Gagal Ke BELANDA, Mari Ke AMERIKA

Aku dan teman-temanku di Cherokee Village, Oklahoma state (doc: Y Lot)
Cerita ini bukan dongeng, ini kisah nyata, kisahku tahun ini. Agustus 2010 aku resmi menjadi penerima beasiswa internasional bernama International Fellowship Program (IFP). Selama tujuh bulan lamanya aku belajar bahasa Inggris di FIB UI Salemba, Jakarta untuk mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris sebelum kuliah di salah satu universitas di luar negeri. Nah, aku berencana kuliah di salah satu universitas ternama di Belanda. Beberapa bulan setelah mengajukan proposal ke tiga universitas ternama di Belanda yaitu Institut Of Social Studies (ISS), Universitas Amsterdam dan Universitas Utrecht, aku mendapatkan conditional Letter of Acceptance (LA) atau surat penerimaan bersyarat. Pihak universitas tertarik dengan proposalku, tapi karena kemampuan bahasa Inggrisku masih belum memenuhi syarat sehingga aku harus belajar lebih giat. Celakanya, grafik nilaiku selama kursus itu bukannya naik melainkan turun. Alasannya karena aku bosan dan otakku menutup diri untuk memahami pelajaran. Setiap kali tes, nilaiku bukannya naik, malah turun. Beleguk amat ya!!! tapi itulah kenyataannya.

Satu bulan setelah rencana keberangkatanku gagal, aku menjalani tes IELTS untuk pertama kalinya dan sukses mendapatkan nilai 5.5. Wow! sponsorku bilang nilai itu cukup untukku melanjutkan rencananku studi di Belanda, sebab sebelum aku masuk Universitas kami akan mendapatkan kursus bahasa Inggris (British English) tambahan sehingga kami bisa mendapatkan nilai IELTS diatas 6.5 sebagai modal masuk universitas di Belanda. Hanya saja, segala sesuatunya sudah terlambat. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studi master di Universitas Indonesia (UI) dengan harapan aku bisa fokus belajar tanpa dipusingkan dengan bahasa Inggris. Sebagai gantinya, aku akan berangkat ke Amerika, ke Negara bagian Arkansas untuk belajar bahasa Inggris selama dua bulan. Tapi, aku tidak bersemangat untuk pergi ke Amerika. Aku masih ingin pergi ke Belanda dan menjelajah beberapa negara di Eropa.

Singkat cerita, bulan Oktober 2012 (masih kuliah semester 3 di UI) aku berangkat ke Amerika. Tepatnya ke kota Fayetteville, negara bagian Arkansas. Aku belajar bahasa Inggris selama dua bulan di lembaga bernama Spring International Language Center (SILC) University of Arkansas. Sejak hari pertama kedatanganku ke kota Fayetteville, aku merasa kagum. Hatiku bertasbih memuji Allah swt, Subhanallah, Alhamdulillah, Allohu akbar...

Aku berterima kasih atas kehendak Allah swt yang menolak pilihanku untuk pergi ke Belanda. Lingkungan kota Fayetteville yang indah, bersih dan segar membuatku nyaman untuk belajar dan merenung. Aku kembali belajar mengenai takdir. Di kota ini, Aku bertemu seseorang yang membuatku kembali belajar untuk memahami makna takdir. Aku berterima kasih kepada Allah swt yang telah mempertemukan kami, sehingga aku bisa belajar banyak hal dalam berproses untuk menjadi perempuan bijak. Kami sering berdiskusi mengenai takdir, dan dengan bijak ia mengatakan bahwa boleh saja manusia memiliki keinginan, tapi hanya takdir yang akan menjawab apakah keinginan itu dikabulkan atau tidak. Menurutku takdir adalah hasil dari pilihan dan upaya yang diaminkan oleh semesta. Ia berkata bahwa biarkanlah waktu yang akan menjawab segalanya dan pada akhirnya kita akan tahu takdir kita. 
Heifer Headquarter. Photo oleh: Alannah
Selama dua bulan tinggal di Kota Fayetteville, aku mengikuti berbagai kegiatan terutama di penghujung minggu. Aku mengunjungi beberapa museum, beberapa tempat terapi mental, home shelter bagi para korban kekerasan dalam rumah tangga, serta orang-orang gelandangan. Aku mendapatkan kesempatan untuk membangun impian masa kecilku untuk menjadi pelukis dengan mengikuti kelas melukis, dan bertemu guru bernama Budhi Kling. Aku dan teman-temanku melakukan perjalanan ke Litte Rock, ibukota negara bagian Arkansas. Disana kami mengunjungi Museum dan Perpustakaan Presiden Clinton, Arkansas Rice Depot (sebuah NGO yang menyalurkan makanan gratis bagi orang-orang kelaparan dan kurang gizi), Kantor pusat Heifer Internasional, dan berjalan-jalan di sekitar River Market dan Arkansas River yang jadi pusat wisata. Aku juga mendapat keluarga baru setelah mengikuti program kekeluargaan dalam merayakan Thanksgiving bersama keluarga Amerika. Bersama mereka aku berbagi pengetahuan mengenai budaya, agama dan kondisi negara kami masing-masing. Sesekali aku dan beberapa kawan terlibat diskusi mengenai agama dan kondisi sosial ekonomi di negara kami masing-masing sambil makan malam. 

Arkansas State Building. Photo oleh: Y Lot
Setelah mengikuti program ini, bukan saja kemampuan bahasa Inggrisku yang meningkat, juga pemahamanku mengenai dunia dan perbedaan diantara masing-masing budaya. Kegiatan dua bulan ini memang sangat singkat, tetapi aku bersyukur takdir telah memilihku untuk mengikuti program ini dan takdir memilihku untuk menjadi pembelajar yang menempuh perjalanan jauh dengan melintasi Samudera Pasifik. Aku bertemu dengan guru-guru baruku dan mengagumi cara mengajar mereka, aku bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara dan berbagi cerita dengan mereka, aku belajar mencintai tanpa alasan, dan belajar menghayati imanku dengan cinta.

Pelajaran tentang takdir yang kedua adalah, bahwa aku telah dipilih takdir. Aku tidak memiliki kemampuan untuk sampai ke tempat yang sangat jauh ini, tapi Tuhan mengirimku ke kota Ini untuk belajar, bertemu teman-teman baru dan memaknai imanku dengan cara yang baru. Akhirnya, ingin kusampaikan pada teman-teman baruku: meski jarak memisahkan raga kita ribuan mil jauhnya, kusimpan nama kalian disebuah tempat didalam hatiku. Seperti senandung dalam sebuah lagu...

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati...
(Dealova, Once)

Depok, 31 Desember 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram