Cinta Seorang Asing # 1

mrsblacksthisnthat.blogspot.com
(1)


Nona Maple membuka pintu. “Oh My God! So cold!”  Ia meringis saat udara dingin menampar wajah mungilnya yang tersembunyi dibalik topi jaket. Setelah mengunci pintu ia segera memakai sarung tangan sambil berjalan sangat cepat. Lima menit lagi Red Bus akan tiba di halte. Ia tidak boleh terlambat atau harus menunggu dua puluh menit untuk bus selanjutnya.


Angin kencang yang berhembus layaknya panah-panah es yang membuat Nona Maple terpaksa mempercepat langkah. Ia nyaris berlari. “Hiiiiii. Wait for me.” Teriaknya pada Tuka, temannya dari Thailand yang dilihatnya tengah berjalan tergesa-gesa bersama dua orang lain yang belum ia kenal. “Come on!” Teriak Tuka sembari melambaikan tangan. 

“Hi, I am Puspita. I am from Indonesia.” Nona Maple bersalaman dengan dua orang lain yang belum dikenalnya.“I am Lukas from Brazil.” Ujar seorang pria dengan lesung pipi yang membuat Nona Maple mengembangkan senyum manis. “I am Patricia from Mexico.” Ujar seorang perempuan yang wajahnya terlihat sangat Indian.
  
Mereka pun berjalan tergesa-gesa bersama dan saling mengoceh soal udara yang sangat dingin sehingga mereka terpaksa harus memakai jaket tebal dan mendadak merasa menjadi beruang. “Yeah, I wanna drink a cup of hot chocolate and sleep…” Patricia cekikikan sambil menyembunyikan kedua tangannya kedalam saku jaket. “I miss my girlfriend.” Lukas meringis. 
            
Langit kota Fayetteville mendung bagai disiram tinta cumi-cumi. Angin dingin berhembus kencang. Saat berjalan menuju halte bis yang tepat berada di sebuah pom bensin, mereka sempat mengomentari rerumputan yang membeku, burung-burung yang terbang berkelompok sampai daun-daun Mapel yang berguguran. “I am hungry, you know. I wake up late this morning. I skip my breakfast. I slept too late because I have some homework. Arghhhh I forgot my lunch!!!!” Patricia ngomel-ngomel saat ia membuka ranselnya dan mendapati kotak makan siangnya ketinggalam. “Don’t worry. We can share my lunch.” Hibur Lukas. “Thank you, Lukas. Graciasssssss…” Patricia tersenyum lega. 
          
Seorang pria mendekat. Dalam cerita ini dia disebut sebagai Tuan Hogs. “Hi. I am Philip from Venezuela. I saw you yesterday. But, I don’t know your name.” Ia mendekati Nona Maple, melihat kedua matanya dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.“Puspita. I am from Indonesia.” Mereka bersalaman dan tersenyum satu sama lain. Pipi Nona Maple menghangat seperti kejatuhan bintang-bintang dari galaksi tetangga yang hendak menggoncang Bimasakti. Matanya, matanya!! Teriaknya dalam hatinya.


Red Bus datang tepat waktu, 7.43 pagi waktu Fayetteville. Para siswa yang sejak beberapa menit sebelumnya menunggu dalam dingin, buru-buru masuk. “Can I sit here?” Tuan Hogs berjalan menuju Nona Maple yang duduk sendirian di kursi pojok paling belakang. Nona Maple sangat suka duduk di kursi itu karena bisa memandangai jalanan dan melihat pepohonan yang sedang mengugurkan daun-daunnya. Musim gugur sangat indah baginya. “Yes.” Nona Maple tersenyum. Ia merapatkan jaket, menyandarkan kepalanya ke kaca, melipat tangannya dan sepanjang jalan hanya fokus memandangi pohon-pohon berdaun merah yang lebih mirip pohon palsu made in China. Tuan Hogs sesekali memperhatikannya, tak berani bicara. Mungkin merasa heran. Ia memilih tenggelam dalam keasyikannya sendiri mendengarkan musik dari ponselnya.


(2)
  
Saat Tuan Hogs keluar gedung, ia mendengar beberapa siswa Arab sedang membicarakan Nona Maple. “What outstanding Indonesia girl!! She is too different with our girls. She is not like a Muslim girl.” Ujar salah seorang diantara mereka. “She is Muslim. I saw that she Shalat yesterday.” Ujar yang lain. “She is Muslim. I told me yesterday. She covered her body like Arabian girl.” Tuan Hogs menanggapi pembicaraan mereka. “Who you are? Are you her boyfriend?” Tanya mereka. Tuan Hogs tersenyum “I will be her boyfriend soon,” jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka yang terus berbantah-bantahan mengenai Nona Maple. Ia melihat Nona Maple yang menari berputar-putar di halaman berumput. Angin bertiup kencang, daun-daun Mapel yang kuning dan merah berguguran.
  
Saat ia hendak melangkah, ia melihat Lukas, Patricia dan George berjalan ke arah Nona Maple. Patricia melempar ranselnya dan menari-nari gembira bersamanya. Patricia mengangkat kedua tangannya ke udara dan tertawa-tawa menikmati angin dingin. Beberapa helai daun Mapel mengenai wajah mereka. Lukas dan George tertawa-tawa melihat tingkah mereka, lalu mereka berdua telentang diatas rumput dan menikmati langit yang biru. Namun tak lama kemudian, George duduk dan memandangi Nona Maple. Dari tempatnya berdiri, Tuan Hogs hanya tersenyum kecut. Lalu ia memainkan kameranya.

“Heyyyyyy Philip! Come here! Take some pictures!!!” Patricia berteriak ketika ia mendapati Tuan Hogs memotret mereka dari kejauhan. Tuan Hogs menghampiri mereka. Lukas dan George berdiri, mendekat kearah Patricia dan Nona Maple. Ia agak kesal melihat wajah bahagia di wajah George saat berdampingan dengan Nona Maple. “Hei Mr. Hogs. Take some for me!!” Ia terus memontert Nona Maple, terutama saat ia mendengar seseorang berteriak bahwa Red Bus sudah sampai lampu merah di dekat Bank of Arkansas. Ekspresi keterkejutan sungguh bagus untuk sbeuah photo. Tuan Hogs tersenyum.
  
Ia lalu membuntuti Nona Maple yang berjalan berdampingan dengan George. Ia memontretnya lagi dan lagi. “Puspita.” Ia memanggil Nona Maple, dan memotretnya kala Nona Maple menoleh dan tersenyum manis. “Take her with me.” Pinta George. Sebelum masuk ke lambung Red Bus yang sudah penuh, ia memungut sebuah daun Mapel yang baru saja jatuh ke tanah. 
   
Mereka berdiri di dekat kondektur. Tempat duduk sudah penuh. Ia memontret Nona Maple yang berdiri berdampingan dengan George. Lalu memberikan daun Mapel sembari tersenyum melihat wajah George yang nampak kebingungan. “Special for you.” Katanya lembut. “Give her hundreds of flowers, not a Maple leaf.” Sakiko mencemoohnya dengan suara lantang dan membuat para siswa melihat kearah mereka dan tertawa bersama. Wajah Nona Maple merona. Kemudian ia berterima kasih kepada Tuan Hogs.


“The first gift from Philip, our lovely Mr. Hogs. Thank you.” Nona Maple memamerkan daun Mapel itu kepada teman-temannya yang sontak tertawa. Tuan Hogs memandangi sepasang mata Nona Maple yang selalu basah seolah-olah sedang menangis, terutama saat ia tertawa. George memandangi Tuan Hogs yang sedang memandangi Nona Maple. Ia bertukar pandang dengan Patricia dan Lukas, tapi mereka berdua hanya mengangkat bahu dan menggeleng tanda tak tahu. 

bersambung...
   
Depok, 23 Maret 2013  
-Based on mixed story-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram