SUPERNOVA: PETIR


Buku ketiga dari serial Supernova ini diawali oleh kisah Dimas yang bingung hendak memberikan kado apa para Reuben pada hari jadi ke 12 tahun mereka sebagai pasangan homoseksual *agak bingung juga ketika dalam buku pertama dan kedua nama keduanya ditulis dengan ejaan Dimas dan Reuben, sementara dibuku ini memakai ejaan Dhimas dan Ruben. Hm, Dee lupa kali yaaaa*. Ketika Dimas tak menemukan benda apa pun yang pantas dijadikan kado untuk Ruben, maka ia berpikir apa mungkin mereka tinggal serumah saja. Pada saat mereka membuka email, seseorang bernama Gio mengabarkan bahwa Diva hilang di hutan di Amazon *Cerita Gio dan Diva ada di buku 1 dan 2*. Lalu, cerita tentang mereka berakhir sampai disini, bab selanjutnya hingga akhir adalah cerita tunggal mengenai si petir.

Elektra, adalah gadis keturunan Tionghoa yang lahir dan tinggal di Bandung mengalami aneka metamorfosis setelah kematian ayahnya dan pernikahan kakak semata wayangnya, Watti. Jika selama tinggal bersama ayahnya yang selama 2 dekade berwirausaha sebagai tungkang listrik dan ahli reparasi yang berhubungan dengan listrik, Elektra lebih suka menghabiskan hari dengan tidur siang dan bermalas-malasan. Maka ketika ia hidup sebatangkara ia harus melakukan perubahan dan penyesuaian agar dapat bertahan hidup dan dapat membuktikan pada Watti bahwa Watti bukan segala-galanya. Ia mewarisi rumah besar ayahnya yang bernama Eleanor alias rumah peninggalan Belanda, sementara Watti tinggal di Tembagapura, Papua untuk menemani suaminya yang merupakan staff medis PT. Freeport. Ditengah pencarian akan aneka pertanyaan yang berhubungan antara dirinya dan petir, bertahan hidup dengan sisa tabungan yang ia miliki dan bertahan dari cemoohan Watti bahwa ia gadis yang tidak menjanjikan, bertemulah ia dengan Bu Sati. 

Elektra berkunjung ke toko Bu Sati untuk membeli beberapa keperluan klenik dalam rangka melamar kerja ke perguruan tinggi ilmu ghaib yang ia peroleh dari selebaran yang secara aneh tiba di kolong pintu rumahnya *yang ternyata penipuan, hahahahahaha*. Sebenarnya Elektra sudah tahu toko yang dikelola Bu Sati sejak ia masih kecil, namun ia tak memiliki keberanian meski untuk membuka pagar halaman dan menganggap toko itu sebagai rumah Nenek Sihir. Biasanya ia hanya mengintip dari pagar lalu lari terbirit-birit. Kunjungan pertamanya ke toko itu ternyata berbuah keakraban dan sesekali Elektra menikmati makan siang buatan Bu Sati, yang artinya ia absen dari makan menu sangat sederhana di rumahnya alias hanya telor ceplok, telor ceplok dan telor ceplok. Dari Bu Sati pula Elektra tahu bahwa dirinya memiliki kelebihan bisa menyerap dan menghantarkan listrik dari alam. Untuk mengelola listrik dalam dirinya, Bu Sati mengajarkan elektra meditasi agar ia memperoleh keseimbangan dan jadi perantara yang baik antara energi bumi dan langit, yin dan yang. Meski Elektra belum bisa mengendalikan udara seperti Bu Sati yang bisa meditasi sembari tubuhnya terangkat ke udara beberapa inci, ia tahu bahwa hidupnya telah berubah. 

Suatu hari Elektra galau berat dan Bu Sati sedang pulang kampung. Atas petunjuk temannya, Beatrix, untuk mencari pertemanan di dunia maya melalui internet dan keterpaksaannya buat email yang beralamat: elektra@kokom.com, ia mulai keranjingan berinternet dari pagi sampai pagi lagi sampai-sampai mukanya kucel karena kurang tidur dan makan dari mie goreng ke mie rebus dari kantin warnet Beatrix yang dikelola Kewoy. Ketika ketemu kembali dengan Bu Sati, elektra mendapat petunjuk untuk berinternet ria di rumahnya sehingga pola hidupnya bisa terjaga, maka untuk pertama kali seumur hidupnya ia membeli komputer mahallllll yang ia juluki 'si 7 yuta'. Kegiatannya berinternet ternyata membuahkan hasil manis, atas saran Bu Sati untuk menjadikan rumahnya yang besar lebih berguna akhirnya dengan dibantu Kewoy ia menemukan seorang jagoan bisnis di bidang per-warnetan. Namanya Toni alias Mpret. Berkat kerjasamanya dengan Mpret dan sedikit saham Kewoy, elektra membuka Warnet, Mpret membuka rental Ps dan ada seorang rekan lagi membuka distro pakaian anak muda, plus memboyong mas Yono sang penjual mie dari jalanan ke warung kecil sebagai restoran mie di zona Elektra Pop. 

Suatu hari entah kapan, Elektra bad mood dan selama berhari-hari ia sakit. Namun setiap kali mau ke dokter ia selalu segar bugar secara tiba-tiba, dan sakit lagi saat ia duduk di meja kasir. Karena penasaran dengan sakitnya yang aneh, maka Kewoy dan Mi'un berusaha menyergap Elektra di kamarnya agar bisa diboyong ke dokter, eh yang terjadi malah mereka semua kesetrum tubuh Elektra hingga terjengkang. Kata Bu Sati, itu akibat Elektra tidak melatih keseimbangan energi dalam tubuhnya. Setelah diberi pelatihan untuk menyalurkan energi listrik dalam tubuhnya Elektra justru menjadi terkenal sebagai penyembuh penyakit encok, dan pasien pertamanya adalah Kewoy. Mulut ember Kewoy menjadikan kekuatan Elektra terkenal dan rumahnya jadi ramai oleh orang-orang yang berkunjung untuk berobat ala Elektra. Resmilah ia memiliki Klinik Elektrik, yang bahkan bisa menstimulan Pak Simorangkir untuk sembuh dari penyakit tuanya akibat stroke. 

Watti sang kakak masih belum percaya bahwa adiknya telah menjadi wanita karier dan terkenal sebagai selebritis elektrik di kota Bandung. Maka pas Lebaran Watti baru menyadari bahwa Elektra memang telah bermetamorfosis dan lebih dikenal oleh keluarga suaminya saat mereka mengadakan halal bi halal. Suami Watti malah menjadikan Mpret sebagai mitra untuk buka usaha keluarganya di Bandung dan menciptakan spot-spot baru untuk nongkrong. Elektra tahu, bahwa ia tidak menderita epilepsi sebagaimana yang ayahnya katakan dahulu, melainkan karena ia memiliki kelebihan yang selama ini belum ia sadari dan belum ia seimbangkan, kecuali bahwa ia masih hidup meski pernah disambar gledek dan mampu memanggil petir dengan tarian petirnya. 

Ditengah renungannya mengenai metamorfosisnya dan dunianya yang kini tak lagi sepi dan tak lagi sengsara, ia bertemu dengan Bong *temannya Bodhi di komunitas punk di Jakarta, diceritakan di buku kedua* yang ternyata merupakan sepupu Mpret. Tak lama setelah mengetahui kemampuan Elektra, Bong menyatakan bahwa seorang temannya yang sangat ia cintai dan sekaligus gurunya membutuhkan Elektra untuk menolongnya bangkit dari kesedihan berkepanjangan yang dialaminya. Bertemulah Elektra dengan Bodhi. 

DARRR, begitu ceritanya. Kesimpulan sementara:

Supernova 1 = Diva alias si jaring laba-laba
Supernova 2 = Akar = Bodhi
Supernova 3 = Petir = Elektra

Sebagaimana yang diungkapkan Dee diawal buku ini dan sebagaimana sanjungan para pembaca, aku juga beranggapan bahwa dari ketiga serial Supernova, seri ke 3 inilah yang paling ringan, kocak, lucu hingga ngocok perut dan dipenuhi bahasa sehari-hari yang aneh bin ajaib tapi nyentrik. Membacanya tidak bikin pusing sebagaimana buku pertama dan kedua, dan menyerupai kehidupan sehari-hari yang sangat biasa banget, tetapi jejaringnya yang bikin cerita buku ini hidup dan aku bisa memiliki sedikit gambaran di kepalaku mengenai beberapa peritiwa yang terjadi didalamnya. 

Besok, Supernova: Partikel  *sepertinya kembali serius sebab berkaitan dengan bumi dan seisinya* kuusahakan selesai dan segera kubuat reviewnya. Sebab, aku masih memiliki beberapa buku Dee yang belum kubaca, buku lain yang belum kubaca, dan tadi sore aku baru beli dua buku baru yang mau-tak mau harus kubaca selama perjalanan menuju Jogja, selama di Jogja dan perjalanan pulang dari Jogja. 

Depok, 24 Juni 2012


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram