The Scary Queen Sekeghumong















Photo by Asnani
Pertama kali aku menyaksikan langsung tarian ini saat berlibur ke Yogyakarta pada akhir Juni 2012. Aku menginap di asrama putri mahasiswa Lampung (Amila) yang letaknya tak jauh dari kampus Universitas Pembangunan Negara (UPN) Veteran Yogyakarta. Saat itu sedang diselenggarkan gelar budaya nusantara di tugu Supersemar. Acara tersebut diisi oleh tarian-tarian dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang merupakan kreasi mahasiswa-mahasiswi seluruh Indonesia yang kuliah di Yogyakarta. Aku bersama kawan-kawan asrama putri lampung turut menyaksikan acara tersebut dan memberikan apresiasi pada mahasiswa Lampung yang berhasil menghipnotis pengunjung oleh tarian baru bernama Sansayan Sekeghumong atau Ratu Sekeghumong. Tarian ini merupakan tarian baru yang diciptakan oleh mahasiswi seni tari UNY bernama Erin. Tarian ini sendiri merupakan tugas akhir Erin agar bisa lulus dari kampusnya. Pernah dipentaskan di beberapa kegiatan dan sempat memenangkan sebuah penghargaan dalam lomba tarian gitu, aku lupa namanya apa. Menyaksikan tarian ini dari dekat merupakan satu sensasi tersendiri. Hm, benar-benar kerjasama yang sangat mengagumkan. Alhamdulillah ada videonya di Youtube, enjoy deh...


Tarian ini merupakan adaptasi dari novel yang ditulis oleh Dosen FISIP Universitas Lampung, M Harya Ramdhoni yang berjudul 'Perempuan Penunggang Harimau'. Hm, judulnya serem juga....

Aku belum pernah membaca novelnya, tapi dari gerak tarinya aku memahami makna cerita tarian tersebut secara garis besar saja. Tarian ini berkisah tentang seorang Ratu yang kejam, yang tidak merestui percintaan seorang pangeran dengan gadis jelata demi menjaga kemurnian darah para peturunan raja. Kisah dalam tarian diawali oleh sang Ratu yang mengenalkan diri dan kerajaannya yang hebat. Kemudian dilanjutkan dengan kisah keceriaan para gadis di kerajaan itu, yang membuat pangeran terpikat. Sebagai muda-mudi mereka pun berkencan, meski snag gadis marasa takut. Sang pangeran menyakinkan kekasihnya bahwa segalanya akan baik-baik saja dan mengatakan bahwa Ratu akan merestui. Saat mereka tengah bercengkrama dengan suka cita, Ratu mengetahui kisah mereka dan Ratu murka. Sepasang kekasih itu pun menghadap Ratu guna mendapat restu. Namun, Ratu malah menampar sang gadis dan memarahi sang pangeran serta menasehatinya agar berpikir jernih. Pangeran diberi pilihan oleh Ratu untuk patuh pada Ratu atau memilih gadisnya. Pangeran memilih gadisnya dan mereka bertarung melawan pasukan Ratu agar bisa menjalani kebebasan. Apa daya pangeran kalah dan sang gadis dihukum pancung *kisah yang tragis, hiks...*  

Saat tarian berhenti, gemuruh tepuk tangan penonton memenuhi udara. Ya, mereka sukses membius penontonnya...

Selama menyaksikan tarian tersebut, aku lumayan terkejut juga oleh beberapa hal. Pertama, oleh kostum. Setahuku pakaian tradisional Lampung tidak seperti itu, apalagi untuk kerajaan. Kostum tarian ini mirip dengan perpaduan kostum tradisional Jawa yaitu kemben dan sebagainya dengan kostum Melayu. Kalau kostum lelakinya lumayan mirip lah. Aku sih hanya berpikir bahwa kostum tersebut merupakan hasil imajinasi pencipta tarian pada konteks tempat dan waktu kisah dalam novel. Mungkin saja konteksnya kekinian atau sangat Lampau, jauh sebelum disempurnakannya pakaian tradisional Lampung sebagaimana yang aku ketahui. Maklum lah, kan belum baca novelnya....

Kedua, musiknya. Beberapa tarian Lampung memang memiliki musik yang ceria dan menghentak, kecuali tari Sembah yang sangat mendayu-dayu. Tapi rasanya ada yang berbeda dengan musik tarian ini. Hm, mungkin ada campuran beberapa budaya kali ya. Gak tahu ah, gak ngerti...

Ketiga, penari dan aksesorisnya kurang menggambarkan kemegahan sebuah kerajaan di wilayah Pesisir Lampung.  Aku sih mengkhayal kalau ada beberapa penari lain yang berperan sebagai nelayan dan petani, hanya untuk meramaikan suasana saja. Bisa juga binatang seperti gajah dan harimau yang merupakan binatang khas Lampung Barat. Atau bisa juga dengan latar samudera Hindia dan sebuah perahu kayu yang besar dan megah. Ah, aku mengkhayal ya. Kalau ada yang komentar Tarian ini bukan Lampung banget ya aku agak setuju sih, tapi aku tetap memberi apresiasi pada mereka yang telah membuat Lampung makin ternama. Mungkin suatu saat, kalau mereka punya modal, mereka bakal bikin kostum yang Lampung banget...

Hm, kepingin beli dan baca novelnya. Tapi memang harus pulang ke Lampung dulu...

Berdasarkan hasil intipanku pada beberapa resensi tentang buku ini adalah bahwa novel ini berkisah tentang masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan Sekala Bgha atau Sekala Brak di Lampung Barat. Kerajaan itu akan dipimpin oleh seorang Ratu penutup yang dalam kepemimpinannya kerajaannya akan berjaya sekaligus hancur karena pengaruh dari wilayah utara pada abad ke XII Masehi sebagai awal berdirinya kerajaan Islam. Mungkin pengaruh dari Sumatera Barat atau Aceh (ngasal ....). Jadi, kisah dalam tarian Sansayan Sekeghumong itu menurutku merupakan salah satu kisah dari banyak kisah di kerajaan itu. Ratu Sekeghumong, entah bagaimana aku menggambarkannya kemudian. Jadi nggak sabar pengen baca novelnya dan menulis reviewnya di blog ini.... 

dari: pustakapelabuhan.blogspot.com

Untuk mendapatkan gambaran kisah dalam vovel ini bisa langsung lompat ke situs:


Dengan membaca dua tulisan dalam dua situs diatas, kini aku mengerti mengapa kostum dan musik dalam tarian Sansayan Sekeghumong berbeda dengan budaya Lampung yang selama ini kupahami. Ternyata tarian ini memang mengisahkan Ratu Sekeghumong, pemimpin kerajaan Sekala Brak yang menganut Hindu atau sebelum Islam. Menarik. Meski kali ini agak malu sama diri sendiri, bahwa reviewku pada tarian membuat intepretasi yang keliru akan isi novel yang sesungguhnya, hehehehe..

Agak merasa risih juga menulis judul: The Scary Queen...
Tapi di tariannya sang Ratu cantik memang menakutkan....

Depok, 6 Agustus 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram