Genjer-Genjer, Indonesian Folk Song


Tanaman Genjer (hasiltanah.blogspot.com)

Aku lahir dan tumbuh di keluarga yang sangat mengagumi Soekarno dan terlebih Soeharto sang 'Bapak Pembangunan' (sudah bisa dipastikan partainya berwarna apa kan?). Tumbuh di desa dengan pendidikan yang dipenuhi sistem doktrin dan ketiadaan media informasi membuatku harus menunggu sangat lama untuk bisa menjalani hidup dan berpikir secara out of the box. Orangtuaku, guru-guruku, lingkunganku dan segala hal yang kudengar dan kupelajari adalah tentang kehebatan duo presiden terkenal itu. So, segala hal yang berkaitan dengan PKI adalah haram bagi keluargaku. Everything tentang PKI pokoknya haram! dalam hal ini nenekku sering bercerita tentang upayanya menyelamatkan uwakku yang saat itu masih kecil dari PKI, uwakku didandani ala anak perempuan, hihihihi horror banget kayaknya PKI. Ditambah lagi kewajiban tahunan untuk menyaksikan film "G 30S/PKI" dan memberikan reviewnya kepada guru di sekolah. Ya, semacam media cuci otak tahunan gitu. Belasan tahun lamanya otakku dipenuhi doktrin "PKI itu kejam." atau "PKI itu atheis." atau "PKI itu jahat." dan semacamnya. Maklmum lah kakekku kan veteran tentara rakyat gitu ;)

Tahun 2003-2006 adalah masa galau yang sangat galauuuuuu untuk bisa melepaskan diri dari aneka doktrin yang mendarah daging semasa kecil. Tahun 2007 aku mulai bisa berfikir out of the box dan membaca masyarakat dengan berbagai sudut pandang. Aku mulai membaca buku apa saja entah tentang Islam, tentang Komunis, tentang China, tentang Barat, tentang Timur Tengah, tentang perjuangan perempuan, tentang hukum, tentang lingkungan, tentang kemiskinan dan tentang apa saja. Dan ketika pada saatnya aku memahami bahwa terdapat missunderstanding mengenai PKI dan sejarah kelam Republik Indonesia pada tahun 1965, pahamlah aku bahwasanya PKI adalah korban dan pelaku kejahatan kemanusiaan, sebagaimana masyarakat lainnya. Untuk mengetahui siapa yang menjadi pelaku dan siapa yang menjadi korban untuk peristiwa-peristiwa pada saat itu, perlu rekonstruksi sejarah. Kata maaf saja tidak cukup. 


Dan si 'Genjer-Genjer' yang sesungguhnya merupakan folk song asal Banyuwangi jadi terseret kesana-kemari dan dicekal selama berpuluh tahun lamanya karena dianggap sebagai lagunya PKI. Hadeh, padahal tuh lagu bercerita tentang masyarakat desa yang kelaparan dan terpaksa makan genjer/ gulma yang biasa tumbuh di sawah (Sejarah Lagu Genjer-Genjer). Sebagai manusia yang tumbuh di desa dan sebagai anak petani, aku jelas familiar dengan tanaman genjer ini. Tuh gulma memang biasa dijadikan sayur dalam menu keluarga. Ya bisa dibuat lalapan, ditumis, disambal, diurab, dipecel dan sebagainya terserah yang masak. Rasanya ya pahit-pahit asyik gitu dehhhhhh ;) Semasa sekolah dulu, genjer dikenal sebagai "vitamin jalan-jalan" sebab seratnya yang sulit dicerna tubuh. 


Tumis Genjer (mandimatahari.blogspot.com)


Ternyata eh ternyata lagi Genjer-Genjer ini populer loh. Selain karena liriknya nusuk sanubari, juga aransemen musiknnya mendayu-dayu. Pasti pas banget dengerin lagi ini kalau perut keroncongan karena kelaparan akibat gak ada uang buat beli makan. 


Nih lirik lagunya yang singkat, padat, jelas, menusuk dan kritis. 


Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih  


Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Terjemahannya :

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Genjer-genjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang  


Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibu saya beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang akan dimasak

Ada banyak seniman yang menyanyikan lagu ini. Mulai dari Lilis Suryani, Bing Slamet, Band Gestapu, Band Jawaika hingga band asal Kamboja, Dengue Fever, yang menyanyikan lagu ini dalam bahasa Khamr. Kesemuanya mendayu-dayu dan menusuk sanubari. Lagu Genjer-Genjer itu bisa dinikmati via Youtube. 



By the way, lagi lumayan heboh nih sama film dokumenter buatan sutradara luar negeri yang katanya tentang PKI dari sisi pelaku pembunuhan/ sang jagal yang bersetting di Medan.  Judul filmnya "The Act of Killing" yang menurut aktor film tersebut telah dipelesetkan secara sepihak oleh sutradara dari judul semula. Kayaknya nih film gak bakalan diputar di bioskop deh, bisa kacau Indonesia. 



Berikut terdapat informasi mengenai film ini, penasaran juga pengen nonton.
2. Website resmi: theactofkilling.com 

Depok, 2 Oktober 2012
- Selamat Hari Batik Nasional-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram