Berkunjung ke Cherokee Heritage Center



Tanggal 9 November 2012 lalu, Alannah *penanggung jawab kami selama tinggal dan belajar di Arkansas* mengajak kami mengunjungi Cherokee Heritage Center di negara bagian Oklahoma. Dalam perjalanan ini Alannah sengaja menjadi supir kami dan mengemudikan Van putih milik universitas dan membawa kami bertualang. Tak lupa ia membelikan kami air mineral, sekantong apel, sekantong jeruk dan sekotak makanan ringan. Pertama-tama kami mengunjungi Cherokee National Museum. Didalam Museum kami melihat-lihat diorama mengenai sejarah masyarakat Indian Cherokee saat mereka harus pindah dari wilayah-wilayah mereka di seantero Amerika ke wilayah Barat. Tahun berjalanan ini disebut dengan Trail of Tears, video dan beberapa patung yang menceritakan kisah Trail of Tears. Tak lupa, pihak museum juga menyediakan berbagai cinderamata khas Indian Cherokee yang bisa dibeli pengunjung. Dan lagi-lagi beberapa benda dibuat di China, bahkan boneka bajing yang dibeli Rizia berasal dari Indonesia. Ah dunia ini, lucu juga....

Setelah puas belajar di Museum, kami menuju Cherokee Village yang merupakan tempat asli Indian Cherokee hidup dimasa lalu yang menampilkan suasana pedesaan. Di tempat tersebut ada rumah-rumah, ladang pertanian, lapangan tempat bermain dan sebuah tempat seperti mini theater tempat semua anggota suku berkumpul sambil berpesta yang dibangun menyerupai kehidupan masyarakat Indian Cherokee dimasa lalu. Rumah-rumah terbuat dari kayu yang dibalut tanah liat dan lumpur, mereka juga punya lumbung makanan yang dibangun berbentuk panggung untuk menghindari pencurian oleh beruang dan binatang lain. Rumah mereka terbagi menjadi dua. Pertama, rumah musim panas yaotu sebuah rumah yang memiliki banyak lubang angin dengan tujuan mengalirkan udara agar tidak kepanasan. Kedua, adalah rumah musim dingin yaitu rumah yang hanya digunakan pada musim dingin. Dalam kedua jenis rumah tersebut biasanya masyarakat berkumpul berkelompok atau mungkin satu keluarga besar untuk saling menghangatkan diri. Nah, ada juga rumah berbentuk bulat dan besar tempat para tetua mengadakan rapat atau disebut juga dengan rumah kongres. Di rumah bundar ini ada tepat duduk berbentuk panggung, yang nyaris melingkari seluruh bagian rumah kecuali di pintu masuk. Setiap suku duduk berdasarkan penanda masing-masing dan dibagian tengah merupakan tempat mereka membuat api unggun sebagai penerang, juga ada sebuah tiang tempat tahanan perang diikat untuk dimintai keterangan ataupun disiksa. 

 Seorang perempuan muda menjadi guide kami dan mengajak kami berkeliling. Ia bercerita secara singkat mengenai sejarah Indian Cherokee dan kehidupan mereka saat ini sebagai bagian dari masyarakat Amerika. Ia mengenalkan teknik pembuatan gerabah dan mengukirnya, teknik pembuatan basket/ sangke, tas, memanah, menyumpit hingga membuat kerajinan dan alat-alat rumah tangga dari batu. Tak lupa ia juga menunjukkan satu alat musik yang tebruat dari kura-kura yang sudah mati yang didalamnya diisi kerikil yang biasa digunakan para penari saat mereka berkumpul di mini theater. Saat ini, Cherokee Village tengah dibangun kembali untuk mendapatkan versi asli dan lengkap dari kehidupan Indian Cherokee dimasa lalu. Oh ya, di museum juga ada tempat khusus warga Amerika mencari garis nenek moyangnya hingga lebih dari 40 generasi. Keren kan? Lokasi museum Cherokee sendiri dibangun diatas reruntuhan seminary khusus wanita yang kebakaran di tahun 1880an. Kami hanya menyaksikan sisa dari puing-puing reruntuhan seminari berupa tiga buah tiang yang sangat tinggi yang ada di sebuah kolam tanpa ikan berbentuk oval. 

video

 
Fayetteville, 23 November 2012
Photos by: Nehemias & Maria


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram