Semangkuk Amarah di Kampus UI

Ilustrasi
Apakah hari ini aku dan orang-orang yang kutemui lagi pada bad mood? Atau karena ini tanggal tua? Hari ini ada dua jadwal ujian 2 makalah plus 1 presentasi.  Semalaman aku berusaha untuk terjaga agar aku bisa menyelesaikan kedua makalah dengan sempurna. Aku tidak mau lulus dari UI dengan nilai buruk. Aku hampir limbung, tapi aku bertahan karena aku hendak memberikan yang terbaik pada dosenku dan kampus tempatku belajar, aku makan makanan apa saja yang ada di kamar agar aku bertenaga. Pagi hari aku baru tahu bahwa hari ini aku menstruasi sehingga alasan hampir limbung itu kuat, bahwa hormon dalam tubuhku tengah mengalami siklus bulanannya. Kedua makalah selesai tepat waktu, ujian tertulis di kelas terlaksana dangan baik, hingga.......

Aku nggak tahu harus tertawa apa nangis bombay. Pastinya aku geli saja atas tragedi hari ini. Dosen menghakimi dan marah besar. Ada mahasiswa yang balik marah besar juga. Lagi pada super duper bad mood kali ya? misunderstanding yang rumit. Setelah itu semua pada ngoceh, aku juga, memuntahkan kebenaran versi masing-masing. Sang dosen  meluncur pulang. 

Sambil menahan sakit di perut dan hampir tertabrak mobil yang pengemudinya nampaknya gak paham aturan *jalan Margonda memang arena balapan :((*, aku pulang dengan langkah gontai. Memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi di kelas. Ini UI, ini UI, ah mengapa begini? bukan salahku aku tak kebagian waktu untuk presentasi sebagaimana 4 teman lain, karena jika kembali ke Jadwal, ya memang hari ini jadwalku. Jika kurunut aku tahu ini salah siapa; salah dosen, mahasiswa dan pihak jurusan IKS. Kalau nilaiku untuk mata kuliah ini jelek gara-gara misunderstanding yang rumit ini, wah akan aku tuntut dosennya!

Jadi begini: dua minggu lalu dosen mata kuliah A memberi tahu bahwa hari ini kami akan melaksanakan ujian, yaitu presentasi makalah sejak pukul 4 sore sebab ada 9 orang yang belum presentasi. Hari di dua minggu lalu itu memang tiga orang mahasiswa mangkir melaksakan tugasnya sehingga ia harus mengambil jatah aku dan 5 orang kawan lainnya untuk presentasi hari ini. Masalahnya kami mendapat jadwal bahwa kuliah B ujian hari ini jam 4.30 sore, so nabrak kan? kupikir ya oke lah yang atur jadwal kan pihak jurusan dan dosendan pastinya sesama dosen sudah saling komunikasi. Positif thinking.  Yang penting hari ini aku bisa mengikuti kedua ujian dengan selamat. sebelumnya aku dapat informasi bahwa presentasi makalah kuliah A akan dimulai pukul 6 sore. Aku bersyukur dapat haid hari ini karena aku nggak harus keluar kelas untuk shalat Maghrib, dan bisa langsung presentasi.

Jam 5 sore ujian kuliah B dimulai, langsung pak Prof. yang menunggu kami menjawab soal-soal. Ujian model begini sangat menyebalkan, bikin tangan dan leher pegal, plus serasa menjadi terdakwa yang harus diawasi. Pendidikan menjadi semacam alat legitimasi untuk mengetes si mahasiswa jujur apa nggak, nyontek nggak, dan sebagainya. Hanya itu. Nah, selama ujian aku tertawa geli dengan keanehan sederhana tapi bisa bikin petaka. Ujian kuliah B akan selesai jam 6. 15 sore sementara informasi yang kudapat ujian kulaih A akan dimulai pukul 6 sore, nabrak 15 menit. 

Dengan wajah dilipat dosen memulai ujian dan temanku presentasi pertama pukul 7 malam. Dan dalam proses mengoreksi kesalahan mahasiswa sang dosen terkesan menghakimi. Padahal tugas yang diberikan adalah kami melakukan kegiatan kunjungan belajar/ semi magang di sebuah instansi dalam jangka waktu 4 minggu, tapi tidak full karena diantara kami banyak yang bekerja dan sore hari harus kuliah pula. Tapi dalam proses mengoreksi ini dosen tampak menginginkan hasil yang ditunjukkan serupa dengan hasil penelitian untuk skripsi. Ya ampun, mana bisa! semua yang presentasi kena bantai deh...
"Anda itu mahasiswa S2, yang begini mah anak S1 juga jago..." salah satu komentar menyakitkan dan tidak membangun. Sang dosen adalah Psikolog, tapi masa iya psikolog bersikap begitu, mana bisa muncul inspirasi dan inovasi dari penindasan super sopan macam begitu. Atau "Sudah saya katakan berkali-kali, kalau....." dan Dosen lupa tugasnya sebagai 'Sang Pencerah" dan bukan Hakim atau petugas KPK.

Baru tiga orang presentasi, dosen lalu mangatakan bahwa dengan berat hati sisanya tidak bisa presentasi, termasuk aku. Mereka marah karena jadwal presentasi yang seharusnya dimulai jam 4 sore baru dimulai jam 7 malam karena ada ujian dari mata kuliah lain. salah seorang dosen mengatakan bahwa komunikasi diantara kami buruk dan baru di kelas kamilah ia mengalami hal seperti ini. Gubrakkkkkkk, serasa dilempar ke tembok China deh. Lalu bagaimana dengan komunikasi sang dosen dengan pihak jurusan? ah, gara-gara misunderstanding yang rumit hubungan dosen dan mahasiswa menjadi sangat tidak menyenangkan. Rencananya usai ujian mau photo bersama, malah Bad ending :((

Akui: Salah semua. Semua tidak berkomunikasi dengan baik dan mengandalkan jurusan. Sementara jurusan selalu berdalih bahwa jadwal ujian juga bergantung informasi dari dosen mata kuliah yang bersangkutan. Nah, jadi memang benar salah semua. 

Jika melakukan refleksi atas berjalannya perkuliahan selama semester 2, aku menilai bahwa pihak jurusan tidak mengarahkan agar mahasiswanya untuk menjadi ekspert dalam ilmu kesejahteraan sosial, padahal kami sudah masuk ke kuliah untuk masing-masing peminatan. Ini dibuktikan dengan mata kuliah yang banyak namun minim kredit. Jadi seolah-olah mahasiswa S2 harus mempelajari banyak hal sekaligus tanpa memikirkan apakah  snag mahasiswa bisa menjadi ekspert dalam banyak hal. Seorang kawanku yang kuliah di Hawaii ternyata menjalani model perkuliahan yang berbeda. Dia ambil S2 Education. dalam satu semester ia hanya menjalani 2 mata kuliah saja tapi satu mata kuliah 9 kredit, dan dosen tidak pernah mangkir atau terlambat dari tugas mengajar alias *Fokus*. Jadi untuk menyelesaikan S2 ia harus mengikuti perkuliahan selama 4 semester atau 2 tahun, dan setengah tahun lainnya untuk mengerjakan penelitian. Beda, bukan dengan UI?

Ujian semester dua ini adalah masa-masa terakhirku menyelesaikan perkuliahan sebagai mahasiswa S2 IKS di UI. Apa yang kudapat? Aku mengakui bahwa aku mendapatkan banyak hal baru, tetapi aku tidak bisa menjadi ekspert dalam bidang kesejahteraan sosial. Bukan karena sewaktu S1 aku tidak kuliah di jurusan yang sama, atau aku kurang banyak membaca buku, melainkan aku sangat minim pengalaman dalam kerja lapangan yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial. Tanpa pengalaman kerja lapangan sebanyak apapun ilmu yang kuperoleh dari kelas, aku bukan apa-apa, aku hanya akan lulus dengan menyandang gelar M.Si. Untuk prestise sosial itu jelas menguntungkan, apalagi kalau pulang kampung. Tapi untuk pengabdian sesungguhnya sebagai seorang intelektual, aku belum tentu mampu.

Satu pengalaman penting justru kuperoleh atas diskusi dengan seorang kawan, dan tak ada hubungannya dengan perkuliahanku di UI. Obrolan kami kusimpulkan bahwa selama ini pendidikan Indonesia memuja Barat sehingga seluruh anak didik dicekoki teori barat. Para Mahasiswa mati-matian mempelajari teori Barat dan melakukan penelitian di negerinya yang kaya budaya hanya untuk membuktikan teori-teori Barat itu benar atau tidak. Tetapi, sangat sedikit mahasiswa Indonesia yang mau membuat teori sendiri dan dosen tidak mengarahkan kesana. Orang Barat belajar ke Indonesia, mengagumi budaya Indonesia, dan mereka pulang untuk membuat teori baru. Pendidikan di Indonesia bahkan jauh dari philosofi pendidikan itu sendiri sebagai pembebasan dan pencerdasan. 

Menurutku, tragedi di kelas hari, di hari ujian, adalah bukti kegagalan dosen dalam melakukan pencerdasan dan pembebasan pada peserta didik. Selama kuliah kami hanya dicecoki aneka teori Mulai dari Weber, Mark, Durkheim, sampai nama-nama yang sangat tidak ingin kuingat *jadi migrain*. Dari sewaktu aku kuliah S1 sampai S2 saat ini, nama-nama itu yang melulu menghiasi perkuliahan. Aku bosan. Mengapa tak ada satupun teori yang berasal dari China, Jepang atau Australia, atau dari pedalaman Jakarta? Bukankah negara-negara penganut Social Welfare sedang menuju kebangkrutan, dan ras Kuning sedang berjalan bersama pasukannya untuk menguasai dunia? Mengapa kita harus terus menghadapkan wajah ke Barat, mengapa tak sesekali ke Timur? 

Selain itu, ya karena mahasiswa yang belum siap *mungkin* untuk menjadi ilmuwan tapi nekat S2. Tapi nggak salah juga sih, tujuan seseorang masuk ke lembaga pendidikan kan memang untuk tahu dan menjadi cerdas. Karena hal inilah pada akhirnya tidak ada proses timbal balik antara dosen dan mahasiswa dalam perkuliahan. Jika sang dosen setiap hari bergelut dengan aneka hal berbau ilmu/ teori dan penelitian, sementara mahasiswa bergelut dengan pekerjaan yang kadang-kadang pekerjaannya jauh banget hubungannya sama kuliah yang dia ambil, meski kalau mau dipaksa disambungkan bisa nyambung dikit. Bertemu di kelas, jomplang jadinya. Nah, menurutku inilah awal mula tragedi hari ini bisa terjadi. *hhhm, jadi ingat kuliah pak Anas*,

Jadi ingat pertanyaan seorang kawan, "Ngapain ambil Ilmu Kesejahteraan Sosial? Kenapa nggak ambil Studi Pembangunan saja? Ada tuh teman dulu kuliah di UI trus keluar, nggak betah katanya, ngebosenin." Glekk, iya ya, bayarnya lebih mahal dari FKM lagi.

Depok, 30 Mei 2012
- jadi laparrrrrrrrrrrr-


Wijatnika Ika

4 comments:

  1. Salam kenal Mbak

    Perkenalkan saya Luthfi, Alumni S1 Ilmu Kesejaheraan Sosial. Saya tersentil dengan tulisan mbak, bukan karena kaget baru tahu tapi itu juga yang saya rasakan selama s1. Sayang sekali jurusan dengan subjek ilmu yang jarang di Indonesia yang harusnya jadi teladan kampus lain, manajemennya kurang baik meskipun banyak perbaikan hingga kini. Saya juga sering diskusi dengan teman-teman, terutama karena saya juga aktif di himpunan, tentang orientasi pendidikan kesejahteraan/pekerjaan sosial di Indonesia, yang di luar negeri begitu dihargai. Sepertinya gak salah kalau kita harus berkaca dengan kekayaan dan kearifan budaya sendiri sehingga muncul experts pekerja sosial yang orisinil dari Indonesia.

    Jujur saya tertarik juga melanjutkan s2 di bidang ilmu saya, tapi saya kira di Indonesia belum ada tempat yang bagus untuk belajar. Saya kira magister kesejahteraan sosial di UI dan UGM yang terbaik di Indonesia, belum jadi tempat belajar yang kondusif dan kontributif untuk perkembangan kesejahteraan negerinya sendiri. Kembali lagi ke peran pekerja sosial di masyarakat kita, belum terlihat nyata...

    ReplyDelete
  2. Hi Luthfi, salam kenal.

    Ah, itu tulisan lampau waktu jadi mahasiswa yang marah hahahaha
    saya salut jika kamu berminat melanjutkan studi S2 Ilmu Kesejahteraan Sosial. Kalau boleh saran sih cari beasiswa ke Australia, Swedia, Finlandia atau negara2 skandinavia lainnya. Penerapan konsep social welfare disana sepertinya lebih menarik untuk dipelajari. Atau kalau mau ekstrem cari negara-negara Amerika Latin.

    Selamat mencari

    ReplyDelete
  3. Sebenarnya kita juga bisa belajar dari negeri Timur seperti Jepang atau Cina. Konsep kesejahteraan punya mereka lebih unik, daripada mengacu ke negeri Barat. Atau Mbak pernah denger kesejahteraan positif ala Anthony Giddens? Saya suka bagaimana beliau berargumen tentang buruknya konsep kesejahteraan residual seperti negeri kita anut sekarang

    ReplyDelete
  4. Kita membedakan konsep social welfare antara Barat dan Timur mungkin karena Barat mengacu pada Kapitalisme dan Timur pada Sosialisme. Keduanya punya kekurangan dan kelebihan. Tapi tak salahny belajar pada negara2 Skandinavia atau sekalian ke negara-negara yang sedang bangkit di Amerika Tengah dan Selatan. Saya tidak terlalu mengacu ke China sebab meski mereka menerapkan konsep Sosialisme, ketidakadilan dan pemerasan terhadap kaum buruh disana sangat tinggi, juga pencemaran lingkungan yang sangat parah. Beijing lebih pada dari Jakarta tingkat polusinya, dan negara yang demikian tak bisa dijadikan ukuran mengenai kesejahteraan sebab sejahtera bukan berarti pertumbuhan ekonomi saja.

    Membaca konsep kesejahteraan ala Amartya Sen lebih sejuk, karena disana disebutkan juga mengenai kesejahteraan psikologis.

    Salam.

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram