Buku Baru, Impian Baru


Cerita pertama:
Ujian telah selesai dan liburan dimulai. Hm, aku hanya memiliki beberapa rencana untuk bersenang-senang selama liburan 3 bulan lamanya. Rencana besarku adalah kembali ke kampus, tepatnya mengunjungi perpustakaan, dan mempelajari tesis-tesis terbaik. Selain itu, aku juga memiliki janji untuk menyelesaikan satu impian besarku bersama dengan seorang teman, dan membayar satu hutang pekerjaan yang telah kutunggak selama 2 tahun *ini sungguh sangat memalukan*. Yang terbesar tentunya menikmati Ramadhan dengan ibadah yang khusyuk dan khidmat. Beberapa hari lalu aku baru saja berjalan-jalan ke tambang emas di Pongkor, Jawa Barat. Hap hap hap, 1 hari perolehan emas PT. Freeport Indonesia = 1 tahun perolehan emas Antam Pongkor *gak kebayang gimana megahnya tambang PT. Freeport yang secara tidak sopan hanya memberikan 1% saja untuk tuan rumah yang kemudian secara rakus dilipat habis oleh Jakarta*. Hari ini, aku masih capek akibat perjalanan dua hari lalu, namun cukup senang ketika melihat video selama perjalanan yang gokil. Meski lelah aku harus keluar dari sangkarku *kosan maksudnya* dan melakukan apa yang telah kurencanakan sebelumnya: Ke pos dan ke RS Yadika untuk bertemu dengan dokter gigi-ku. Aku berkubang dalam cuaca panas dan polusi yang sangat menyebalkan, juga riuh rendah suara aktivitas kota Depok yang membuatku benar-benar sakit kepala. Dan hup, naiklah aku ke kereta menuju Tebet. 

Aku masuk ke gorbong ujung alias gerbong khusus wanita. Baru tersadar bahwa pintu kereta tak bisa tertutup sepenuhnya. Oh oh oh ini kereta yang dulu kuanggap keren *padahal kereta bekas yang dihibahkan Jepang* sudah mulai menunjukkan keburukannya dan siap menjadi rongsokan. Aku semakin muak saat menyadari bahwa di gebrong ini banyak tercecer bungkus permen dan beberapa kulit buah. Kampungan banget sih nih penumpang *macam di kereta ekonomi* buang sampah di transportasi umum dan berAC pula. Sungguh buruk kebiasaan orang Indonesia terkait sampah.

Berikut beberapa hal buruk selama perjalanan Depok-Tebet-RS. Yadika:
1. Sampah. Sungguh aku sangat benci pada sampah yang dibiarkan terserak begitu saja dan mengotori ruang publik. Setidaknya jika pemerintah belum mampu mengelola sampah seperti di Jepang, minimal mereka tegas untuk membuat sampah-sampah itu terkumpul di tempat penampungan seperti tong sampah, TPS dan TPA. Sampah berserakan di sepanjang jalan yang kulalui, di jalan-jalan, di aliran sungai, di taman-taman, di halaman rumah, di siring-siring, di stasiun kereta, apalagi di pasar! Aku bingung mengapa orang-orang kehilangan rasa hormatnya pada bumi, pada tempat mereka menghirup udara dan menimba air, juga memanen makanan! Aku bingung mengapa mata mereka tidak gatal melihat sampah berserakan dan menganggu penciuman mereka! Masya Allah, kubilang ini pasti gara-gara televisi yang terus-menerus menyiarkan tayangan-tayangan bodoh dan iklan-iklan yang menipu sehingga masyarakat terbuat untuk hidup instan. Sampah, sekali lagi aku sangat membenci sampah, apalagi sampah yang dibiarkan berserakan. 

2. Polusi. Aku menyadari bahwa konsekuensi dari tata kota dan tata transportasi yang buruk adalah polusi. Sejak keluar dari Stasiun Tebet dan melakukan perjalanan menuju RS. Yadika via Bajaj aku nyaris pingsan karena polusi udara yang parah, panas terik yang menyengat, dan tentunya sampah dimana-mana sampai-sampai air dan saluran air saja berwarna hitam. Argggggghhhh ingin kutonjok kepala dinas kepala dinas kebersihan dan tata kota di Jakarta Timur ini. Apa kerjanya selama ini, atau hanya makan gaji buta?

Cerita kedua, 
Setiap kali aku berhenti di stasiun Tebet aku selalu mampir di penjual buku bekas di samping rel kereta. Miris memang, sebab didekat para pedagang barang-barang bekas berjualan terdapat plang bertuliskan "Dilarang berjualan disepanjang rel kereta". Maybe, para pedagang itu tak memiliki pilihan sebab didalam stasiun sendiri sudah penuh oleh para pedagang. Yah, karena alasan aku menyukai beberapa koleksinya, maka aku tak kuasa untuk tidak membelu buku di lapak penuh debu tersebut. Lagipula tidak ada larangan untuk tidak membeli, yang ada adalah larangan berjualan. Ha ha ha ha, padahal sama saja. Ya sudah lah, penjual melanggar peraturan berjualan dan aku sebagai pembeli memperkuat alasan sang penjual melanggar peraturan alias sesama warga negara yang melangggar peraturan dilarang melapor ke polisi, qiqiqiqiqiqiqi....


Cerita ketiga, 
Borong buku Dewi Lestari 'Dee' di toko buku dekat stasiun UI. Rencananya mau baca semua koleksi 'Supernova'. Kesemua buku ini akan kulahap saat liburan ke Cisolok besok-minggu. Ya, paling-paling aku dibilang 'nggak niat liburan' sama teman-temanku karena akan sibuk membaca buku dan menulis reviewnya untuk blog ini. Sabodo teiung ah, yang penting aku senang.


Cerita keempat, 
Nyiapin barang-barang apa aja yang mau dibawa ke Cisolok dan siap dimasukkan kedalam ransel kesayangan, mencuci semua baju kotor supaya kosan gak bau pas ditinggal dan tentunya makan yang lahap untuk mencapai target berat badan 50kg *susah banget menaikkan berat badan sampai 2kg saja, ups!*

Depok, 14 Juni 2012
-jangan sampai besok bangun terlambat-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram