Pesona Yogyakarta & Wisata Intelektual


Photo by: Asnani
Photo by Pak Suryadi/ pemilik toko buku
Ada dua hal yang berhubungan dengan buku hari ini. Pertama aku baru menyelesaikan cerita ke 9 dalam kumpulan cerita tulisan Leo Tolstoy dalam buku populernya yang berjudul 'Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu'. Aku harus menyelesaikan dua bagian lagi malam ini hingga esok hari sebelum buku tersebut ku pak dan kukririm ke Depok bersama dengan barang-barangku yang lain agar perjalanan ke Surabaya tak direpotkan dengan aneka barang. Kedua, hari ini ke Taman Pintar dan beburu majalah National Geographic edisi jadul yang biasanya murah meriah. Lumayan untuk koleksi perpustakaan pribadi dan bisa jadi bahan untuk belajar bahasa Inggris, photograpi dan mengenal dunia yang penuh warna. Alhamdulillah, dapat 18 koleksi NG lawas mulai tahun 1980-an hingga tahun 2000-an. Inilah invetasiku. Dan aktivitas wisataku mungkin bisa mendekati apa yang dikatakan seorang kawan, sebagai wisata intelektual. Semoga, jadi waktuku tak tersia-sia...

Hal lain berkaitan dengan Yogyakarta tentu saja dinamika masyarakatnya. Aku memang terpesona oleh bangunan-bangunan dan tata hidup di Yogyakarta, juga tertarik untuk melihat sisi lain Yogyakarta yang membanggakan destinasi wisata budaya Indonesia bernuansa warisan masa lalu, atau promosi wisata yang sangat kental dengan nilai-nilai lokal. Namun, aku hendak melihat realita yang tercecer dan terselip diantara realita yang memukau tentang Yogyakarta dna pesonanya. Sebut saja tentang ketatnya persaingan antara para pedagang di kawasan Maliboro, atau antara becak, andong, Trans Jogja dan kendaraan bermotor. Pertama kali aku kota ini akhir 2010, masih kulihat becak-becak bersileweran di jalanan mengantarkan penumpang baik orang lokal maupun bule. Kini, keadaan telah berubah. Ketika masyarakat banyak yang memiliki sepeda motor dan sebagiannya memilih angkutan umum seperti Trans Jogja, maka menurut pandanganku pendapatan para pengayuh becak berkurang secar signifikan. Sepanjang jalan Maliboro, lebih sering kulihat para pengayuh becak duduk dengan tabah menanti orang-orang meminta jasa mereka ketimbang naik andong, berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Miris juga, ketika kota budaya ini tidak memiliki aturan yang ketat terhadap laju dan jumlah kepemilikan sepda motor.

Mari menafsir gambar. seluruh gambar ini kuambil sejak dari pasar Beringharjo hingga Taman Pintar. Sepanjang jalan itu teramat banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dan dijadikan renungan, betapa berwarnanya hidup ini dan betapa Tuhan memberikan jalan kepada setiap orang untuk menjadi yang terbaik dalam perjuangannya masing-masing....

 
 


Hahahaha, tata letak photonya tidak teratur. Ada beberapa hal yang mempengaruhi. Pertama, seluruh photo diambil oleh kamera saku tanpa pengaturan optimal dan aku ambil sambil jalan karena menghindari polusi udara. Kedua, aku bosan meletakkan photo di blog ini dengan tata letak standar yang menurutku monoton, ya beginilah hasilnya. Ketiga, mungkin kesemrawutan tata letak photo dalam tulisan ini bisa turut memperkuat kesemrawutan tata kota di Yogya yang kulihat selama liburan ini, dimana semua tempat didominasi pedagang kecil dan kendaraan bermotor. Jika saja tempat-tempat strategis itu tidak digunakan untuk parkir motor, niscaya para pedagang kecil akan lebih menata diri dalam berdagang dan tidak bertebaran semuanya di seantero kota. 

Terlepas dari semua itu, Yogyakarta yang merupakan destinasi wisata terbesar kedua setelah Bali tak lepas dari fenomena sosial seperti pengemis, gelandangan, pengamen, pemukiman di bantaran sungai, sampah, polusi udara, kemacetan, dan pedagang yang jutek. Ah, apakah masyarakat Yogyakarta bahagia? 

Oh ya, karena liburan ada banyak even di Yoogyakarta mulai dari gelar Budaya Sabang-Merauke dan Festival Malioboro di tugu Supersemar, Jogja-Japan week di Museum Nasional, UGM Research Week, festival seni dan bazaar di Museum Benteng Vredeburg, Jogja Job Fair, Jogja Book Expo, dan tentu saja diskon besar-besaran di beberapa toko buku seperti Gramedia, Social Agency, Taman Pintar dan pusat-pusat perbelanjaan. Kalau kantongku tebal, atau minimal aku telah menyiapkan dana untuk belanja buku, aku pasti sudah memborong banyak buku yang harganya mulai dari Rp. 1000 itu. Mungkin, ke Yogya tahun depan atau tahun depannya lagi, semoga.....

Yogyakarta, 7 Juli 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram