Pengalaman Pingsan



Pertama kalinya aku pingsan adalah waktu aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu seingatku aku dan kawan-kawanku sedang latihan paduan suara di halaman sekolah. Di bawah pohon di depan perpustakaan. Nah, tiba-tiba aku langsung pingsan dan tubuhku jatuh ke arah depan. Jadilah bibirku berdarah gara-gara menimpa kerikil. Alhasil untuk beberapa minggu bibirku jeding jadinya.

Nah, tahun kemarin saat aku tinggal di Jakarta untuk beberapa bulan aku mengalami nyaris pingsan 3 kali, dan itu terjadi di angkutan umum dan 1 kali di kampus UI Depok. Seingatku waktu itu siang hari, aku hendak ke menara Imperium di Kuningan. Aku memulai perjalanan menggunakan bus trans Jakarta dari Halte UI Salemba dan transit di Halte Dukuh Atas. Di Halte yang setiap hari penuh sesak oleh penumpang inilah aku mengalami gelala mulai dari pusing, kemudian kulitku berubah pucat dan sangat dingin, lalu pusing hebat hingga seakan-akan aku tak bisa melihat apa-apa dna tak bisa mendengar suara-suara disekelilingku. Saat aku melangkahkan kaki ke bus, aku merasa sedang melayang dan saat tiba didalam bus aku nyaris ambruk kalau tak dibantu orang-orang untuk duduk. Setelah kesadaranku mulai pulih, mulailah sekujur tangan dan kakiku mengalami kesemutan hebat. Mungkin saat kesemutan itu darah dalam tubuhku bergemuruh hebat layaknya air terjun atau ombak. Menurutku ini proses yang aneh.

Selanjutnya saat itu bulan Ramadhan 2011, aku dan beberapa kawan pulang dari mall Ambasador (mengantar seorang teman yang hendak membeli travel bang karena dia mau berangkat ke New Orleans, Amerika) di Kuningan menggunakan bus Trans Jakarta. Bus penuh sesak oleh penumpang yang memburu waktu berbuka puasa sehingga dalam keadaan lemas kami semua harus berdiri berhimpita *kebetulan tema-temanku Kristen semua jadi tak ada yang berpuasa*. Dalam kondisi itulah aku mengalami hal seperti kisah pingsan sebelumnya. Buru-buru teman-temanku meminta seorang lelaki yang tengah duduk memberikan kursinya untukku. Karena aku sedang berpuasa maka tak ada yang memberiku air minum sebab bisa membatalkan puasaku, namun aku diberi minyak kayu putih untuk meredakan pusing. Positifnya, aku bisa duduk sepanjang perjalanan sementara teman-temanku berdiri.

Peristiwa ketiga adalah ketiga aku nekat menggunakan kereta ekonomi dari Stasiun Cikini menuju Depok. Saat itu aku bermaksud untuk mencari informasi secara langsung mengenai S2 Sosiologi di FISIP UI DEpok. Penasaran dengan suasana kereta ekonomi, maka aku naik kereta ekonomi dan saat itu kondisinya penuh sesak oleh penumpang. Berdiri berdesakan dalam kondisi panas dan menghirup karbondioksida berlebihan menurutku yang membuatku hampir kolaps. Untung saja aku tidak pingsan. 

Kali keempat adalah sehari sebelum tes penerimaan mahasiswa baru UI. Hari itu setelah menyelesaikan urusan di UI Salemba, aku meluncur ke Depok via commuter dengan tujuan melihat lokasi tes di Fakultas Ekonomi. Saat itu kereta penuh dan mungkin aku sedang masuk angin dan kelelahan. Setelah turun dari kereta aku membeli teh manis hangat bermaksud untuk memulihkan kondisi tubuh, tapi tak lama setelah itu aku malah muntah. Karena kupikir aku sudah baikan karena sudah muntah, maka aku meluncur ke Fakultas Ekonomi menggunakan ojek. Sesampainya di lantai 2 gedung A, aku langsung muntah hebat. Aku belum tahu letak toilet dan muntah di salah satu sisi gedung, dekat pot bunga. Ah, sial sekali tak ada mahasiswa yang lalu lalang yang menolongku. Setelah menemukan lokasi toilet aku pun muntah-muntah sekitar 3 jam sampai-sampai aku berfikir bahwa saat itu aku akan mati. Saat aku muntah-muntah dan terduduk di lantai toilet karena kehilangan tenaga, tak ada seorangpun yang menolongku padahal ketika itu beberapa orang masuk-keluar toilet. Benar-benar sial saat itu. Setelah merasa reda aku baru minta tolong seorang petugas kebersihan membelikanku teh manis hangat dan memesan taksi *terima kasih untuknya*. Dan sesampainya di Jakarta aku langsung diimpus di RS Kramat 128. Untung kawan-kawanku yang hendak berangkat ke Inggris masih ada di penginapan sehingga mereka bisa menolong. Nah, setelah selesai impus, baru aku bisa makan sate padang bersama seorang temanku dan temannya, lalu pulang ke kosan untuk istirahat dan melakukan tes masuk UI keesokan harinya. 

Yang kelima, adalah hari ini. Siang tadi aku ke kantor WALHI Nasional di Tegal Parang Utara, bertemu dengan dua aktivis SHI untuk wawancara terkait tugas magangku. Untuk kembali ke Depok, aku berniat menggunakan commuter via stasiun Cawang. Aku menunggu kereta sejak selepas Magrib menjelang Isya. Karena 4 commuter yang menuju Depok dan Bogor penuh sesak layaknya kereta ekonomi, maka aku menunggu kereta yang agak kosong. Beberapa kali kereta ekonomi lewat dan penuh sesak. Entah berapa ribu orang-orang yang berdesak-desakan seperti ikan teri dalam toples itu. Mengingat keadaanku yang lelah dan lapar, aku harus bersabar menunggu kereta selanjutnya yang kosong. Maka naiklah aku ke commuter tujuan Bogor yang penuh sesak tapi lumayan memiliki ruang dibanding commuter-commuter sebelumnya. Aku memilih gerbong pertama dengan alasan aku akan aman di gerbong khusus wanita dan saat turun tak harus berjalan jauh. Karena aku kelelahan dan kelaparan, aku merasa sangat mudah lelah ketika berdiri sehingga aku harus memegang tiang kursi dan menyandarkan keningku agar aku tak limbung. Meski berAC aku merasa sangat panas karena karbondioksida yang keuar dari mulut penumpang saat bernafas plus mulutku sendiri. Pada fase inilah aku mengalami proses kehilangan kesadaran sebagaimana kejadian pingsan kedua. Aku nyaris pingsan dan aku ingat para ibu disekelilingku langsung medudukanku di kursi, dan salah seorang diantara mereka memberiku minum. Saat tubuhku dalam proses mengembalikan kesadaran, seseorang memberiku minyak angin dan aku menghirupnya agar aku kembali segar. Mereka bilang wajahku pucat *ah aku tak tahu bagaimana warna wajahku ketika pucat* dan menyarankanku untuk membeli teh manis hangat setelah turun dari kereta. Aku bersyukur kesadaranku kembali meski ketika berjalan pulang, aku masih limbung dan merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku  berterima kasih kepada para penolongku, semoga Allah membalas kebaikan mereka.

Pingsan merupakan kondisi hilangnya kesadaran secara tiba-tiba dan singkat karena kurangnya oksigen dalam otak. Nah, kondisi pingsanku ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor.  Pertama, karena reaksi saraf Vagus atau overstimulasi saraf vagus yang memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah sehingga mengurangi asupan darah ke otak. Kedua, karena perubahan tekanan darah, misalnya karena ku terlalu lama berdiri. Beberapa bulan ini aku tak khawatir dengan tekanan darahku yang biasanya rendah, karena beberapa kali periksa ke dokter tekanan darahku normal. Tapi hari, nampaknya terjadi perubahan signifikan. Ketiga, Anemia atau kekurangan sel darah merah dan zat besi. Kukira aku tidak menderita anemia, tapi kalau kekurangan zat besi mungkin juga karena aku mulai jarang makan. Pemeriksaan darahku beberapa bulan lalu menunjukkan bahwa sel darah merahku normal. Keempat, dehidrasi. Mungkin juga sih karena aku kurang minum beberapa hari ini. Satu jam sebelum naik kereta aku minum sekaleng larutan penyegar dan nampaknya itu belum cukup. Kelima, hipoglikemi atau kekurangan gula darah. Dalam kasusku nampaknya karena aku kurang asupan nutrisi karena dalam beberapa hari ini aku jarang makan dan tadi pagi aku tidak sarapan. Sore hari juga aku belum makan karena aku tidak berani makan di sembarang tempat, dan dalam perjalanan pulang dari Jakarta hari ini meski aku lapar aku tidak menemukan tempat makan yang representatif, semuanya dipinggir jalan, dalam kondisi kotor dan pasti terimbas polusi kendaraan yang menyemut di jalanan. Alhasil, niat berhati-hari malah bikin pingsan.

Sebenarnya, aku memang sering mengalami kondisi tubuh yang lemah. Salah satu penyebabnya adalah pola makan yang buruk. Maksudnya bukan karena aku makan sembarangan, melainkan aku aku terlalu pemilih terhadap makanan. Aku tak bisa sembarangan membeli makanan di warung-warung dan tak bisa menerima semua menu. Aku hanya makan makanan yang menurut mata, otak dan lambungku bisa kumakan. Kalau aku mencoba makan makanan yang oleh mata, otak dna lambung tak disetujui untuk kumakan maka aku akan muntah. Kadangkala *aku juga tak tahu penyebabnya* aku sangat benci nasi, sehingga jangankan makan nasi, mencium baunya saja sudah membuatku mau muntah. Sialnya aku bukan orang yang suka jajan seperti kawan-kawanku. Misalnya kalau mereka malas makan nasi maka mereka akan makan bakso dan sebagainya. Aku doyan bakso, tapi tak suka bakso. 

Selain itu, secara kimiawi karena aku memiliki golongan darah O misalnya menuntut untuk makan-makanan tertentu justru aku makan makanan sebaliknya yang tidak dianjurkan untuk golongan darah O, karena orang dengan golongan darah O rentan dengan asam lambung. Ah, jadi pusing sendiri. 

Peristiwa hari ini, yang merupakan akibat dari kelalaianku sendiri ditambah kegiatan yang padat sehingga menguras energi membuatku harus bertindak lebih bijak kedepan. Tadi, dalam proses pemulihan kesadaran sewaktu masih di kereta, aku berfikir apakah demikian rasanya ketika nyawa dicabut dari tubuh? Ataukah rasanya sama dengan mimpi mati paling menyakitkan yang pernah kualami? Mungkinkah ini petunjuk Allah agar aku terus memperbaiki diri sebab aku akan segara mati?

Depok, 14 Mei 2012

Sumber bacaan dan gambar:
imranisasi.blogspot.com
edwin-rommel.blogspot.com

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram