Menyabung Nyawa di Jl. Margonda

***

13308671741473654807
Lampu lalu lintas (sumber: rinaldimunir.wordpress.com)


September 2011 lalu aku memulai studiku di UI, Depok. Dengan berbagai pertimbangan aku kos di Jl. Mawar atau yang sering disebut Kober dibanding kos di sekitar Kukusan dan sekitarnya. Alhasil, setiap hendak ke kampus dan pulang dari kampus aku harus menyebrang Jl. Margonda yang tidak memiliki pengaturan lalu lintas. Bukan saja karena tak ada polisi lalu lintas disana, tetapi juga tak ada rambu-rabu lalu lintas. Rasanya setiap kali hendak menyeberang, dua kali dalam sehari, jantungku berdebar kecang. Takut tertabrak motor!

Setiap kali hendak menyebrang aku menunggu orang lain yang juga hendak menyebrang untuk menyebrang bersama-sama/ rombongan. Dalam hematku, menyeberang berombongan dapat melipatgandakan keamananku dibanding aku menyeberang sendirian. Aku tidak khawatir pada laju mobil-mobil yang entah berapa banyaknya yang melintas di jalan itu, tetapi sangat takut pada sepeda otor yang melaju kencang seperti kesetanan, yang jumlahnya lebih banyak dari mobil. Para pengendara sepeda motor mungkin menganggap bahwa kendaraan mereka yang simpel dan ringan bisa dikemudikan dengan semaunya, menyalib, melaju kencang dan terkadang nyaris menyerempet pejalan kaki. Ah, menyebalkan sekali!

Seringkali aku bertanya pada beberapa orang termasuk mereka yang sudah lama tinggal di sekitar Jl. Margonda, mengapa Pemerintah Kota Depok tidak membuat jembatan penyeberangan. Jika melihat intentitas para mahasiswa UI yang menyeberang di Jl. Margonda aku melihat pemerintah memiliki lasan kuat untuk membangun sebuah jembatan penyeberangan. Setahuku di sepanjang Jl. Margonda hanya ada dua jembatan penyeberangan, yaitu yang menghubungkan pusat perbelanjaan modern Detos dan Margo City, serta yang menghubungkan Ramayana dan ITC. Jelas sekali dua jembatan itu memfasilitasi masyarakat yang merupakan konsumen keempat pusat perbelanjaan tersebut. Lalu mengapa tak ada jembatan penyeberangan yang dibangun guna memfasilitasi mahasiswa dan mempermudah mereka menuju tempat mereka belajar? Beragam jawaban kuterima, salah satunya adalah keengganan warga dalam membebaskan tanah. Hm, apa hubungannya, bukankah pembangunan jembatan tak akan menganggu aset warga sebab jembatan dibangun di jalan itu sendiri, di trotoar yang merupakan bagian dari jalan raya? Baiklah, lupakan alasan-alasan yang tidak pasti tersebut. Ada perubahan baru di Jl. Margonda.
Suatu hari aku melihat para pekerja tengah mendirikan lampu lalu lintas dan aku bersyukur bahwa kedepan akan ada perbaikan dalam pengaturan lalu lintas di Jl. Margonda. Ya, meskipun tak ada polisi lalu lintas, kupikir keberadaan lampu lalu lintas dapat membantu para pengemudi kendaraan untuk memberi hak para pejalan kaki untuk menyeberang dengan aman. Selain itu dibuat juga marka jalan membujur dan marka tulisan ‘STOP’,sebagai peringatan pada pengemudi kendaraan untuk mengetahui hak para pejalan kaki untuk menyeberang. Nah, hatiku mulai plong. Dalam hitunganku setidaknya aku menunggu satu bulan kedepan untuk melihat perubahan pada arus lalu lintas yang pada awalnya kacau balau  menjadi santun dan saling menghormati.

13308666861509387694
Marka Jalan. Ki-ka: marka membujur, marka tulisan (sumber gambar: beckhem.wordpress.com


Awal Februari lalu aku kembali ke Depok setelah liburan di Lampung. Hm, aku berharap kondisi jalan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kulihat lampu lalu lintas berdiri tegak dan marka jalan telah dibuat. Kupikir pengendara mobil dam motor akan lebih sopan dalam berlalu lintas. Tak perlu polisi lah. Sehari, dua hari, seminggu, kondisi jalanan nyaris tak berubah. Setiap kali berdiri di ujung marka jalan dan menatap lampu lalu lintas sembari menunggu warna merah bergambar pejalan kaki menyalal aku bersiap-siap menyeberang. Namun, aku kecewa. Nampaknya lampu lalu lintas, marka jalan dan marka tulisan yang dibuat untuk memberi hak pada para pejalan kaki untuk menyeberang tak dimengerti para pengendara mobil dan motor seakan-akan jalanan adalah milik mereka. Saat menyeberang, terkadang aku harus mengangkat salah satu tanganku ke udara untuk memberi tanda bahwa aku ingin kendaraan berhenti agar aku bisa menyeberang. Hal serupa dilakukan para penyeberang lain.

Oh, apa gunanya lampu lalu lintas dan marka jalan? Bukankah seharusnya mereka yang berhak mengemudikan kendaraan adalah mereka yang telah lulus ujian saat hendak memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM)? Apa iya disana harus ada polisi lalu lintas? Ya ampun, norak sekali para pengendara itu!

Tulisan ini kubuat sebagai bentuk penyataan sikap bahwasanya sebagai warga negara dan pejalan kaki, aku membutuhkan perlindungan dari kesewenang-wenangan para pengendara mobil dan motor di Jl. Margonda, Depok. Kuharap perlindungan itu bukan saja datang dari pihak yang berwenang, masyarakat sekitar, sesama para pejalan kaki, tetapi juga dari seluruh pengguna jalan agar hal-hal seperti ini tak berakhir dengan kecelakaan maut atau pengadilan.

Depok, 4 Maret 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram