Cinta Seorang Asing # 3 (Tamat)


mrsblacksthisnthat.blogspot.com

(5)

Seluruh penghuni apartemen West Lawson sedang berkumpul dan menikmati Brazilian cake buatan Lukas di apartemen Patricia. Mereka juga berbincang mengenai kedua teman mereka yang sama-sama mengaku menyukai Nona Maple sejak hari pertama mereka bertemu. Mereka bingung sebab mereka tahu betapa agresifnya George meski ia diketahui telah memiliku tunangan.

“You know that he has fiance from his Facebook? I think it is fake state.” Patricia mengomentari dugaan Lukas bahwa George benar-benar akan menikah. Ia sibuk melihat-lihat seluruh informasi di akun Facebook George, lalu akun milik Tuan Hogs dan Nona Maple. Ia seolah-olah bertindak sebagai mata-mata yang sedang bertugas mengumpulkan seluruh informasi paling rahasia mengenai ketiga temannya tersebut. “Where is he?” Tanyanya kemudian pada Lukas yang mengira bahwa George dan Tuan Hogs sama-sama sedang berada di apartemen Nona Maple, sementara Nona Maple sibuk mengerjakan tugasnya.

“Which one the best? George or Hogs?” Tanyanya kemudian, Sakiko dan Tuka menggeleng. “Philip is good. But I am not sure with George.”

“Have George and Puspita ever sleep together?...” Pertanyaan Lukas belum usai, tapi seketika Patricia, Tuka dan Sakiko melemparinya dengan bantal. “She is not easy girl!!!” Sayuri lalu melempari Lukas dengan kulit kacang. “She is beautiful, I know.” Lukas mengaku. “Aish! Women are beautiful. There is no handsome woman in this world, Lukas.” Patricia menonjok bahu Lukas.

Di apartemen Nona Maple, George dan Tuan Hogs sedang tertawa-tawa mendengar cerita Nona Maple tentang masa kecilnya. Abdul Jabbar baru saja selesai memasak camilan khas Uzbekistan dan mereka bertiga segera menyerbunya. “Where is Sayuri?” Nona Maple hanya menggeleng saat lelaki Arab paling ramah seantero apartemen itu merasa kecewa bahwa perempuan Jepang pujaan hatinya tak ada. “I will find her. Wait for me, friends…” Katanya setelah meletakkan beberapa piring kecil di meja. Mereka bertiga lalu menyerbunya selagi masih hangat.

Tak lama kemudian Abdul Jabbar kembali bersama Sayuri, Sakiko, Patricia, Lukas dan Tuka. Mereka lalu menyerbu makanan yang masih mengepul itu sembari menggoda George dan Tuan Hogs. “So, who will marry Puspita?” Tanya Lukas pada George dan Tuan Hogs. “I will marry someone who following me to my country.” Ujar Nona Maple disambut ledakan tawa teman-temannya. George dan Tuan Hogs hanya saling berpandangan. “Yes. It is good challenge, Puspita. I will wait and see in Japan.” Sayuri menepuk pundak Nona Maple.

“Do something different from your own culture, hey George and Hogs. If you like her, do something according to her perspective and culture.” Sayuri lalu menepuk pundak George dan Tuan Hogs. Mereka semua tertawa.

(6)

Musim berganti. Pohon-pohon Mapel tak lagi berdaun. Sejak Januari, kota menjadi putih atau perak. Salju menutupi rerumputan. Ia membayangkan bahwa di Indonesia Maret adalah bulan yang panas menjelang musim kemarau. Nona Maple berdiri di lapangan berumput yang diselimuti salju, menengadahkan wajahnya ke langit, menikmati taburan salju. Tuan Hogs menghampirinya. Berdiri di sisinya lalu mengenggam tangannya. “It is beautiful, isn’t it?” Nona Maple hanya menjawab dengan berdehem. “There is no snow in my country, only in Jayawijaya mountains.” Nona Maple memandang kedua mata Tuan Hogs.

“It might my first and last time to enjoy snow. I wanna keep them in my memory. After return to my country, I have  a plan to stay in the Island for some time. I will do research.” Nona Maple menikmati butiran halus salju yang mengenai wajahnya. Tuan Hogs hanya berdehem. Ia sama asyiknya menikmati butiran salju yang mengenai wajahnya.

“Hogs, will you come to my country? Maybe for vacation?” Nona Maple lalu bercerita mengenai beberapa lokasi wisata yang ingin dikunjunginya jika telah kembali ke Indonesia. Tuan Hogs tak menjawab. Ia hanya menghela nafas.

“Two years ago I have a fiance. We have plan to married this year. But then… he… passed away by accident.” Nona Maple memejamkan kedua matanya. Matanya basah. Air mata mengalir membasahi pipinya. Tuan Hogs mempererat genggamannya. Ia hanya diam dan mendengarkan. “Everyday, I saw him in your eyes. But, you are not him….” Nona Maple melepaskan genggaman Tuan Hogs dan berjalan ke halte bus. Pria Venezuela itu mengikutinya dari belakang. Ia melihat George tersenyum menyambut Nona Maple. Para siswa berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil untuk menghangatkan diri.

Red Bus tiba dan para siswa berebut masuk. Tuan Hogs menarik tangan Nona Maple dan menjauh dari bus. Ia membiarkan George memandang mereka heran dari dalam bus. Nona Maple hanya diam. Ada bus lain di belakangnya. Tuan Hogs lalu mengikuti Nona Maple masuk ke bus yang kosong itu dan mereka duduk di bangku belakang. “Maybe it is a last Maple.” Katanya sembari memberikan selembar daun Maple kering. Daun Maple ke-seratus delapan puluh. Nona Maple menerimanya dan menyimpannya dalam saku jaketnya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Hogs. Tangan mereka masih bergenggaman erat. Bus melaju dan salju memenuhi jalanan.

Malam harinya, Tuan Hogs menyerahkan satu file yang berisi ribuan photo Nona Maple, dan file lain yang berisi kegiatan kelompok mereka selama 6 bulan. “I will come to your country if I have an opportunity.” Tuan Hogs membantu Nona Maple membereskan beberapa barang kedalam koper. “What will yo do with those Maple leaves?” Tuan Hogs melihat kotak berisi daun-daun Mapel yang setiap hari ia berikan kepada Nona Maple. Ia melihat hatinnya disana. Setiap lembar daun yang ia berikan adalah kepingan kecil hatinya yang tulus. “Don’t need to cry, Hogs. Everything will be back to our original place. Just pretend that you never will meet with me. Just remember it as a dream.” Nona Maple memberikan selembar tisu pada Tuan Hogs. Kedua matanya mulai basah.

“Puspita, I will miss you.” Ujarnya pelan. Nona Maple hanya tersenyum. “Me too.” Balasnya sembari menyeruput teh hangat, menyiram hatinya yang dingin. “I know that you miss him.” Tuan Hogs lalu menggenggam tangan Nona Maple yang gemetaran. Mereka diam. “I am not him. If you can’t forget him, we will never start anything.” Nona Maple hanya diam.  

Bel berdering. Sayuri datang bersama George, Lukas, Abdul Jabbar dan Patricia. “Hi Hogs!!!”Patricia dan Sayuri berteriak bersama.”We will make last party.” Abdul Jabbar mengacungkan dua kantong plastik berisi makanan. “Let’s cook delicious food, Miss million Maple.” Abdul Jabbar dan Sayuri menyeret Nona Maple ke dapur. Malam itu, mereka tertawa bersama mendengar cerita Sayuri tentang kepiting. Di luar, salju turun begitu lebatnya. 

Depok, 25 Maret 2013
- Menulis cerpen jauh lebih mudah daripada menulis satu paragraph untuk Tesisku, oh malangnya-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram