Pra-Backpacker 1 : Yoyakarta-Surabaya


Siap berangkat. photo by Asnani
Baru sempat cerita nih, 

Tanggal 9 Juli lalu aku berangkat dari Yogyakarta menuju Surabaya. Perjalanan jauh ini bukan saja yang pertama bagiku, juga melelahkan. Pukul 3 sore aku berangkat diantar kawanku menuju halte trans Jogja di depan kampung UPN Yogayakarta di ring road utara. Tujuan utamaku adalah menuju terminal Giawangan di tenggara Yogyakarta. Namun, aku harus ke kantor pos pusat di Maliboro untuk mengirim majalah National Geographic yang kubeli dua hari sebelumnya beserta beberapa potong pakaian yang tidak mungkin kubawa ke Surabaya ke kosanku di Depok. Sayanya, menjelang akhir masa liburan kota Yogyakarta sibuk sekali oleh berbagai aktivitas budaya yang membuat beberapa ruas jalan ditutup. Alhasil aku harus turun di dekat stasiun Tugu dan melanjutkan perjalanan menuju kantor pos menggunakan becak dengan tarif Rp. 25.000 *oh oh oh rencana hemat 1 gagal totallllllllll, bisa batal naik bis eksekutifffffffffff*

Penderitaan selanjutnya berkaitan dengan angkutan umum bernama Trans Jogja. Karena Jl. Malioboro ditutup untuk kepentingan karnaval budaya, maka perjalananku dioper kesana-kemari untuk menuju terminal Giwangan. Naik bus no sekian lalu transit di halte daerah anu selama 15 menit, lalu naik lagi bus nomor sekian lalu transit lagi terus begitu selama 2 jam lamanya. Jadi, aku start dari halte di depan Taman Pintar ba'da Maghrib atau sekitar jam 6 sore, dan baru mendapat bus menuju terminal Giwangan jam 8 malam. Uh, badanku pegal-pegal, perutku lapar karena gak sampat makan dan minum, dan kepalaku pening karena kelaparan. Sampai di terminal Giwangan jam 20.30-an gitu dan makannnnnnnnnn. 

Selesai makan dengan lahap langsung cabut menuju tempat khusus untuk menunggu bis. Kalau temanku sih merekomendasikan bus eksekutif/ bus Eka yang ongkosnya sekitar Rp. 60.000an. Tapi, berhubung aku gagal berhemat di perjalanan sebelumnya makan aku harus menebusnya dengan gagal baik bis Eka. Jadilah aku naik bis Mira yang merupakan bis ekonomi AC dengan ongkos Rp. 32.000. Berhubung capek dan ngantuk, jadi selama perjalanan aku tidur sampai-sampai hanya bisa dibangunkan oleh bus yang melompat kencang dan membuat tulang pipiku terbentur, dan tentunya ngences *hehehehehehe, bikin pulau*. Gak kerasa tuh perjalanan, tahu-tahu teman sebabngkuku membangunkanku sekitar jam 5 pagi saat bus sudah sampai di terminal Bungurasih/ Purabaya. 

Asiiiiiiiik sudah sampai Surabaya.... dan bingung.....

Setelah shalat subuh di Musholla yang kecil banget di samping salah satu toilet, aku memutuskan untuk berjalan ke pintu keluar terminal yang lumayan jauh. Tubuh kecilku yang menggendong ransel cukup menarik perhatian para sopir taksi dan ojekers, tapi aku menolak mereka karena ku gak tahu pasti alamat yang kutuju. Gila memang melakukan perjalanan tapi belum tahu mau menginap dimana. Karena aku hanya memiliki sedikit informasi maka aku memutuskan untuk naik angkot menuju suatu tempat dan nyambung lagi angkot lain sampai ke kampus B Universitas Airlangga dan mulai jalan kaki nyari kosan harian. "Penuh, mb", begitulah jawaban yang kuterima dari sekian rumah yang memajang iklan bertuliskan "menerima kos harian". Ada sih 1 kamar kosong seharga Rp. 30.000/ hari tapi kamarnya kecil banget, kayak gak pernah dibersihkan, dan karena aku alergi debu *kelemahanku adalah selalu flu akut saat tiba di daerah baru* maka aku memutuskan untuk menolak meski ini bisa bikin aku hemat abis. Karena capek, akhirnya aku memutuskan minta diantar oleh becak dan ya ampyunnnnn malah diantar ke kosan harian versi mini hotel yang harga hariannya Rp. 150.000 *ini namanya bukan hemattttttttttt*. Nyaris jam 8 pagi, dan akhirnya aku memutuskan untuk minta diantar ke jl. Kayon dengan ongkos Rp. 30.000. 

Yes, akhirnya ketemu penginapan yang pas. Letaknya pas disamping kantor Dispora Jawa Timur dan gak ada namanya. Aku tahu penginapan ini dari seorang kawan. Nama pemiliknya adalah bu Almira yang mengelola penginapan keluarga ini bersama suaminya. Harga sewa per harinya Rp. 75.000-Rp.150.000. Kamarnya lumayan besar, berlantai marmer dan sebenarnya cukup untuk 4 orang. Fasilitasnya single spring bed, lemari pakaian, meja rias, televisi dan tentu saja ber AC. Meski kamar mandinya di luar tapi tiap hari dibersihkan jadi nyaman banget deh dengan harga segitu. Plus bisa gosok pakaian sendiri di tempat bu Almira gosok pakaian, bahkan boleh masak air panas dapur buat bikin kopi, teh, atau bikin mie kalau lapar.  Kalau mau ke kampus cukup pakai angkot berwarna hijau/ G dengan ongkos Rp. 3.000. Nah, kalau pulangnya kemalaman bisa pakai taksi dengan ongkos Rp. 10.000an. Kalau lapar, di depan penginapan ini banyak tempat makan tapi memang harganya lumayan mahal dan rasanya standar. 

Malam pertama di Surabaya, tentunya setelah mengikuti kegiatan di hari pertama dan makan malam yang kenyang, aku tidur pulas di kamar kosan. 

Depok, 24 Juli 2012

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. mbak, bisa kasih tau penginapan itu disebelah dispora jatim yang jalan kayon bukan? berapa meter dari dispora jatim? bisa minta kontaknya? ya meski mbak nulis ini udah 2012

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram