INDONESIA, dan ILMUWAN YANG TIDAK MAU PULANG


Penumpang di gerbong 1, gerbong khusus wanita

Jakarta panas, macet, ribut, kotor, bising, bikin kepala nyut-nyutan. Setelah membeli tiket kereta AC aku menunggu bersama calon penumpang lain di tempat khusus wanita. Rencananya aku akan naik gerbong 1, gerbong khusus wanita. Terkadang jika telah duduk manis atau berhimpitan didalam gerbong berwarna pink ini aku senyum-senyum sendiri. Kelemahan wanita ternyata telah menjadi kekuasaan untuk membuat peraturan tunduk pada kepentingan wanita. Ketika pria dan wanita memiliki hak yang sama dalam mengakses kendaraan publik semacam kereta, karena beberapa hal yang membuat wanita merasa tak nyaman maka dibuatlah gerbong khusus wanita. Gerbong 1 dan grbong 8, sama-sama gerbong ujung. Gerbong perisai bagi 6 gerbong lain yang didalamnya memuat penumpang pria dan wanita. Bagiku, pembuatan gerbong khusus ini tak lain semakin mempertebal benteng antara pria dan wanita yang seharusnya menempati posis yang sama sebagai warga negara atas fasilitas publik. Bagaimana jika kemudian hari terdapat keenggana pria untuk satu gebrong dengan wanita sehingga mereka menuntut dibuatkan gerbong pria? ah repot sekali PT KAI.  

Mengantri Kereta di stasiun Tebet, Jakarta, 30/3/2012
Mengantri Kereta di stasiun Tebet, Jakarta, 30/3/2012
Seringkali aku mengeluh dan merutuk saat naik kereta, menuju Jakarta dan sekitarnya, karena padatnya penumpang dalam kereta. Sehingga Commuter (Rp. 6000) yang seharusnya nyaman, sejuk dan aman menjadi sesak sebagaimana kereta ekonomi seharga Rp. 2000. Seringkali muncul pertanyaan: apakah aku naik di jam-jam padat? apakah karena kurangnya armada? apakah karena semua penumpang berfikiran yang penting jalan tanpa mau menunggu kereta selanjutanya? apakah karena tidak tegasnya peraturan dari PT KAI mengenai jaminan keselamatan penumpang jika kereta melebihi kapasitas? aku tidak menemukan jawaban, sebab terkadang meski di siang bolong kereta bertiket mahal ini penuh sesak, dan ketika jam sibuk mirip toples berisi keripik kentang yang padat dan sesak. 

Setidaknya, menggunakan kereta tak pelru terjebak macet dan terpapar polusi. 

Nah, setelah memotret suasana di gebrong 1 ini, kepadatan menggila sehingga tubuhku yang mungil dan sedang kelaparan begitu tersiksa saat terjebit diantara tubuh wanita-wanita berbadan lumayan berisi disekelilingku. Gerbong demi gerbong dilalui dan di setiap gebrong ada penumpang baru yang naik, yang jumlahnya lebih banyak dibanding penumpang yang turun. Uff! bau keirngat menyebar dan saling membaur. Kipas angin dan AC nampak tak berfungsi melawan hembusan karbondioksida dari setiap penumpang yang menghela nafas. Masalah kuman dan lain-lain yang berhamburan di udara tak bisa kubayangkan lebih jauh. Kepalaku nyut-nyutan.

Di stasiun Tanjung Barat, naik beberapa penumpang. Mereka berdiri di belakangku. Tak lama kemudian mereka mulai mengobrol. Obrolan mereka menarik meksi melompati berbagai isu. Aku mendengarkan obrolan mereka sembari memandangi jalanan yang dilintasi kereta. Pertama salah seorang diantara mereka mengatakan bahwa ada sebuah SPBU yang dibakar masaa yang melakukan aksi menolak kenaikan BBM hari ini. Kemudian orang kedua menyatakan penyesalan atas tindakan anarkis para pendemo yang merusak fasilitas publik yang sesungguhnya dibangun atas pajak yang mereka bayar, yang rakyat bayar. Ia berkata bahwa Indonesia ini negara aneh. Orang pertama kemudian menyahut lagi dan mengatakan bahwa Indonesia ini kaya hanya saja tak punya ahli yang bisa mengelola sumberdaya alam. Sebenarnya, katanya lagi, bukannya Indonesia tak punya ilmuwan atau orang pintar untuk mengurusi negeri ini, tapi banyak orang pintar yang tidak dihargai sehingga mereka memilih bekerja di luar negeri. Sementara pemerintah Indonesia sangat suka membayar ilmuwan asing untuk mengelola sumberdaya dalam negeri. Lalu ia bercerita bagaimana Habibie sang ilmuwan besar bisa tidak dihargai sehingga ia harus bekerja dan tinggal didalam negeri. 

Hatiku miris mendengar obrolah kedua orang tersebut. Yang mereka bicarakan termasuk beberapa temanku yang setelah lulus sekolah di luar negeri tak kembali ke Indonesia dan malah menjadi para ilmuwan handal di berbagai negara. Lalu aku berfikir tentang diriku sendiri. Bagaimana nasibku dimasa depan? apakah aku akan menjadi bagian yang bertahan dengan segala keterbatasan untuk memajukan Indonesia dengan berkarya di dalam negeri atau sebaliknya? aku tak bisa menjajikan jawaban apapun karena aku tak bisa menjaminnya. 

Lalu obrolan mereka berlanjut pada kesinisan pada para pejabat di negeri ini. Salah seorang berkata bahwa negeri ini dikelola oleh orang yang tidak punya kemampuan, bahkan banyak diantaranya yang memperoleh jabatan dengan suap. Sehingga mereka tak mampu mengeloloa negara ini karena tak paham ilmunya selain ilmu menipu rakyat dan menguras uang negara. 

Ya, hari ini publik menunggu keputusan apa yang akan dihasilkan sidang paripurna DPR DRI.  Puluhan ribu massa tumpah ruah di jalanan di Jakarta Pusat. Entah apa yang terjadi setelah sebelumnya pagar senayan berhasil dijebol massa yang marah serta kekerasan di Salemba.

Depok, 30 Maret 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram