Aku dan Cerita Tentang Hujan # 8


Sore ini, adalah hari pertamaku kembali ke bangku kuliah setelah beristirahat total selama > 10 hari karena sakit. Saat tengah bersiap-siap, langit gelap dan hujan mulai turun. Hujan turun bersama angin kencang yang ribut. Aku duduk di kursi, melihat air hujan yang jatuh dari genting dibalik jendela. Lekat-lekat kuperhatikan. Sebab ia jauh, titik-titik yang jatuh itu serupa bintang-bintang yang berjatuhan dari langit. Aku lalu ingat, sejak belasan tahun lalu aku selau begini ketika hujan. Hujan selalu mengingatkanku akan penantian panjangku. Hujan seperti memberi telingaku kenyamananan sebagaimana pecinta musik saat mendengarkan sebuah lagu. Aku menunggu, seperti tahun-tahun yang telah berlalu, terus menunggu.

Lalu aku keluar, berjalan dibawah guyuran hujan. Hm, tentu saja aku melindungi diriku dengan payung. Sepuluh hari rasanya begitu lama. Aku rindu ruang kuliah, teman-temanku dan celoteh khas mereka, guru-guruku dan sikap diamku saat dikelas. Selama perjalanan dari kosan hingga kampus aku merasa begitu senang, memenuhi paru-paruku dengan udara segar dan tentu saja dalam guyuran hujan.Tak ada yang berubah selama 10 hari. Selokan tak lebih bersih, jalanan tetap ramai, semrawut dan menakutkan, orang-orang lalu lalang dan sebagiannya tengah menikmati makan sore mereka di warung-warung makan, sebagian orang berlari karena tak membawa payung, anak-anak ojeg payung berjalan bersama sembari bercanda, harum makanan, celoteh para pedagang dan kaki-kaki yang berjingkat dari genangan air. Suasan yang sama, tak berubah, hanya hari dan waktu saja yang berbeda. 

Tubuhku yang dingin menghangatkan dirinya sendiri. Inilah yang kusenangi dari sikap kooperatif sel-sel dalam tubuhku dalam melindungi diriku. Rasanya hari-hari sakit yang menyedihkan itu, yang kemarin-kemarin kulalui dengan tangisan, seakan tak pernah terjadi. Memoriku tentang rasa sakit dan kangen ingin pulang kampung tiba-tiba menutup dirinya, seperti kotak yang telah disegel. Sore ini, aku memaksa diriku harus dalam keadaan baik-baik saja, dan tubuhku mematuhinya. Aku sembuh? I don't know. Definisi sembuh bagiku berbeda dengan definisi sembuh secara umum. 

Saat telah melewati stasiun kereta api dan melihat kampus dari jarak dekat, aku merasa senang. Sembari menutup payung karena hujan telah reda, aku senyum-senyum sendiri saat berjalan terus memasuki kampus. Kemudian ketika menapaki anak tangga dan memasuki ruang kelas, dan saat seorang teman memanggil namaku dengan girang akupun tersenyum dan duduk di salah satu bangku untuk mendengarkan materi kuliah. Hujan sore ini telah mengantarkanku ke tempatku, ke bangku kuliah, yang sangat kurindukan lebih dari 10 hari lalu.  Di kelas, telingaku rasanya hangat mendengar celoteh kawan-kawanku. Saat seseorang diantara mereka bertanya kenapa lama tak melihatku maka aku menjawab enteng saja bahwa aku baru pulang liburan. Sakit adala liburan? ah, konyol sekali caraku menyembunyikan diri. Tapi inilah yang kulakukan. Aku tak suka menyatakan bahwa aku sakit hanya untuk sekedar memperoleh perhatian. Dan ketika aku berusaha menghentikan jemariku yang gemetaran karena dingin atau entah karena apa, senyum guruku di depan kelas membuat segalanya menghangat. Aku berterima kaish kepada Tuhan, bahwa Ia masih memberiku umur panjang dan disembuhkannya aku dari sakit yang menyiksa itu.

Saat melalui jalan yang sama bersama seorang teman usai kuliah terakhir, aku merasai udara yang segar. Dedaunan yang dingin, semilir angin, dan air yang menggenang serta tanah yang basah. Hidup sebagai manusia sangatlah berbeda dengan hidup sebagai hewan dan tumbuhan. Manusia memikul beban untuk bertanggungjawab atas perbuatannya, sementara hewan dan tumbuhan tidak. Manusia harus bertanggung jawab atas setiap perbuatannya, dikala ia sehat maupun sakit.Pun denganku, dalam konfrontasi panjang pada diriku sendiri selama lebih dari 10 hari, aku kian memahami bahwa hidup ini sangat berharga. Banyak hal yang tidak bisa kulakukan selama itu selain berbaring dan sedikit makan-minum. Ketika aku mulai memaknai kesepian sebagai cara yang paling baik untuk dekat dengan Tuhan dan menujukkan wujud dan pikiran diri sendiri, bahwa meski manusia itu makhluk sosial, ia membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk bersama Tuhannya saja, berdua saja.

Memaknai kesendirian, membuatku rajin menghitung waktuku sendiri, menunggu hari terakhir habis dan pulang tanpa ditemani siapa-siapa. Keluarga, teman hanyalah pelengkap kehidupan agar hukum alam berjalan. Tetapi sejatinya manusia itu sendiri dan akan selalu sendiri. Kepentingan sosial yang membuat ia membutuhkan manusia lain. Maka ketika tak seorangpun mengetahui aku tengah berjuang dalam sakitku dan aku tak memberi tahu mereka, dan mereka mungkin tak kehilangan aku, disinilah aku memahami betapa pentingnya berjalan dijalan Tuhan. Maka selama sakit itu, aku selalu menyebut nama Tuhan, bahkan menangis memohon belas kasihan dan ampunanNya. Pikiranku meradang dan mengemis kesembuhan dariNya sebab tubuhku meradang oleh rasa sakit yang seakan-akan menjadi penyebab kematianku keesokan harinya. Aku begitu takut. Dan saat hujan, seperti sore ini, hari-hari itu kulalui dengan mengingat kembali kenangan-kenangan lama. Tentang aku dimasa lalu sebagai seorang anak kecil yang setiap waktu menunggu ibunya pulang, dan yang ditunggu tak pernah pulang. 

Sore ini pun begitu, dan malam inipun begitu. Hatiku masih belum sembuh meski ragaku telah menyembuhkan dirinya dari sakit berhari-hari lalu. Hujan sudah lama berhenti, dan aku sedang merindukan gemuruhnya. Sebab, meski hujan sudah reda, penantianku masih belum kuakhiri.

Depok, 3 Mei 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram