Cinta Seorang Asing # 2



mrsblacksthisnthat.blogspot.com
(3)

Ia menuju apartemen Nona Maple saat mendengar kabar bahwa George, Patrica, Lukas dan seorang perempuan Jepang sedang makan malam bersama. Ia memencet bel. Ia langsung memberikan selembar daun Mapel yang baru dipetiknya dari sebuah pohon Mapel rendah di halaman saat Nona Maple membuka pintu dan mempersilakannya masuk. “Arghhh you late, Philip.” Ujar Patricia yang sedang menikmati sup. 

“Sit here!” Nona Maple meletakkan sebuah mangkuk dan piring di meja dan mempersilakan Tuan Hogs duduk disamping Patricia dan Sayuri, teman sekamar Nona Maple. “We just enjoy Puspita’s cook. Indonesian taste.” Patricia memperlihatkan sup ikan dalam mangkuknya kepada Tuan Hogs. “Hey you, Hogs. Let’s eat what you want.” Ujar George. Ia duduk disamping Nona Maple dan baru saja mengisi gelas Nona Maple dengan jus jeruk. She cooked Indonesian salad. Try this one.” Sayuri menggeser piring berisi Gado-Gado. “It is Gado-Gado, Indonesia salad wih peanut sauce.” Nona Maple lalu menggeser mangkuk berisi saos kacang kearah Tuan Hogs. “Hm, delicious!” Puji Tuan Hogs dan tersenyum kearah Nona Maple yang sedang menikmati sup ikan. 

“Philip, what you mean that you give Puspita a Maple leaf? Can you give ger a flower like Rose?” Sayuri memancing Tuan Muda Hogs untuk buka suara mengenai hubungan spesialnya dengan Nona Maple. Semua penghuni apartemen tahu bahwa Nona Maple sedang dekat dengan George. “Oh, I like her.” Ia menjawab pendek sambil memandang kedua mata Nona Maple yang selalu basah. Ia berharap Nona Maple tersenyum malu-malu atau senang. Tapi, Nona Maple malah tertawa meledak dan akhirnya semua tertawa. “Ya. He like me and he gave a Maple leaf as gift. So romantic, hahaha.” Dan semua tertawa. “I don’t need a thousands of flowers. Really. It is enough.” Nona Maple tersenyum pada Tuan Hogs yang tersenyum puas saat bisa membuat wajah George lesu.     
          
“Don’t worry, George. You still have opportunity.” Hibur Patricia. 

Seusai makan malam yang gembira itu, Nona Maple dan George mencuci piring bersama. Patricia, Lukas dan Sayuri melihat-lihat koleksi photo dalam kamera Tuan Hogs. “I think they have dinner two times a week.” Kata Sayuri. “Really? Are they dating, aren’t they?” Tanya Patricia tak percaya. “No. George has a fiance!!!” Lukas memelototi dua gadis yang sedang tertawa cekikikan memandangi photo-photo dalam kamera. “Whatt??” Patricia dan Sayuri melotot kearah Lukas. “Hey Hogs, rescue her.” Patricia menoleh kearah Tuan Hogs yang sedang memandangi Nona Maple yang tertawa-tawa dengan George. “I will.” Katanya. “Oh, you relly a Hogs, Philip. You..really..” Mereka menonjok bahu Tuan Hogs saat mereka tahu bahwa sebagian besar model dalam photo itu adalah Nona Maple. “Ya, I like her. I don’t care about George. He is not handsome.” Ujarnya terkekeh. “But, George win her heart. It is trouble for you.” Ledek Patricia.

(4)

“Here.” Ia berdiri disamping Nona Maple yang sedang menengadahkan wajahnya ke puncak pohon Mapel tua di halaman apartemen. Pohon berwarna hitam itu telah berusia puluhan tahun. Cabang-cabangnya keras dan kulitnya umpama sisik ikan yang mengelupas. Daun-daunnya yang merah sebagian besarnya telah berguguran dan memenuhi halaman. Nona Maple menerimanya. Daun Mapel ke enampuluh. Ia tahu bahwa daun itu dipetik Tuan Hogs dari pohon Mapel yang lebih rendah di halaman belakang, dekat laundry room. ”Philip. Why you give me a Maple leaf everyday? Can you find Rose or dandelion?” Nona Maple memuta-mutar daun itu didepan hidungnya, sekan-akan itu berbau bunga mawar. “Because I like you.” Katanya ringan. Lalu mereka berdua duduk di ayunan di bawah pohon Mapel tua itu. Nona Maple memandang lurus ke arah Tuan Hogs yang sedang memotretnya dengan kedua matanya yang basah.

Apakah mereka saling menyukai? 

“You have a perfect partner for dinner. But, I am a man who will give you this everyday and take your picture everytime.” Ia duduk disamping Nona Maple dan memperlihatkan photo-photo yang baru saja diambilnya. Nona Maple tertawa-tawa. “Too much, Hogs. I am your model? How about my daily payment? There is no contract, Hogs…..” Rengekan Nona Maple hanya membuat Tuan Hogs semakin bernafsu memotretnya. 

“What your full name?” Ia memotret kedua mata Nona Maple yang menyipit karena tertawa. “Hm. Puspita Mumtaz Mahal.” Ia mengangguk. “Is it Indonesian name? I think it is having similar name with an Indian building.” Tuan Hogs kembali memperlihatkan photo terbarunya. Kedua mata Nona Maple yang menyipit diterpa cahaya mentari pagi. 

“Ya. Because my parents really love story behind Taj Mahal building. It is about a lovely wife. A lovely wife of Syah Jehan, a King of India in the Mughal Kingdom. My Father wants me to be a lovely daughter and a lovely girl for everyone.” Nona Maple kembali memainkan daun Mapel itu didepan hidungnya. Mereka tak banyak bicara dan hanya menikmati angin pagi yang berhembus dan daun-daun Mael yang berguguran.

Nona Maple memejamkan kedua matanya dan sesekali menghembuskan nafas saat ia merasa bahwa pagi itu begitu indah. “Can I kiss your eyes?” Wajah Tuan Hogs sudah ada tepat di depan wajah Nona Maple saat ia membuka mata. Nona Maple terdiam saat ia memandangi kedua mata Tuan Muda Hogs yang coklat berkilau. “Hogs. Your eyes so beautiful.” Lalu mereka berdua tertawa dan berayun bersama dibawah pohon Maple yang sedang menggugurkan daun-daunnya yang merah kecoklatan. 

“I like you since first time I saw you.”
“Hm. Two months ago.”
“Yes.”
“Because of that you took my picture everytime and give me a Maple leaf every day? Hogs, why you like me? I am a Muslim girl.” Mereka terdiam. Daun-daun Mapel masih berguguran. Beberapa teman mereka sedang berjalan kearah mereka. Patricia berteriak saat mendapati mereka berdua duduk bersama di ayunan. George hanya tertawa. 

Sementara Lukas mengapit lengan George dan menyeretnya ke tempat lain. Nona Maple dan Tuan Hogs tertawa bersama melihat tingkah mereka. 

“I like you because you are a Muslim girl. Are you covers your body everyday?” Nona Maple mengangguk mengiyakan. “Because of that I like you. You are different with Arabian girls. You smile at me, and also laugh everyday like a little girl. Some of them just looked at me like an enemy because I am a Christian.” Nona Maple hanya diam mendengarkan.
           
“George said that he likes me since the first time he saw me, similar as you. I know that he has a fiance. He will marry that girl soon. So, you guys, two of you say like me because I am different with girls in your own country. It is just shock.” Nona Maple memandang ke kejauhan, pada George yang sedang duduk-duduk dan bercanda dengan Lukas dan Patricia, yang sesekali melihat kearah Nona Maple dan Tuan Hogs. 

“Puspita. No, it is different. I am not George. My feeling is sincere.” Tuan Muda Hogs menghadapkan tubuhnya kearah Nona Maple. “Look at me. Look at my eyes, please!” Nona Maple menoleh dan melihat kedua matanya. Ia tak menemukan apa-apa. Mereka tak sadar bahwa Patricia, Lukas, Sakiko dan Tuka sedang sibuk memotret mereka berdua. “Let’s be friend. It is better.” Nona Maple tersenyum. “Oh oh oh, I am famous now!!!” Nona Maple seketika tertawa saat teman-teman mereka mendekat dan memotretnya layaknya jurnalis majalah gossip paling top di kota Fayetteville. “You two will be famous couple on Facebook.” Lukas terbahak-bahak sembari memasukkan kameranya kedalam tas. 

“Let’s go. It is late!” George berteriak. Sebuah van putih baru saja tiba. Mereka akan mengunjungi Crystal Brigde Museum di kota Bentonville. Mereka berdua menuju van dan berebut duduk di tempat paling nyaman. George sudah menyiapkan spot yang paling bagus untuk duduk bersama Nona Maple, dan membuat Tuan Hogs gigit jari. “Let’s make Hogs jealous, George.”

Bersambung...

Depok, 25 Maret 2013
-based on mixed story-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram