Hiking di Devil's Den State Park



Hari ini aku, dua orang guru dan beberapa kawan hiking di Devil's Den State Park, taman nasional negara bagian Arkansas. Setelah shalat subuh sekitar jam 6.30 am waktu setempat aku masak beberapa jenis masakan untuk bekal makan siang. Aku memakai baju dua lapis dan jaket tipis untuk menghalau dingin. Meskipun udara sangat cerah dan matahari bersinar terik layaknya musim panas, tapi angin musim gugur benar-benar dingin menggigit. Kami hanya memerlukan 45 menit perjalanan dengan menggunakan mobil dan sampailah di tujuan. Terpesonalah mataku saat melihat gugusan pegunungan dengan pohon-pohon beraneka warna, seperti cokkies diatas piring. Molly, guruku, yang hari ini menjadi driver kami mengatakan kalau musim dingin maka pegunungan mirip seperti hamparan brokoli dengan warna hijau dan putih, dan saat mendengar penjelasan Molly kami tertawa bersama. 

Taman Nasional ini merupakan hutan lebat, tapi ya...berbeda dengan hutan tropis layaknya di Indonesia, Brazil dan negara-negara yang memiliki hutan hujan. Sebagaimana penemuanku selama perjalanan, hutan ini didominasi pepohonan ukuran sedang setinggi 10-15 meter yang daunnya berwarna-warni, sebagian merah, kuning bahkan coklat pertanda akan segera datang musim dingin. Pepohonan yang bertahan dalam warna hijau hanyalah cemara dan pinus, namun jumlanya sangat sedikit. Tanaman lain seperti perdu, lumut dan rerumputan juga ditemukan tapi jumlahnya sangat sedikit dan sebagian besar hutan kini ditutupi daun-daun berwarna coklat, kuning dan merah. Plus, aku nggak berkeringat. Aku hanya merasa haus dan lututku pegal karena lama banget gak olahraga, hehehe..


Taman Nasional ini benar-benar terjaga. Sepanjang perjalanan kulihat bebatuan yang berlapis-lapis dan jejak retakan bebatuan dari masa lampau. Aku tentu saja kagum dan bertasbih atas kebesaran Allah swt. Aku belajar tentang pentingnya perbedaan, termasuk perbedaan geografis dan musim, dimana tak satupun manusia bisa mengendalikan ataupun menolaknya, yang harus dilakukan manusia adalah mempelajarinya dan melakukan banyak penyesuaian untuk tetap hidup di alam yang keras ini. Mungkin saja usianya mencapai jutaan tahun, dan keindahan dari masa tua yang berpadu dengan modernitas membuatku benar-benar takjub. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan rombongan lain yang melakukan perjalanan serupa dan saling menyapa, ada rombongan wisatawan dari Korea Selatan, pasangan suami istri, anak-anak sekolah hingga anak-anak muda yang berkemah. Karena musim panas yang terika dan kurangnya curah hujan pada musim semi, maka musim gugur kali ini sangat kering, tanah kering kerontang dan sungai-sungai kehilangan airnya, namun aku tetap mengaguminya. 

Oh ya, aku juga melihat beberapa burung terbang di udara, memamerkan manuvernya. Kupikir itu elang tapi Molly bilang itu bukan elang dan wajah burung tersebut sangat jelak. Saat beristirahat di sebuah tebing batu, kami menikmati pemandangan gugusan pegunungan landai yang dipenuhi pepohonan dengan daun-daunnya yang mulai berguguran, langit yang biru bersih dengan awah tipis nan lembut, tarian beberapa burung di udara dan tentu saja keceriaan kawan-kawanku yang berphoto-photo untuk mengabadikan momen indah ini. Tempat ini sunyi, seakan-akan tak ada kalimat Allah yang dilantunkan. Tapi aku yakin, pepohonan tengan bertasbih, burung-burung bertasbih, bebatuan bertasbih dan hatiku turut bertasbih. Aku berharap hutan ini menyukai kehadiranku dan para malaikat penunggu gunung memohonkan ampunan dan rahmat untukku pada Allah swt. Tak terasa, hatiku bergetar dan mataku berkaca-kaca...

Fayetteville, 10 November 2012

Photos by: Maria Moreo, Yudai, Sakiko, dan Adul Jabbar


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram