Pesona Yogyakarta & Pak Polantas


Plaza Ambarrukmo, 3 Juli 2012
Plaza Ambarrukmo, 27 Juni 2012
Pasca mengunjungi museum Affandi, aku berjalan menikmati jalanan kota Yogyakarta yang ramai dan unik *jalan-jalan gak karuan adalah kebiasaanku sejak di Bandar Lampung kalau aku sedang boring dan ingin menempa diriku agar semakin sensitif atas realita*. Aku sampai di plaza Ambarrukmo dan berusaha menjawab rasa penasaranku tentang barang-barang seperti apa yang dijual di mal megah tersebut. Saat mataku bertumbu pada banyak barang yang dipajang di masing-masing outlet miliki puluhan pedagang, aku juga merasa udara begitu sejuk, kontras dengan kondisi diluar mal. Aku nggak pegang uang tunai selain hanya Rp. 20.000, jadi aku hanya berkeliling untuk melihat-lihat saja.

Ada banyak barang unik dan arstistik yang dijual para pedagang, mulai dari aksesoris, tas dan pakaian handmade, tas dan dompet dari kulit sapi, dompet cantik dari kulit ikan pari *harganya Rp. 500.000, wow!*, pakaian dengan pewarna alami, tas dengan kain sulam dari Kalimantan dan aneka pakaian dari batik tulis *Harganya ratusan ribu sampai diatas 1 juta-an*. Harganya jangan ditanya, untuk kantongku sungguh aku tak sanggup. Kalau beli satu dua buah mungkin aku bisa tetapi aku memutuskan untuk keluar mal dan tidak mengeluarkan uangku untuk membeli barang yang kuinginkan tapi tidak kubutuhkan selain untuk mengikuti selera mode. Lebih baik uangku kusimpan untuk keperluanku saat ke Surabaya beberapa hari kedepan. 

Nongkronglah aku diluar, duduk di kursi semen yang nampaknya sengaja disediakan oleh pihak mal dan menikmati dinamika sore hari masyarakat Yogya. Bisa ditebak memang, dimana jalanan penuh oleh lalu lalang kendaraan, orang-orang yang hilir mudik masuk dan keluar mal *terkadang mereka hanya melihat-lihat tanpa membeli barang, membeli donat dan roti lalu duduk di luar plaza sambil menikmati kudapan mereka*, hingga mereka yang duduk-duduk saja menikmati sore sembari menunggu tirai malam diturunkan. Angin segar berhembus dan kupikir aku betah duduk disini sehingga kusempatkan menulis dan mengambil beberapa gambar melalui kamera mungilku. Ah, jika saja di Lampung semacam ini….

Didepan plaza megah ini ada hal unik yang hendak kuceritakan. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah tanggal 27 Juni lalu saat aku turun dari trans Jogja dan harus menyeberang ke hotel Ambarrukmo. Ada seorang polisi lalu lintas yang menurutku menjalankan pekerjaannya dengan baik, mengatur kapan kendaraan harus melaju dan kapan para penumpang dari dua arah harus menyeberang. Aku tidak tahu apakah ketika kecil sang polantas bercita-cerita untuk menerima dan menekuni pekerjaannya yang sekarang, yang jelas aku kagum. Di jalanan ini semua orang yang hendak menyeberang, apapun golongan mereka dan siapapun mereka, mereka membutuhkan sang polentas. Saat para pejalan kaki menyeberang, ia mengikuti mereka dari belakang seakan-akan menjadikan tubuhnya tameng bagi keselamatan para pejalan kaki yang mungkin tak sempat tahu namanya.    

Jenis pekerjaannya bukanlah pekerjaan seksi, memiliki prestise sosial atapun menguntungkan secara ekonomi. Namun, pekerjaan itu menjadi sangat penting dan mulia manakala memang ia melakukan tugasnya dengan baik dan menjadi penjamin bagi nyawa pejalan kaki yang menyeberang jalan yang hiruk pikuk oleh lalu lalang kendaraan dalam arus yang cepat dan padat. Setiap kali ia hendak mengangkat sebuah papan berwarna merah bertuliskan kata “STOP” ia meniup peluitnya dua kali ‘pritt pritt’, begitu pula saat ia hendak membantu para pejalan kaki menyeberang. Entah berapa kali ia membunyikan peluitnya dalam sehari, dan entah berapa kali pula ia mengangkat papan bertuliskan kata STOP itu. Aku salut. Oh ya, aku juga penasaran kapan ia makan pagi, makan siang dan makan malam? Apakah ia sempat melakukan ibadah selama seharu penuh, ataukah ia sempat duduk untuk minum kopi saat mengantuk? Apakah ia tidak merasa telinganya menjadi ‘budeg’ karena setiap hari harus harus berurusan dengan suara ribut dari kendaraan yang lalu lalang? Kapankah ia membersihkan wajahnya dari debu yang menempel sepanjang hari?

 
 

Langit mulai gelap, dan lampu-lampu berwarna keemasan mulai dihidupkan. Yogyakarta akan tetap bercahaya dalam selimut malam dan orang-orang akan menikmati indahnya malam dengan cara yang berbeda. Mungkin mereka nongkrong di warung lesehan, angkringan, cafĂ©, warung padang, bioskop, hingga restoran berkelas. Para ibu menuntun anak-anaknya pulang, para pasangan kekasih duduk-duduk sambil mengobrol, sahabat bertemu untuk bersua dan keluarga yang duduk di depan bangkuku nampak asyik menikmati sore dan masih bersenda gurau, para gadis berpakaian seksi nampak cantik dan ceria dan lihatlah malam semakin gelap dan lampu-lampu menjadi kunang-kunang besar yang mengapung di udara Yogyakarta. Adzan maghrib berkumandang, dan langit yogya semakin terang oleh lampu-lampu yang dinyalakan. Aku harus kembali ke tempat aku tinggal dan melanjutkan pekerjaan pada malam hari. 

Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta 3 Juli 2012
Publikasi hari ini, 5 Juli 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram