Belajar Islam di Amerika





Ada beberapa cerita tentang perjalanan spiritualku, terutama dalam memahami Islam, khususnya saat menuju, di dan pulang dari Amerika. Pertama, dalam perjalanan menuju Amerika pada 22 Oktober lalu, nampaknya akulah satu-satunya penumpang berjilbab. Berpasang-pasang mata memperhatikanku saat di pesawat, saat transit di bandara Narita, Jepang, lalu saat transit di Houston, Texas dan saat tiba di Arkansas. Untungnya aku sedang haid, jadi nggak perlu pusing nyari tempat untuk Shalat selama di perjalanan. Di pesawat United para pramugari bahkan bercanda padaku saat mereka menawarkan menu Chicken atau Pork padaku, dan kujawab Chicken tapi mereka bilang bahwa aku sebaiknya makan Pork saja sembari tersenyum. Padahal tuh Chicken juga nggak kumakan karena aku nggak nafsu makan, jadinya aku hanya makan salad dan cake. Pelajaran penting:  berkomitmen meski sendirian.

Kedua, saat mencoba mencari arah kiblat di apartemen dan menyesuaikan jadual shalat tanpa menunggu kumandang Adzan. Aku harus menunggu matahari terbit dan melihat dari arah mana jika dilihat dari jendela kamarku. Di Arkansas, kiblat tidak menghadap ke barat laut sebagaimana di Indonesia, melainkan ke Timur Laut. Di negara empat musim seperti Amerika, jadual shalat sering berubah-ubah. Karena itu aku selalu melihat jadwal Shalat yang terdapat di website Islamic Finder. Kalau di gedung SILC cukup mudah mencari arah kiblat, karena aku belajar di Gedung Barat, maka aku hanya harus menghadap ke sudut antara arah Utara dan Timur atau Northeast. Aku dan teman-teman Arab biasa Shalat di ruang kelas. Seorang teman dari Saudi Arabia bernama Nouf bahwa memberiku sebuah Sajadah. Di Fayetteville, penting sekali untuk memerhatikan perubahan Jadwal Shalat karena tak ada kumandang adzan. Setiap kali aku merindukan kumandang adzan, aku mendengarkan adzan via Youtube dan menangis karena merindukan Indonesia. Pelajaran penting: menjaga ibadah meski tanpa alat pendukung yang cukup sebab dimanapun bumi Allah, disitulah Masjid tempat mendirikan Shalat. 

Ketiga, aku sering terlibat diskusi mengenai Islam bersama teman-teman dari Timur Tengah ataupun dengan teman-teman Non-Muslim dari berbagai negara. Diskusi pertamaku adalah bersama seorang teman dari Peru. "I believe in God and I pray in my own way, but I don't believe in religion," Katanya. Awalnya dia bertanya mengenai Jilbab. Dia heran kenapa caraku berjilbab berbeda dengan para perempuan Arab yang juga teman-teman kami belajar di SILC. Dia merasa heran mengapa perempuan harus menutup rambut indah mereka dengan sehelai kain. Mengapa bocah perempuan tidak berjilbab tapi perempuan dewasa berjilbab? Apakah semua perempuan Muslim berjilbab dan sebagainya? Kujelaskan padanya bahwa berjilbab merupakan hukum bagi perempuan yang sudah dewasa setelah mereka mendapat haid, bahwa berjilbab melindungi tubuh perempuan dari gangguan lelaki jahat, dan berjilbab merupakan tanda ketaatan seorang perempuan Muslim pada Tuhan. Setelah berdiskusi panjang lebar dia tetap saja tak paham. Dia malah bilang, "Can I see your hair? I really want to see your hair? Hm, or you don't have hair?". kubilang padanya bahwa lelaki yang boleh melihat rambutku hanyalah suamiku, ayahku, pamanku, anak lelaki dan para perempuan muslim. Lalu dia hanya tertawa dan bilang bahwa dia masih bingung.

Diskusi lainnya adalah tentang makanan. Diskusi tentang makanan terpecah menjadi beberapa kali, bersama teman-teman yang berbeda dan waktu yang berbeda. Umumnya diskusi tentang makanan ini bersama teman dari Jepang, Tibet dan Vietnam. Diskusi ini berawal dari teman sekamarku yang orang Jepang yang bertanya mengapa temannya yang orang Arab dan Muslim meminum wine, padahal setahu dia umat Islam tidak boleh meminum minuman beralkohol dan memakan daging babi. Lalu diskusi kami merembet kemana-mana dan setelah kujelaskan dengan panjang lebar akhirnya dia paham bahwa mengikuti hukum agama adalah pilihan bagi penganutnya, sebab umat Islam tahu konsekuensi dari pilihan mereka. Setiap kami mengadakan pesta atau sekedar makan-makan, mereka selalu menyediakan sayuran untukku karena mereka tahu aku tidak makan daging babi, ataupun sapi dan ayam yang tidak halal, serta tidak minum wine. Kepada mereka ingin kukatakan, terima kasih telah mengerti dan terima kasih telah bertanya tentang Islam sehingga aku memiliki kesempatan untuk menjelaskan Islam kepada mereka.

Diskusi menarik lainnya adalah tentang pernikahan, pakaian, peluk-cium, seks, rumah tangga dan posisi perempuan dalam Islam. Mereka bertanya karena mereka hanya mendapatkan informasi tentang Islam dari media, dan setahu mereka Islam itu adalah Arab. Dengan pengetahuan yang kumiliki, kujelaskan pada mereka semua hal tersebut hingga mereka paham bahwa Islam memang lahir di Arab, tetapi Islam telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, menjadi pemicu majunya ilmu pengetahuan modern, pembebasan kaum perempuan (kesetaraan gender), serta sebagai cahaya terang bagi seluruh manusia. Sebagian besar teman-teman yang bertanya tersebut adalah mereka yang memang tidak menganut suatu agama, atau tidak paham Islam selain dari berita yang mereka peroleh dan mereka yang ingin tahu mengapa cara pandangku berbeda dengan cara pandang beberapa teman mereka yang berasak dari Saudi Arabia. Kepada mereka ingin kusampaikan, terima kasih telah menjadikanku rekan diskusi dan menjadikan Islam sebagai topik yang menarik dan patut didiskusikan.

Ada saja yang mengatakan "You dress is beautiful. Everyday your dress always beautiful. Your Headscraft always beautiful. How can you different with some student from Saudi Arabia?" gara-gara kebanyakan siswi dari Saudi Arabia menutup diri dari pergaulan dan bergaul dengan sesama mereka. Sebagian besar dari mereka juga dikenal ekslusif, keras kepala, menutup diri dari diskusi dengan siswa non-Muslim dan tidak patuh pada peraturan. Mereka seringkali berbicara dalam bahasa Arab di kelas dan di hall, padahal kemampuan bahasa Inggris mereka masih rendah. Bahkan ketika aku sedang menunaikan Shalat, mereka tak menurunkan volume suara mereka yang sedang asyik berbincang dalam bahasa Arab. Meski pernah kutegur mereka, mereka tak berubah. Sebab itulah, teman-temanku lebih menyukaiku. Alhamdulillah. 

Keempat, aku kagum pada sistem di Fayetteville. Kota Fayetteville bersih, rapi, nyaman dan natural sebagai hasil dari sistem yang bagus. Sistem inilah yang diajarkan Islam tentang cara mengelola alam, tapi tentu saja mereka tidak berkiblat pada Islam. Hal lainnya adalah tentang cara mereka menghargai orang-orang dengan kecacatan. Dimana-mana kutemui perhatian khusus untuk orang-orang penyandang kecacatan seperti lokasi parkir khusus, plat mobil khusus, jalan khusus menuju rumah atau sebuah gedung, sekolah khusus, troli khusus untuk berbelanja di mall, hingga layanan khusus pada transportasi publik. Inilah apa yang disebut saling mencintai dan membantu antar sesama manusia/ hablum minannass. Terima kasihku kepada Allah swt yang telah mengirimku ke tanah ini dan membuka mataku untuk lebih mencintai Islam dan mempromosikan Islam dengan bahasa hikmah dan dengan cara yang santun.

Ada banyak cerita, tapi ingin kuakhiri tulisan ini dengan cerita seputar perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang dari Arkansas menuju Indonesia, aku menjalani beberapa pemeriksaan ketat di Arkansas, Chicago dan Singapura. Saat melewati bagian pemeriksaan, aku selalu diperiksa lebih lama. Entah karena aku berjilbab dan ketahuan sebagai Muslim, atau entah karena aku menggunakan baju berlapis-lapis. Yang pasti, para penumpang lain memperhatikanku. Maklum, aku satu-satunya penumpang yang berjilbab. Alhamdulillah, segala sesuatunya berjalan dengan lancar hingga aku tiba di Indonesia pada pagi 24 Desember 2012 dan kembali menikmati kumandang Adzan yang indah. 


“Siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaaq : 2-3)


Depok, Selasa 1 Januari 2013

-alhamdulillah, suara ribut petasan sudah berlalu-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram