Masakan Sunda Resep Nenekku


Karedok by Rumah Sambal

Almarhumah nenekku selama hidupnya selalu mengatakan padaku bahwa sebagai perempuan aku harus bisa memasak. Kemampuan memasak sesederhana apapun akan membantuku untuk bisa mengenali citarasa dan menghargai makanan. Jika kelak aku dewasa kata nenekku, dengan bisa memasak makananku sendiri aku tak perlu merepotkan orang lain dan mungkin bisa membuat usaha dibidang kuliner. Jika aku kelak menjadi orang kaya dan mampu membayar jasa pembantu untuk memasak makanan untukku atau membeli makanan di restoran, setidaknya aku paham citarasa masakan. Namun, jika aku tidak mampu membayar pembantu yang memasak makanan untuk keluargaku, maka  aku bisa memasak makanan terbaik untuk keluargaku. Nah, ada beberapa resep masakan yang nenekku ajarkan sejak aku masih kecil. Mulai dari mempersilakanku melihat cara nenek memasak hingga membimbingku membuat masakan sesuai dengan resepnya. Dulu, aku sebel banget karena nenekku galak kalau sedang membimbingku memasak. Kesalahan sedikit saja yang kulakukan bisa membuat sikap cerewetnya muncul. 

Nenekku mengajari bagaimana mengiris bawang, membersihkan ikan dan ayam, mencuci sayuran, mencium harum bumbu, menyesuaikan jumlah bumbu dengan jumlah bahan masakan, memotong bahan masakan dan membedakan cara memotong sesuai dengan cara memasak, cara menggoreng, merebus, menumis hingga besar-kecilnya api yang digunakan. Misalnya cara memotong tempe untuk tempe bacem, tempe orak-arik, tempe sambal dan tempe goreng itu berbeda, termasuk dalam ketebalannya. Dalam menggiling bumbu dengan gilingan batu misalnya nenekku sangat hati-hati, bahan apa yang dicampurkan terlebih dahulu untuk digiling bersama-sama dan bahan apa yang ditambahkan kemudian, kemudian mencium aroma bumbu untuk melihat kesesuaian bahan-bahan. Nenekku mengajariku tak menggunakan timbangan berdasarkan resep modern, melainkan memintaku menggunakan mataku dan feelingku saja untuk melihat kesesuaiannya. 

Terdapat beberapa resep yang sangat kuingat dan masih terbanyang bagaimana nenekku begitu keras mengajariku, baik masakan Sunda maupun masakan daerah lain seperti Minang dan Sumatera Selatan. Dulu, aku bahkan hampir menangis saat nenek memarahiku kalau aku melakukan kesalahan dalam pelajaran itu. Resep-resep tersebut adalah:

1. Pindang Manis
2. Pepes Ikan
3. Rendang
4. Tempe Bacem
5. Sayur Bening
6. Sambal Terasi dan Sambal Hijau
7. Sayur Putih
8. Lodeh Aneka Sayuran
9. Besengek
10. Sayur Asam

11. Tim Ikan Peda
12. Sup Ikan Tawes
13. Pindang Kuning
14. Tumis Dendeng Ikan
15. Tumis Labu Siam
16. Urap Sayuran
17. Pecel
18. Karedok
19. Rebung cah Jamur
20. Pepes Jamur

21. Sayur Lompong Putih
22. Sayur Asam Manis Pedas Kacang Merah, Ikan Teri dan Nenas
23. Tumis Leunca dan Oncom
24. Tumis Hijau Cempoka dan Ikan Teri
25. Sayur Semendo
26. Sayur Teri dan daun Labu
27. Sambal Sereh
28. Sambal Picung
29. Ikan Goreng sambal Jahe
30.  Pisang Kipas

31. Opak Sambal Kuning
32. Sambal Ikan Sarden plus Buncis
33. Sambal Kemangi Terong Ungu Bakar
34. Lodeh Putih Terong Gendut
35. Sup Ikan Terong Belanda
36. Nasi Goreng Kunyit
37. Nasi Goreng Kencur
38. Ayam Bakakak
39. Kari Tutut (aku nggak doyan lagi)
40. Sambal Belut Bakar (aku nggak doyan lagi
42. Nasi Timbel
43. Nasi Liwet Gurih
44. dan masih banyak lagi.....

Beberapa kali aku mempraktekan resep-resep tersebut, namun rasanya lidahku menolak dan otakku menggerutu, bahwa citarasanya berbeda. Entah karena aku sudah lama tak memasak atau karena aku telah kehilangan kemampuan menakar dan mencium citarasa berdasarkan aroma masakan sebagaimana diajarkan nenekku karena bertahun-tahun aku telah terkontaminasi aroma masakan modern, bahkan masakan dengan resep impor. Namun, beberapa jenis masakan tak bisa kumasak karena mencari bahan-bahannya cukup sulit, harus ngubek-ubek pasar. Selain itu aku juga kan tinggal sendirian, jadi kalau beli bahan makanan dalam jumlah agak banyak suka kebuang karena busuk *maklum kulkas di kosan sering error daripada berguna*. Nanti, kalau pulang ke rumah, aku usahakan untuk masak beberapa jenis masakan yang paling kurindukan, lidahku sudah kangen banget.

 Hari ini ingatanku membawaku pada dapur dimana dulu nenekku mengajariku memasak, dan membiarkanku terlebih dahulu mencicipi rasa masakannya sebelum dihidangkan. Aku kangen. Mata hatiku bahkan bisa melihat satu proses dimana nenekku mengomel saat aku tengah menggiling bumbu dnegan perasaan sebal karena aku tak boleh keluar rumah. Samar-samar rasanya kudengar suara nenekku yang sedang mengomel, bahwa semua pelajaran itu untuk kebaikanku dimasa depan, yaitu saat ini dan yang akan datang. Sayang sekali tak ada photo untuk menggambarkan kenangan itu. 

Cerita soal makanan, selama perjalanan hidupku aku mengalami sedikit keanehan. Kadangkala aku tidak lagi mau memakan makanan yang dulu doyan kumakan, dan sebaliknya aku doyan bahkan suka makanan yang dulu nggak doyan. Misalnya, dulu aku suka belut dan tutut, kemudian aku nggak doyan lagi keduanya dengan alasan berbeda. Aku jadi nggak doyan tutut karena pada suatu hari sewaktu aku mau makan tutut, aku mengintip kedalam cangkangnya dan kulihat tutut itu punya 2 tanduk. Kupikir tutut ini makanan aneh, masa punya tanduk. Sejak saat itu aku ngeri melihat tutut, apalagi memakannya, hiyyyy. Soal belut lain lagi. Di desaku kan banyak sawah dan kolam jadi mudah mendapatkan belut. Suatu hari saat pulang dari sawah bapakku membawa beberapa ekor belut dan memintaku memberishkannya. Saat membersihkan belut yang licin karena banyak lendir aku berfikir mengapa belut mirip sekali dengan ular sawah yang ramping dna berwarna coklat dengan punggung berwarna hitam. Sembari bingung bagaimana membersihkan belut, aku berfikir bahwa mungkin saja selama ini pernah makan ular sawah yang disangka belut. Sejak saat itulah aku tak suka lagi belut meski olahan belut nampak menggiurkan dan kandungan gizinya tinggi, rasanya jijik saja. 

Nah, soal makanan yang dulu nggak aku suka tapi kini snagat suka salah satunya adalah durian. Sewaktu kecil sampai SMU, aku hanya makan durian jika durian itu sudah diolah menjadi wajik atau bubur durian + ketan. Kalau aku makan durian paling hanya 1 biji saja dan tak habis. Entah sejak kapan aku tiba-tiba sangat duka durian, diberi beberapa kepala juga bisa kuhabiskan. Makanya pas liburan semester 1 awal tahun ini, aku menikmati liburanku dengan beruburu durian di Kabupaten Way Kanan dan di Kalianda. Satu hal yang disayangkan, karena gigiku pakai behel jadi tuh serat durian nyangkut di sela-sela gigi jadi mengurangi nafsu makan durian. Tahun depan, harus berburu durian lagi. Selain itu, dulu aku nggak suka tomat karena baunya yang aneh. Aku paling makan tomat kalau sudah dijadikan sambal atau jus. Sekarang, setiap hari aku harus makan tomat baik sebagai jus, buah atau lalapan, aku sedang menuju sehari makan 2 butir tomat.

Aku adalah penyuka sayuran. Semangkuk sayuran bisa kulahap habis. Bahkan kalau bikin lalapan daun bayam biasanya sekali makan aku menghabiskan 2 ikat daun bayam. Sewaktu kecil aku ingat aku bisa menghabiskan 1 rantang sayur bening. Sayuran apapun kulahap mulai dari bayam, kangkung, kol, kubis, terong, wortel, kemangi, leunca, cempoka, pakis, sawi, brokoli, kembang kol, selada, daun suring, pare, tauge, daun petai China, lobak, soleng, daun kencur, timun, labu siam, labu air, labu kuning, daun singkong, daun ubi, daun labu, daun kacang panjang, kacang panjang, buncis, kecipir, dan beberapa sayuran yang kulupa namanya. Kalau saja tiap hari aku makan nasi dengan lauk ikan atau ikan asin goreng, beserta sambal dan sepiring lalapan, niscaya aku tidak akan kurus seperti sekarang.


Depok, 18 Mei 2012
-Pengen makan makanan rumah-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram