Oeroeg : Hitam-Putih Persahabatan


Novel klasik karya seorang penulis Belanda bernama Hella S. Haasse ini berkisah tentang hitam-putih persahabatan seorang anak keluarga Belanda dan seorang anak keluarga miskin di Jawa Barat pada masa penjajahan Belanda di Nusantara. Kisah persahabatan dua bocah berbeda bangsa ini ditulis berdasarkan perspektif 'Aku' si anak Belanda. Ia dan Oeroeg sama-sama lahir di Kebon Jati, wilayah tempat ayahnya menjadi seorang Administrateur perkebunan Belanda, sementara ayah Oeroeg adalah mandor di perkebunan itu. 'Aku' selalu bertanya mengapa ayah dan ibunya sering membedakan statusnya dan Oeroeg padahal mereka tinggal di daerah yang sama. Orangtuanya mengajarkan bahwa Oeroeg itu inlander, harus bisa berbahasa Belanda kalau mau sekolah dan tentu saja bukan sahabat yang tepat untuk si 'Aku'. Kelak, kata orangtuanya, si Aku harus bersekolah ke Eropa, agar tidak menjadi orang kampung seperti Oeroeg. 'Aku' yang masih bocah kecil masih saja tidak paham mengapa ayah-ibunya mengatakan bahwa ia dan Oeroeg harus bisa berbahasa Belanda yang baik dan benar agar lebih sopan dan menghina lidahnya yang terbiasa berbahasa Sunda.

'Aku' tidak punya sahabat selain Oeroeg, maka terkadang 'Aku' tidak peduli larangan ayah-ibunya untuk tak terlalu terikat dengan Oeroeg. Mereka mandi di kali bersama, makan bersama, main bersama, membaca buku bersama, mengoleksi perangko bersama, dan berimajinasi bersama soal hantu di Telaga Hideung. Saatnya mereka sekolah, dan 'Aku' ingin sekolah bersama-sama dengan Oeroeg, maka ayah-ibunya memanggil guru khusus untuk mengajarkannya bahasa Belanda. Meski ia tidak paham bahwa gurunya itu merupakan selingkugan ibunya, yang membuat ayah-ibunya bercerai. Saat ibunya pergi ke Eropa, dan ia hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya, 'Aku' lebih banyak menghabiskan waktu bersama Oeroeg dan keluarganya di gunung, atau bersama seorang petualang Belanda yang baru saja datang dari Kalimantan. Mereka pun masuk-keluar hutan untuk bertualang.

'Aku' dan Oeroeh bersekolah di sekolah yang sama pada akhirnya dan ayahnya menanggung semua biaya sekolah Oeroeg. Sampai kemudian ketika ayahnya mengalami kesulitan keuangan, seorang perempuan Beland ayang baik hati melihat bakat besar dalam diri Oeroeg dan menjadi penanggungjawab selanjutnya atas segala hal yang berkaitan dengan pendidikan Oeroeg. Lida, nama perempuan itu, ingin Oeroeg menjadi pintar dan memanfaatkan potensinya untuk masa depannya. Lida memberikan Oeroeg apa saja, termasuk kasih sayang. Ia tak punya siapa-siapa dan menjadikan Oeroeg tumpuan harapannya, dengan melindungi dan memanjakan Oeroeg. Di sekolah lanjutan, 'Aku' dan Oeroeg bersekolah di tempat yang berbeda, namun 'Aku' dapat melihat bahwa Oeroeg telah banyak berubah. Ia lebih mirip dengan inlander yang berupaya untuk bisa menjadi 'seorang Belanda' dan berupaya keras untuk tidak menunjukkan bahwa ia seorang Inlander, meski ada hal-hal tertentu tang jelas membedakan ia dengan orang Eropa. Oeroeg mulai berikap dingin pada 'Aku' dan menyukai minat yang lain, persahabatan mereka menjadi kering dan Oeroeg terkesan tidak peduli pada ibu dan adik-adiknya yang hidup dalam kemiskinan akut di gunung Kebon Jati. 

'Aku' merindukan Oeroeg yang dulu. Namun Oeroeg yang telah dewasa menjadi semakin berubah. Ia semakin sinis pada Belanda. Ia bertemu Abdullah, dan mereka terlibat organisasi pergerakan, bahkan Lida berpikir sama dengan mereka. 'Aku' merasa menjadi tertuduh dan terasing dari dunia sahabat masa kecilnya hanya karena ia seorang Belanda. Hal-hal telah berubah. Ayahnya pensiun dan meninggalkan Kebon Jati, dan 'Aku' pergi ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan. Namun, saat ia kembali ke tanah Sunda, ia merasa tak lagi mengenali Oeroeg. Perang masih berkecamuk dan kemiskinan kian terlihat menyedihkan. Saat 'Aku' bernostalgia ke Kebon Jati, mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan dari masa kecilnya, ia mendapati kenyataan bahwa Oeroeg telah menjadi semacam tentara rakyat yang memandanganya dengan penuh kebencian. Saat 'Aku' yakin bertemu dengan Oeroeg, sahabatnya itu mengusirnya. 'Aku' hanya bisa menurut daripada pasukannya yang sedang istirahat mati dalam serangan tentara rakyat. 'Aku' pada akhirnya paham, bahwa kebencian Oeroeg padanya bukan semata-mata karena 'Aku' terlahir dari bangsa penjajah yang telah menyebabkan kekacauan di Nusantara, tetapi juga telah menyebabkan ayah Oeroeg mati saat menyelamatkan 'Aku' yang tenggelam di Telaga Hideung. 

***
Bagiku...
Kisah Oeroeg ini sangat menyentuh. Anak-anak yang dilahirkan memiliki jiwa yang murni, namun pemikiran dan tindakan yang kelak mereka lakukan dipengaruhi oleh pikiran dan tindakan orangtua dan orang-orang dewasa disekitar mereka. Menurut penulisnya, buku ini ditulis atas berbagai inspirasi mengenai Indonesia. Keterpesonaannya pada Indonesia membuat ia berimajinasi atas hal dan suasana tertentu pada setting yang berbeda namun menakjubkan dalam buku ini. Bravo!

Omong-omong, kisah Oeroeg ini telah dibuat film. Namun, hanya potongan-potongannya saja yang bisa kunikmati via situs Youtube.com dan masih merindukan versi full-nya yang entah bisa kuperoleh kapan. 

Potongan-potongan film Oeroeg....


Depok, 4 Agustus 2012
Sumber gambar
homerianshop.com

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram