Aburizal Bakrie vs Tanur



Sebuah novel biografi berjudul “Anak Sejuta Bintang” karangan Akmal Nasery Basral ini menarik perhatianku. Aku membelinya di TM Book Store, Detos  sekitar sebulan lalu. Kukira ini novel ini berisi kisah heroik seorang bocah. Saat melihat judulnya dan desain sampulnya yang menarik aku beranggapan bahwa novel ini bercerita mengenai anak desa di sebuah perkampungan yang berjuang gigih untuk memperoleh cita-citanya berkat kesungguhannya dan dukungan keluarga, terutama ibunya. Pas baca halaman-halaman awal kok jadi tentang Aburizal Bakrie ya? Imajinasiku kosong-melompong dari gambaran Bakrie dimasa kecil. Selagi membaca yang terbayang justru wajah Bakrie yang sekarang, sang pengusaha sukses dan politisi.

Novel ini bercerita tentang masa kecil Bakrie sejak di TK Perwari hingga SD Perwari. Meski dalam cerita digambarkan bahwa orangtua Bakrie bukanlah orang berkecukupan pada awalnya, tapi untuk standar di tahun 1950an, keluarga Bakrie termasuk keluarga berada. Masa kecil Bakrie mulus, dalam artian ia tak mengalami kesulitan untuk bisa sekolah, kebutuhan sandang, pangan dan papan tercukupi, ia juga mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orangtuanya karena merupakan ‘bintang’ dalam keluarga. Ya okelah, mungkin memang demikian masa masa kecil pak Bakrie sehingga bisa memacunya menjadi pengusaha dan politisi yang sukses. Tak sia-sia orangtuanya menjadikan ia bintang. Meski gaya komunikasi dalam novel ini kaku, seakan-akan dipaksakan untuk bersopan diri jika dibaca pak Bakrie yang sudah paruh baya. Siapa yang tak kenal Aburizal Bakrie kini? Ia merupakan salah satu orang Indonesia terkaya di Asia dan politisi Partai Golkar yang kabarnya mau mencalonkan diri sebagai Presiden di pemilu 2014. Perusahaannya dimana-mana, beberapa kali jadi menteri pula. Ah, apa kurangnya hidup pak Bakrie ini?

Kisah Bakrie kecil berbeda 180 derajat dengan kisah Tanur. Bocah ini lahir dari seorang perempuan lemah nan miskin bernama Daya di Porong, Sidoarjo dan ditinggalkan ayahnya sejak ia masih dalam rahim ibunya. Ibunya tinggal di rumah sangat sederhana peninggalan kedua orangtuanya. Daya tidak memiliki pekerjaan dan ia tak punya tanah luas untuk dijadikan kebun. Sesekali ia bekerja serabutan demi menghidupi dirinya dan Tanur kecil. Bahkan, karena saking miskinnya ia selalu menghindar jika dukun bayi yang dulu membantu proses persalinan Tanur bertamu ke rumahnya untuk mengantarkan lauk berupa tempe bacem kesukaan Tanur. Daya malu karena ia masih menunggak hutang biaya persalinan Tanur yang tak mampu ia bayar. 

Untuk menghantarkan Tanur lulus SD saja Daya sudah kehabisan lapangan pekerjaan sehingga ia benar-benar tak percaya bahwa Tanur bisa lulus SD. Bantuan biaya sekolah yang ia minta pada kepala Desa tak pernah diberikan. Daya justru mendapat ancaman karena ia vokal menyuarakan penolakan menjual lahan satu-satunya kepada perusahaan raksasa di Sidoarjo yang hendak memperluas perusahaannya dengan membeli tanah milik warga. Daya dan warga desa kerap kali termakan tipu muslihat pejabat kelas kampung yang terdiri atas Pak Kepala Desa dan jajarannya. Bahkan Tanur nyaris dipenjara akibat difitnah membunuh dukun yang membantu persalinan ibunya, sementara Daya difitnah melakukan perbuatan mesum dengan satu-satunya guru ngaji di kampung itu, sampai-sampai warga desa yang terhasut menghancurkan rumahnya. 

Dalam kondisi kehilangan rumah dan kehormatan dihadapan warga desa yang berkehendak mengusirnya, desa dilanda bencana lumpur panas. Warga desa yang panik karena takut rumah dan lahannya terendam, lagi-lagi kena tipu broker tanah yang merupakan asisten kepala Desa. Saat warga desa mulai mengungsi karena lumpur mulai merendam desa, Daya yang harus siap kehilangan rumah dan tanahnya justru sedang berfikir keras untuk mendapatkan uang sebesar Rp. 2.000.000 sebagai biaya Tanur masuk SMP. Karena pertolongan seorang dermawan, Tanur dan teman-temannya berhasil masuk SMP dan tak harus putus sekolah untuk menjadi pekerja anak agar bisa melanjutkan hidup. Namun, Tanur dan Daya harus hidup berdesakan di pengungsian karena desa Porong terandam kian dalam oleh lumpur panas yang berasal dari semburan gas di lokasi perusahaan yang dulu hendak membeli tanah warga desa. 

Kisah Tanur ini tertuang dengan apik dalam novel “Lumpur” yang merupakan buku pertama dari Trilogi Tanah dan Cinta karangan Yazid R Passadane. Bahasanya yang sederhana membuat novel ini benar-benar bisa membuat aku memiliki imajinasi tentang kehidupan tokoh-tokohnya yang miris, menyedihkan dan makin menyedihkan sejak meluapnya lumpur. Kisah Tanur, Daya dan warga desa Porong dalam novel ini merupakan kisah tentang perjuangan untuk hidup terhormat dengan bekerja keras, mempertahankan harta yang dimiliki dan mempertahankan idealisme dari hasutan-hasutan pejabat berhati busuk. 

Ical/ Bakrie kecil merupakan gambaran anak-anak kaum elit ketika itu, bahkan Ical berksempatan melihat Presiden Soekarno ketika SDnya tampil di Istana dalam peringatan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus. Tanur, yang biaya persalinannya saja belum lunas dibayar bukan saja tak memiliki peluang untuk bertemu dengan presiden untuk bicara perihal pendidikannya dan rumah serta tanahnya yang hilang ditelan lumpur Lapindo yang dulu milik Aburizal Bakrie, kepala Desa dan jajarannya saja jadi mafia. Jika tokoh Tanur saat ini bertemu dengan Aburizal Bakrie, apa kata dunia? Mungkinkah Bakrie tersentuh hatinya untuk bertanggungjawab atas kesalahan perusahaannya atau justru membual dengan menasehati Tanur untuk terus melanjutkan pendidikan dan menjadi anak yang manis. 

Bagiku, membaca dan menjalinkan hubungan kisah dalam dua novel ini sungguh menarik. Tanur dalam hal ini meski merupakan tokoh fiksi, tetap merupakan gambaran anak-anak Porong dan sekitarnya yang mewakili wajah kemiskinan dan penderitaan korban lumpur Lapindo. Jika dulu Bakrie dengan mudah melanjutkan sekolah ke SMP karena memang orangtuanya sangat mampu secara ekonomi, bagaimana halnya dengan Tanur dkk yang orangtuanya tak memiliki apa-apa lagi? Mungkinkah Tanur dkk bisa sukses menghalau rintangan berupa dana pendidikan sehingga bisa lulus SMP? Mungkin Bakrie menjadi kaya seperti sekarang ini karena dulunya mewarisi perusahaan orangtuanya yang namanya pak Bakrie juga, yang kemudian salah satu perusahaan Bakrie di Porong menjadi salah satu penyebab semakin miskinnya ibu Tanur dan masyarakat korban lumpur Lapindo, akibat kehilangan rumah, lahan berkebun, serta lokasi usaha. Mari kita melompat dari kisah Bakrie kecil yang bahagia ke kisah Tanur yang nestapa. Negeri ini benar-benar paradoks. 

Depok, 19 Mei 2012
Sumber gambar
buntelanbuku.wordpress.com 
jalistore.blogspot.com

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram