Ben dan Juwita # 8


dari: fatayat.or.id
Di Stasiun, Di Kereta

Ben, stasiun-stasiun itu selalu penuh sesak. Mereka silih berganti, datang dan pergi. Mereka pergi dan pulang bekerja atau pergi dan pulang belanja atau pergi dan pulang hang out atau pergi dan pulang berobat atau pergi dan pulang sekolah. Sesekali aku bagian dari mereka. Aku dilihat, dan aku melihat. Sesak, umpama lebah yang berkerumun di sarang segi enam. Kadangkala, kupikir mereka dan kami (jika aku ikut serta) ibarat kue yang berbaris rapi didalam toples. 

Ben, kupikir adalah diskriminatif jika 2 dari 8 gerbong mutlak untuk wanita. Berwarna merah muda. Dihiasi iklan seprai, sirup obat batuk, minyak angin. Sering aku bertanya, "Kemana gerangan peta yang layaknya menempel di tempatnya?" maklum, Ben, aku suka lupa dan aku takut tersasar. Mengapa pula kaum pria tak meminta hak gerbong khusus untuk mereka? atau takut dikira cengeng? Ah, Ben, peraturan ini layak tapi seakan-akan negara ini adalah Arab. Apakah kau pikir ini hasil teriakan emansipasi?

Ben, tarif kereta naik dua ribu rupiah. Tapi aku tetap berdiri. Tapi aku berdesak-desakan. Tapi aku jarang sekali duduk. Aku benar-benar seperti ikan asin. 


Ben, WOW! 1 Oktober ada kereta khusus wanita! Benar, Ben. Semua-mua gerbongnya berwarna merah muda, benar-benar khusus wanita. Siang tadi, para pria yang bosan menunggu kereta nampak kecewa. Tentu emansipasi gila! hak itu sama untuk pria dan wanita. Nyaman dan aman itu sama untuk pria dan wanita. Entah siapa Cleoparta dibalik ini semua. Mungkin kelak kupingmu akan mendengar bahwa teriakan emansipasi membuat wanita makin cengeng! Betul, yah, betul.



Meski begitu, mereka dan kami (kalau aku ada diantara mereka) sabar menunggu. Menunggu kereta. Tak ada yang lebih baik selain kereta, Ben. Puluhan ribu orang, setiap hari, pergi dan pulang untuk hal-hal itu. Antara dua kota, Bogor-Jakarta. Tarif naik, Ben. Sungguh aku tak suka. Katanya penyesuaian harga. Bah, mana pula penyesuaian pelayanan? hari ini, aku pergi dan pulang berdiri. 



Dan stasiun masih sesak.

Dan di kereta aku berdiri. 
Misuh-misuh pun percuma. 


Depok, 5 Oktober 2012



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram