Musim Dingin 2012: Pulang ke Indonesia


Kamis, 21 Desember 2012 adalah waktu tersedih selama aku tinggal di kota Fayetteville, Arkansas. Pagi hari, aku menghadiri acara penutupan di ballroom student union di University of Arkansas. Acaranya sederhana saja, mulai dari pengumuman nama-nama siswa terajin masuk kelas, siswa dengan nilai terbaik di levelnya masing-masing, hingga siswa yang lulus dari level 6 dan bahasa Inggrisnya sudah sempurna. Aku duduk bersama kawan-kawanku para Ford Fellows. Kami tertawa bersama, berphoto bersama dan saling memeluk satu sama lain. Setelah acara selesai, aku dan beberapa kawan berbelanja oleh-oleh di Northwest Arkansas Mall dan walmart. Aku jalan bareng dengan seorang teman yang kupanggil Crazy Man (nama Asli dirahasiakan). Karena kami belum makan siang, maka kami makan siang bareng makanan Jepang di Mall ini. Rasa makanan jadi nggak terlalu enak dan kami nggak banyak bicara. Rasanya sedih akan berpisah dan kembali pada kehidupan kami masing-masing. Setelah mendapatkan koper di SEARS, kami jalan ke Walmart buat beli beberapa kebutuhan. Lalu pulang ke apartemen. 

Malam itu, aku, Crazy Man, Crazy Friend dan my roommate *yang akan pulang ke Jepang tanggal 24 Des* makan malam bareng. Kami ketawa-ketiwi dan cerita banyak hal. Aku cerita tentang duren, rambutan, duku dan kelengkeng *buah-buahan yang dijamin cuma tumbuh di Indonesia*. Malam itu adalah malam tersedih. Kami semua tak bisa tidur dan hanya sibuk mengepak barang-barang. Crazy Man bilang bahwa ia akan sangat merindukanku, aku yang selalu tersenyum dan tertawa, aku yang membuat dia tertarik sejak hari pertama kami tinggal di Fayetteville, dan aku yang selalu buat dia merasa bahagia. Malam itu, aku mencuci semua pakaian kotorku dan membersihkan kulkas dari semua makanan yang tersisa, aku mengisi malam dengan menulis di buku harian. Dadaku sesak dan aku menangis tanpa airmata. Dua bulan adalah waktu yang singkat, tapi persahabatan diantara kami membuat kami tak ingin berpisah. 

Jum'at, 22 Desember pukul 5 am, Crazy Man datang ke apartemenku dan membantuku beres-beras. Kuberikan mushaf Al-Qur'an yang sangat kusayangi padanya. Kubilang, "This is a book. My holy book as a Muslim. And now I give this book to you. This book is my another gift that I promised to give to you after my painting." Kataku menahan sedih, nyaris menangis tapi kutahan airmataku. Aku tahu Crazy Man merasa bingung, mungkin juga sedih. Aku tak bisa membaca matanya saat itu karena aku sibuk menutupi rasa sedih dalam hatiku. Aku tak ingin terlihat sedih sejak aku mengatakan bahwa aku bahagia akan segera pulang ke Indonesia. Negaraku adalah masa depanku. 

"I never say you have to be a Muslim. Never. And also you can't read this book because it is use Arabic and Bahasa Indonesia. But, if you learn this book with your language, you will find Yesus and virgin Mary.You will find their stories here. Muslim like me must love and believe them." Matanya bersinar, karena dia sangat mencintai Yesus. 
"Virgin Mary?" tanyanya. 
"Yes. Keep this book in your bookcase with your another book. Just keep it. Gift from a friend." Pukul 6.30 am ia membantuku mengeluarkan barang-barangku menuju Van yang disiapkan Jimmy. 

Lalu aku dan dua orang teman asal Tibet dan Vietnam meluncur menuju bandara. Aku ngantuk dan capek banget, tapi mataku harus tetep melek dan melanjutkan perjalanan panjang melintasi Samudera Pasifik. 

Boarding Pass
Menu Indonesia (nasi plus ayam) di Garuda Indonesia

Aku berangkat pukul 8.30 am dari Northwest Arkansas International Airport menuju Chicago O'Hare. Terbangnya memang hanya 1.55 jam, tapi nunggu kopernya selama 2 jam, akibat miss-information. Ternyata koperku disimpan di gate G4 tempat aku datang. Gara-gara nih koper, aku bolak-balik tanya ke beberapa petugas mulai dari petugas di Baggage Service sampai petugas-petugas yang lewat. Di Bandara ini banyak petugas dari Amerika Latin yang nggak lancar berbahasa Inggris. Nggak nyambung jadinya dan pengen nangis karena takut ketinggalan pesawat, plus lapar, ngantuk dan lelah. Untungnya ada seorang petugas yang bilang "Calm down. I will help you, and calm down, please," katanya nyambi menepuk-nepuk pundakku. "Tell me what your problem," katanya bijak, dan kujelaskan bahwa aku tidak bisa menemukan koperku sementara beberapa menit lagi waktunya boarding pass untuk penerbangan selanjutnya. 

Dia lihat boarding pass-ku dan dia membantuku menemui petugas keamanan dan bilang agar segela meloloskan aku menuju security check. "Go to security check and tell other passangers that you must be hurry because it is time for boarding for your next flight. Go." Katanya dan aku mengikuti sarannya. Buru-buru aku menuju tempat pemeriksaan sambil meminta izin dan maaf dari para penumpang lain. Nah, ketemu para biarawati yang nggak bisa bahasa Inggris, jadinya ketahan untuk sementara karena mereka nggak ngerti apa yang kukatakan dan nggak mau ngalah. Setelah itu kau lari ke gate G4 untuk mendapatkan koperku, lalu berlari lagi menuju terminal 1 buat ngantri untuk penerbangan selanjutnya. Pas aku nyampe dengan napas ngos-ngosan, tuh antrian udah mengular, penuh sama orang-orang Asia Timur yang pada mau balik ke Cina, Jepang, Hongkong dan Korea. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga meski lelah, lapar dan haus. 

Di Lambung pesawat United Airlines, di bangku nomor 51, kelas ekonomi yang sesak, aku ketemu seorang bapak asal Malaysia dan seorang ibu asal Amerika. Selama penerbangan lebih dari 15 jam menuju Hong Kong kerjaku hanya tidur, makan, tidur dan makan, sampai-sampai si bapak bilang "Tidurnya nyenyak sekali ya," karena sibuk tidur aku lupa ke toilet buat sekedar pipis. Hahahaha, memang benar. Aku terlalu lelah untuk beranjak dari kursi meski hanya untuk ke toilet yang pastinya diburu para penumpang yang ngantri. Sambil cerita mengenai kehidupan kami masing-masing, kami makan kuaci yang beliau beli dari Walmart dekat kantor tempatnya bekerja. Ia seorang enginering yang banyak bekerja untuk membuat kilang minyak. Ia pernah juga bekerja membuat kilang minyak buat Pertamina di perairan Kalimantan beberapa tahun yang lalu. Setelah transit di Hongkong selama 2 jam, aku melanjutkan penerbangan menuju Singapura dengan pesawat yang sama. Kerjaku juga sama, cuma makan dan tidur, bersama dua teman baru di kursi yang sama. Sampailah aku di Bandara Internasional Changi yang megah dan modern itu pada pukul 1.30am. Setelah menunggu selama 5.55 jam, aku terbang ke Bandara Internasioanl Soekarno Hatta, Jakarta pada pukul 7.30. Finally, come home

video
  
Aku terbang bersama Garuda Indonesia selama 1.30 jam dan sampai di Jakarta pukul 8.15 WIB. Ah senangnya. Lalu meluncur ke Depok menggunakan taksi Blue Bird dan buru-buru pergi ke warteg sebelah kosan dan sarapan untuk kedua kalinya dengan menu super Indonesia. Spicy food tentunya. 

Setelah 9 minggu, apakah benar segala sesuatunya akan kembali ke 'original place' sebagaimana yang pernah kutuliskan pada tanggal 21 Desember? Akankah doa-doaku mampu mengubah takdir yang Allah tetapkan? Akankah waktu akan yang menunjukkan seperti apa takdir dan masa depan? Sebab, ada yang berubah dalam diriku, dalam hatiku, dalam imajinasiku dan dalam catatan-catatan hatiku? Dan mengapa Tuhan mengirim aku ketempat itu, ke tempat yang kemudian mengubah sesuatu dalam diriku? Siapa yang bisa memberitahuku tentang takdir? 

Depok, 28 Desember 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram