Madre: Love and Passion


Karya yang brilian...

Nggak bisa tidur, padahal mata ngantuuuuuk banget. Udah berbaring nyambi baca novel Dee yang judulnya Perahu Kertas tetap aja gak bisa memejamkan mata. Sejak malam pertama Ramadhan, dua hari lalu, aku biasa tidur jam 00.30 wib dan bangun jam 3 pagi untuk masak dan makan sahur. Kali ini otakku tak bisa kompromi dan membuat kelopak mataku lelah sekali. Tak mungkin juga melanjutkan tidur hanya sejam untuk sampai ke jam 3, bisa bablas gak makan sahur. Kuakui,  aku sedang terganggu oleh hal-hal yang bertumpuk dialam bawah sadarku. Ada hal-hal yang seyogyanya kuselesaikan, kurapikan bahkan kusimpan dalam peti bersegel sehingga bisa dibuang ke samudera waktu hingga ia tak kembali menjadi hantu pada malam-malamku. Aku mungkin tak tahu cara yang tepat meski aku telah berusaha dengan keras. Semakin hari semua itu semakin menumpuk, seperti gunungan file ingatan yang acak dan meminta dirapikan sesuai dengan tema masing-masing. Pada akhirnya aku terbangun oleh suara dari Masjid entah dimana, suara seorang lelaki yang tengah membaca doa bangun tidur. Allohumma ahya ba'dama amatana wailayhinnusur...

Menulis lagi. Ya, aku akan menulis tentang Madre yang kubaca tuntas pada 2 Ramadhan atau 22 Juli 2012 sebelum jam 12 malam. 

Bagiku, Madre adalah tentang kejutan, belokan dan pilihan. Seolah Dee ingin mengajak agar manusia melihat kejutan-kejutan hidup yang datang ibarat hujan di musim kemarau sebagai petunjuk arah untuk terlepas dari hidup yang monoton, yang ideal berdasarkan 'aku' dan bukan berdasarkan kebermanfaatan bagi banyak orang, bahkan bagi 'Cinta'.  Juta tentang kesabaran dalam menemukan cinta dan kebahagiaan, dan cinta yang dekat, sangat dekat, dan tentu saja akrab dan intim. 

Madre, menurutku adalah kisah tentang cinta. Melulu cinta. Tentang cinta pada kehidupan, pada keceriaan dan kehangatan keluarga dan sahabat, juga penghargaan atas kemanusiaan. Bahkan cinta itu bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk menjadikan kota yang paling dihindarinya sebagai ladangnya menyemai benih cinta, menyiraminya dengan keceriaan dan menunggunya berkembang bersama kehangatan mentari. Meski Madre secara fisik merupakan campuran tepung, air dan jamur yang menjadi biang untuk pembuat kue-kue lainnya. Tapi Madre hidup, sebab ia diciptakan dengan cinta dan passion, dengan ketekunan dan kerja keras, dengan harapan dan impian, dan Madre adalah keluarga dan keluarga adalah cinta. 

Madre juga, diceritanya yang lain, mengajak kita untuk tidak berputar-putar seperti benang kusut dalam menemukan cinta sejati, sebab cinta sejati bisa saja begitu dekat dengan keseharian kita, tertawa bersama, menikmati hujan bersama, makan bersama, berdiskusi bersama, bahkan mengkhayal bersama. Cinta yang pada akhirnya akan menjadi magnet penarik untuk kita kembali, meski kita pergi jauh, sejauh-jauhnya atau bahkan mengitari bumi untuk mengingakrinya. Cinta sejati adalah takdir, dan takdir seumpama daging yang membalut tulang atau sebaliknya, dan keduanya tak berarti bahkan menjadi busuk jika dipisahkan.

Madre itu ibu, biang, muara segala-gala akan terlahir. Dan ibu adalah cinta. 

Depok, 24 Juli 2012
-menjelang waktunya memasak makanan sahur- 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram