Anak-Anak Zaman, Anak-Anak Dongeng



Siang tadi aku ke Detos untuk mengambil baju yang sudah selesai dikecilkan dari toko aku membelinya seminggu lalu. Ada keramaian. Oh, ternyata sedang ada lomba peragaan busana anak-anak dan remaja. Sempat aku berdiri mematung diantara para pengunjung yang penasaran akan aksi gadis-gadis cilik yang berlenggak-lenggok diatas panggung umpana Cinderella dan Putri Salju. Aku lumayan sinis dengan acara tersebut. Sungguh tega ya para ibu menjadikan putri-putri kecil mereka boneka yang semi robot, dan mendidik mereka untuk hidup bak putri dari negeri dongeng. Aku salut dengan keberanian gadis-gadis cilik tersebut untuk memamerkan kemampuannya berlenggak-lenggok dihadapan banyak orang, tetapi aku bisa melihat banyak hal yang sesungguhnya menjadikan mereka bukan diri sendiri. 

Pertama, setiap anak didandani ala orang dewasa. Rambut mereka dikeriting, disanggul, ditambahi sanggul palsu, dan tak ada satu anak pun yang rambutnya dibiarkan tergerai alami. Mereka dipaksa menjadi perempuan dewasa hanya agar mendapatkan penghargaan sebagai yang terbaik dan yang tercantik. Wajah mereka yang imut dengan kulit mulus belum ternoda dilapisi make up yang benar-benar hanya cocok bagi perempuan dewasa. Wajah mereka seakan-akan dipercantik, tetapi menghilangkan kecantikan yang lucu dan menggemaskan sebagai inner beauty masa kanak-kanak. Alis mereka ditebalkan dengan pensil, kelopak mata mereka diwarnai dengan eye shadow berwarna-warni, pipi mereka diberi foundation, bedak dan bluss on, dan bibir mereka diwarnai oleh lipstik. Benda-benda itu hanya boleh dipoleskan ke kulit orang dewasa, bukan ke kulit kanak-kanak yang masih bersih dan lembut. Oh God!

Kedua, gerakan mereka dipanggung telah disetel sebagaimana yang ibu atau pelatih instruksikan. Cara berjalan, cara menaruh tangan di pinggang, cara tersenyum, cara menjentikkan jemari, cara berpose anggun dan memikat. Tetapi, kekakuan dan gerakan yang didasarkan atas kerja keras mengingat latihan tak bisa berbohong. Anak-anak itu berusaha tampil sempurna tanpa gerakan refleks yang mereka ciptakan sendiri untuk menguasai panggung. Pakaian yang mereka pakai bernuansa pesta, dan dalam hal ini aku menilai bahwa setiap anak telah dididik untuk menjadi orang kaya dan glamour jika dewasa, pakaian merteka harus bagus dan gemerlap dan tentu saja kehilangan kesejatian sebagai kanak-kanak. Oh God, oh God!

Ketiga, musik pengiring yang sangat tidak pas. Menurutku untuk peragaan busana anak-anak, meksi temanya pesta sekalipun mbok ya setel lagu-lagu anak-anak bernuasa pesta agas pas dengan usia dan emosi mereka, bukan lagu dewasa yang nggak nyambung sama psikologi mereka. Seingatku banyak lagu anak-anak yang bernuasa pesta, seperti milik Tasy. Argggggggghhhh, ada apa dengan otak para ibu?????

Kalau kelak aku jadi seorang ibu, semoga aku gak kerasukan nafsu jahat dan menjadikan anakku boneka dan robot penghasil kebanggaan semu.

Depok, 24 Mei 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram