Gerakan Sosial Baru



Penulis buku ini, Rajendra Singh, menyatakan bahwa buku ini lahir dari diskusi-diskusi di ruang kuliah dengan mahasiswa-mahasiswanya. Selama 20 tahun ia mengajar mata kuliah Tindakan Sosial dan Gerakan-gerakan Sosial pada program doktoral M.Phil. Pengalaman berdiskusi bersama para mahasiswanya di ruang kuliah inilah yang kemudian membuat ia merasa perlu melakukan proses integrasi dan sistematika keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsep masyarakat, ilmu pengetahuan dan gerakan sosial. Ia merasa melakukan proses itu dan menuliskannya menjadi sebuah buku merpakan proses yang sulit. Selain harus melakukan tinjauan ulang terhadap batang tubuh ilmu pengetahuan yang telah ada, telaah mengenai gerakan sosial mau tak mau harus melibatkan metode dari disisplin sosiologi, terutama dalam menjernihkan makna-makna konseptual yang beberapa diantaranya masih ambigu. Yang penting dari buku ini menurutnya adalah bahwa bentuk dan modus dari berbagai pembahasan aneka topik didalamnya bertujuan untuk memperlihatkan adanya keinginan dalam tubuh ilmu sosial untuk menempatkan kembali posisi manusia sebagai subyek dari tindakan-tindakannya. Rajendra menegaskan bahwa buku ini membahas tentang gerakan-gerakan dan konflik-konflik sosial serta tindakan-tindakan kolektif yang penempatan dan telaah kritisnya dalam konteks masyarakat dan disiplin ilmu sosiologi. Kasus-kasus yang digambarkan dalam buku ini adalah mengenai 'tubuh masyarakat India' sebagai negara yang kompleks akan konflik sosial. Dengan demikian buku ini mampu menyajikan kajian mengenai kritik post-modernis terhadap studi-studi atas gerakan sosial di India.

Gerakan-gerakan tidaklah diciptakan, apalagi diciptakan dan dipimpin oleh para pemimpin. Setiap kali ada kesempatan atau muncul ketidakpuasan manusia, yang melewati batas-batas kesabaran manusia, gerakan sosial muncul dengan sendirinya dan terwujud dalam aksi-aksi dari kesadaran kolektivitas yang bersifat konfliktual. Gerakan sosial sebagai realitas integral dari masyarakat selalu meninggalkan jejaknya diatas struktur sosial......(hal.12). Ada kisaran luas persoalan dan isu seperti petani, ekologi, suku, gender, pekerja dan industri, otonomi daerah, subnasionalisme dan sebagainya *ups, jadi membayangkan bahwa kodinsinya sama dengan Indonesia*. 

Mengapa terjadi konflik dalam masyarakat? 

Masyarakat dalam proses kemunculan dan pembetukannya secara teleologis merangsek ke arah dirinya sendiri. Dalam proses tersebut terdapat isu penyimpangan, keadilan sosial dan martabat manusia. Sistem koersi dan kontrol, dan penerapannya pada individu-individu dengan mengatasnamakan tatanan sosial, perdamaian dan harmoni sosial menghasilkan sistem pertentangan dan konflik dalam masyarakat. Penindasan dan kekuasaan melahirkan pertentangan. Penggunaan secara gigih oposisi dna resistensi terhadap sistem kekuasaan dna kontrol meurpakan kenyataan sosial yang sama luas berlakunya dengan konsepsi tatanan sosial dalam masyarakat manusia. Selain itu, situasi-situasi ketimpangan dan dominasi sosial jika dijalankan dan dipertahankan oleh institusi-institusi dan lembaga-lembaga sosial pada gilirannya akan menghasilkan sbeuah situasi balik dimana terjadi perlawanan, penolakan dan pemberontakan yang menentang sistem dominasi tersebut. *Nah, jadi kebayang sama suasana pas ribut-ribut soal rencana kenaikan harga BBM yang didemo habis-habisan oleh masyarakat dan bikin pagar senayan roboh*

Bentuk-bentuk aksi kolektif seperti kerusuhan, pemberontakan dan revolusi melibatkan letupan-letupan gerakan kekerasan/ pecahnya kekacauan massa yang singkat namun sarat kekerasan, yang terkadang menyebabkan kematian dan kehancuran. Kerusuhan merupakan indeks dari ketidakpuasan umum yang terjadi dalam masyarakat. Neil Smelser dalam skema perilaku kolektifnya menyatakan bahwa kerusuhan termasuk kedalam kategori aksi kolektif yang disebut sebagai sebuah 'letupan permusuhan' dan gerakan sosial sebagai 'gerakan kolektif'. Tokoh lain seperti Ted R Gurr menempatkan bentuk-bentuk letupan permusuhan dalam kategori data yang lebih luas mengenai 'kekerasan politik' untuk menyebut semua gerakan kolektif dalam sebuah komunitas politik untuk menentang rezim yang ada baik terhadap para aktornya maupun kebijakan-kebijakannya. Gurr mengklasifikasikan 'kekerasan politik' kedalam tiga kategori yaitu:
1. Huru-hara, atau kekerasan yang relatif spontan dan tak terorganisir yang melibatkan partisipasi umum yang besar, dan termasuk didalamnya pemogokan-pemogokan politik, kerusuhan, benturan politik dan penentangan lokal.
2. Konspirasi, yaitu kekerasan politik yang sangat terorganisir dengan keikutsertaan yang terbatas, dan termasuk didalamnya pembunuhan politik secara terorganisir, terorisme skala kecil, perang gerilya skala kecil, kudeta dan pergolakan.
3. Perang domestik, yaitu kekerasan politik yang sangat terorganisir yang melibatkan partisipasi massa yang luas dan dirancang untuk menggulingkan rezim yang berkuasa atau untuk meruntuhkan negara dengan menggunakan kekerasan secara ekstensif, dan termasuk didialamnya terorisme skala besar, perang gerilya dan revolusi.

Gerakan sosial selalu melibatkan proyeksi akan sebuah peta  aspirasi dan rancangan masa depan yang diinginkan. Gerakan sosial secara definitif menolak ide mengenai konsepsi posisi dan medan nilai, norma, kekuasaan, dan hirarki dalam masyarakat yang bersifat tetap dan tidak berubah. Masyarakat bertanggungjawab untuk mengubah atau membentuk kembali struktur masyarakat karena dunia sosial bukanlah sesuatu yang ditakdirkan sebelumnya, melainkan diciptakan oleh masyarakat dalam proses berkembangnya masyarakat. Gerakan sosial menggunakan dan mencerminkan metode-metode dan strategi-strategi  masyarakat untuk memperbaharui diri dan meregenerasi diri melalui aksi kolektif. Gerakan sosial secara umum menyediakan sebuah sabuk pengaman untuk memungkinkan masyarakat untuk  lari dari tekanan dan beban kestatisan dari kepentingan-kepentingan pribadi, dari kelembagaan yang disebabkan oleh status quo, ketimpangan, penindasan dan penundukan satu sama lain. 
Gerakan sosial dibentuk oleh proses-proses mempersoalkan dan menuntut secara sadar, mempertaruhkan dna menantang kelembaman hak istimewa dari masyarakat dan dari kelompok-kelompok yang memiliki hak istimewa, negara dan sistem otoritas, dan hal ini mengarah kepada proses pembangunan dan pembaharuan masyarakat kembali.

Transformais teoritis terhadap gerakan sosial sendiri secara umum terkait dengan proses tranformasi yang sedang berlangsung dalm representasi masyarakat. Fase representasi masyarakat adalah konsep yang luas dan tipe-tipe idean yang membantu dalam mengkonseptualisasikan masyarakat lebih dari sekedar 'sistem relasi sosial' yang pada umunya digunakan oleh ilmuwan sosial Perancis. Fase representasi masyarakat dimunculkan untuk mmeulihkan kembali posisi katif manusia sebagai pengubah konsepsi masyarakat. Manusia bukanlah bagian abstrak dari sebuah kolektivitas yang meleburkan relasi-relasinya sehari-hari dalam proyek membangun sebuah konsepsi maasyarakat manusia tanpa manusia, tereifikasi dan abstrak. Karena itu perspektif gerakan sosial mengenai masyarakat  cenderung berorientasi representasional, mengingat ia menyematkan agen dan aksi pada manusia

Wah, buku ini menarik untuk bisa membandingkan kondisi di India dan di Indonesia.

Depok, 14 April 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram