Repotnya Mau Ke Amerika


Saat mendapat email dari pihak Spring International English Center (SILC) Universiy of Arkansas, aku sangat senang. Akhirnya terkabul juga keinginan ke luar negeri pakai kocek orang lain, hahaha. Meski ya harus tabrakan sama kegiatan terpenting tahun terakhir sebagai mahasiswa Magister alias Tesis. Hmmm, tapi penasaran juga gimana merasakan tinggal di negara empat musim pas transisi dari musim gugur ke musim dingin. Gak kebayang gimana aku bakal semaput karena kedinginan. Katanya, di Arkansas udara udah mulai dingin banget, yang sangat nggak cocok sama orang-orang yang berasal dari daerah tropis. 


Ke Amerika, bukan sekedar berangkat berbekal passport, visa dan form J-1, tapi juga segala hal remeh temeh yang kalau tidak disediakan bakal bikin repot. Toh tugasku disana hanya belajar sejak jam 8 pagi sampai jam 3 sore, 25 jam alias 5 hari selama seminggu. Ke Amerika, bukan sekedar menjawab rasa penasaran dengan pengalaman yang akan kujalani selama 9 minggu, melainkan aku sungguh pusing dengan segala persiapan. Mulai dari mendaftar isi koper sampai dengan mencari souvenir *sayangnya Depok bukan Jogjakarta*. Aku mencoba menyederhanakan pakaian yang akan kupakai sehingga tak membuat koperku kelebihan muatan. Aku membawa 7 pasang pakaian plus jilbab dan 1 pakaian untuk dinner. Yang memenuhi koperku adalah bumbu dapur instan, mie instan, cabe bubuk, kecap, sambal pecel hingga terasi udang pesanan kawan-kawan di Georgetown. Rencananya, saat aku datang nanti kami akan buat sate ayam....


Banyak barang harus dibeli. Semua persiapan harus matang. Misal, tas make up harus dari plastik transparan agar saat pemeriksaan gak ribet, padahal sebelumnya aku pakai tas mana saja untuk peralatan make up. Beli sarung tangan, kaus kaki tebal, obat-obatan (termasuk 2 kotak tolak angin), vitamin, dan sebagainya dan sebagainya. Maklum aku akan menghadapi musim dingin. Alhasil pengeluaranku membengkak layaknya balon udara. Ke Amerika 2 bulan saja persiapannya ribet minta ampun.

Rencananya aku terbang dari Jakarta ke Hongkong via Garuda, dilanjutkan dari Hongkong ke Chicago via United, lalu dari Chicago ke Fayetteville via United. Satu-satunya rencanaku untuk  mengatasi kebosanan adalah dengan menonton film atau membaca Al-Qur'an. Nggak mungkin banget kan online di Udara, bisa dilempar ke samudera Pasifik....

Ke Amerika, tetep bawa Indomie...
Ransel dan Sepatu, teman di Kabin

Gak bisa nebak apa yang bakal terjadi, yang jelas liburan hanya sabtu-minggu, disela-sela bersih-bersih dan mengerjakan Tesis. Aku tahu aku akan banyak mengkhayal disana, mudah-mudahan khayalanku berbuah buku atau novel. Sayang jika kegiatan bernilai lebih dari USD7.000 tidak menghasilkan karya yang berarti. Aku berharap bisa menghasilkan tulisan bermutu dan menjadi inspirasi bagi masa depanku dan bagi siapapun yang membutuhkan inspirasi. 

Dan malam ini, masih mendaftar barang-barang apa saja yang masih harus dibeli sebelum menyesal tak bisa membelinya di Amerika.Yang kepikiran cuma bumbu... bumbu... bumbu...
 
Depok, 19 Oktober 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram