di Simpang Polda Sumsel. Dipimpin Dedek Caniago, massa yang berada dalam barisna tali rapia melakukan long march ke lepangan Polda Sumsel. Pukul 13.00 WIB, massa tiba di depan gerbang Polda Sumsel, dan pimpinan aksi dan peserta melakukan orasi secara bergantian diatas mobil menggunakan pengeras suara. Sepuluh menit kemudian, Humas Polda Sumsel, Jarod Padakova, mendekati pengunjuk rasa dan meminta berbicara dengan massa. Tapi, massa menolak karena mereka ingin pejabat Polda yang berbicara langsung pada mereka. Saat itu pagar Polda terbuka sekitar 1.5 meter. 

Pukul 13.24 Wib Humas Polda meninggalkan massa aksi dan masuk kembali ke dalam pagar Polda, di jalan terlihat Humas berbincang dengan salah seorang aparat polisi yang menggunakan pakaian hitam membawa Toa. Tak lama kemudian seluruh polisi berseragam masuk ke dalam pagar gerbang polda sedangkan polisi lainnya yang tidak menggunakan seragam tampak masih berkeliaran di seputar massa aksi. (saat itu pintu pagar ditutup kembali). Sementara massa melanjutkan orasi secara bergantian. Perlu diketahui bahwa hari itu polisi memakai dua jenis seragam pakaian, ada yang menggunakan seragam dan ada yang menggunakan pakaian hitam-putih. 

Tak lama kemudian, Kabid Humas Polda bergabung dengan massa dan berbicara diatas mobil komando didampingi Anwar Sadat dan Dedek Chaniago. Ia menyampaikan bahwa Polda mempersilakan masyarakat untuk melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan penangkapan 12 petani. Gerimis mulai turun saat itu dan ia melanjutkan. Ia menyampaikan agar jika massa memenuhi prosedur jika hendak melapor, misalnya mengenai tindakan polisi yang merusak mushola dan memukul massa pada aksi 25 Januari. Ia berjanji akan menerima pelapor di ruangannya. Anwar Sadat kemudian menanggapi bahwasanya WALHI dan masyarakat sudah melaporkan banyak kasus tapi tak pernah ada tindak lanjut, dan ia mengatakan bahwa jika massa peserta aksi ada yang hendka melapor sebaiknya tak perlu masuk ke ruangan. Cukup di lapangan pada hari itu sehingga disaksikan banyak orang, dan ia juga menyinggung soal polisi yang suka main tangkap tapi meminta masyarakat melapor sesuai prosedur yang membuat Kabid Humas Polda tempat aksi tanpa bicara apa-apa

Massa mulai berkurang karena berteduh di beberapa tempat dan hanya beberapa orang saja yang bertahan di depan Pagar Polda. Kemdian massa membaca QS. Yasiin bersama-sama. Sementara Anwar Sadat berada di jaak 6 meter dari gerbnag Polda, disamping pemimpin pembaca QS. Yasiin dan Dedek Caniago berada di trotoar, skeitar 8 meter dari gerbang. Setelah itu mereka shalat Ashar bersama yang lokasinya sejauh 4-5 meter dari gerbang Polda. Sebagian massa yang tidak ikut Sholat duduk-duduk di trotoar sembari berbincang diantara mereka. 

Pada 15.30 Wib hujan turun dengan derasnya hal ini membuat massa aksi banyak mencari tempat berteduh sedangkan polisi yang memaki pakaian bebas itam-putih dan lainnya serta polisi yang berpakaian seragam dan membawa perisai serta pentungan pun terlihat ikutan berteduh di bawah fly over jalan maupun yang masuk kedalam pos penjaga. Melihat kondisi tersebut Dedek Caniago sebagai koordinator aksi langsung mengatakan agar petani jangan takut kehujanan, biarkan polisi-polisi itu saja yang takut dengan hujan. Saat massa mulai bergerak ke sekitar mobil komando,  terlihat 3 orang memukul mukul pagar dengan bambu bendera. Hal ini membuat polisi yang duduk duduk di pos penjagaan kembali berdiri (Siapa mereka?). 

Melihat hal tersebut Anwar Sadat meminta massa agar menjauhi pagar dan berkumpul di dekat mobil. Namun, pukul 15.50 wib terlihat ada 3 orang kembali mengerak-gerakan pagar polda yang membuatnya roboh sekitar pukul 15.50 Wib. Saat itulah Polisi berdatangan dari segala arah menangkap dan memukul Anwar Sadat, Dedek Caniago dan puluhan petani lainnya. Pukulan terhadap anwar sadat oleh polisi ini membuat kepala anwar sadat mengeluarkan darah dan terlihat leher Anwar Sadat di jepit oleh salah seorang polisi berseragam yang diduga adalah kapolres. 

Rekayasa inilah (kita tidak tahu siapa yang merekayasa dan siapa identitas 3 orang yang merobohkan pagar) yang membuat seolah-olah massa bentrok dengan aparat, dan nyaris seluruh media memberitakan hal yang sama. Karena itulah, Anwar Sadat dan 25 aktivis lainnya ditangkap dan didakwa psalah berlapis. Jebakan? Mungkin!
 

Dukungan bagi Anwar Sadat dkk:
 
13624881641661274883
Unjuk rasa mahasiswa PGRI Sumsel menuntut pembebasan Anwar Sadat dkk
(sumber: palembang.tribunnews.com)
1362488634242106478
Ratusan petani dari Desa Bayat, Pulau Gading, Dawas,  Desa Telang, OI, OKI dan Muba yang tergabung  dalam Serikat Petani Sriwijaya (SPS) ini merangsek  ke Degung DPRD Sumsel guna menuntuk  dibebaskannya Anwar Sadat dkk  (sumber: palembang.tribunnews.com)
1362488906486503995
Dukungan kepada Anwar Sadat dkk dari aktivis  WALHI Jambi (Sumber: www.mongabay.co.id)
13624899561294981319
Dukungan terhadap pembebasan Anwar Sadat  dkk dari masyarakat dan WALHI Jawa Barat (Sumber: walhi-sumsel.blogspot.com)

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram