Mahasiswa S2 dilarang Nyontek!


Malam ini kelas agak tegang. Pasalnya kebosanan dosen akan sikap mentolelir kelakukan mahasiswa S2 yang masih suka nyontek/ plagiat/ copy paste karya orang ke dalam karyanya membuat sang dosen marah besar. OW OW OW.....

Ceritanya begini, kuliah malam ini adalah kesempatan terakhir bagi kami (beberapa orang dari 11 orang mahasiswa peminatan OPL) melakukan presentasi proposal magang. Di kesempatan pertama seorang kawan maju kedepan dan melakukan presentasi. Karena kekikukan dan kurang pahamnya ia akan materi yang ia presentasikan membuat ia dicecar sejak awal presentasi. Salah satu dosen menganggap bahwa ia telah melakukan plagiat dan menggunakan karya orang lain sebagai bahan presentasinya. Aku juga agak menyangka begitu sih, karena saat ia kebingungan dengan ceroboh ia memperlihatkan data lama yang tak relevan dengan rencana kegiatan magangnya. Clear! itu jelas sekali karya orang. Tertera dalam tabel rencana kegiatannya adalah tahun 2009 dan berjalan dalam beberapa bulan, sementara kegiatan magang kelas kami baru akan terlaksana bulan April paska ujian Mid Semester dan hanya akan berjalan selama satu bulan. Ah, lagi-lagi mahasiswa S2 nyontek habis-habisan.

Selain itu dalam proses presentasi ia jelas-jelas membaca makalahnya dan bukan menjelaskan dengan gamblang rencana kegiatan magangnya. Alhasil, kami sekelas dapat ceramah gratis soal etika sebagai kalangan akademisi agar belajar dari kasus kawan kami ini. Dengan wajah kesal sang dosen terus bicara dan menampakkan kekecewaannya. Sang dosen bahkan mengatakan bahwa makalah yang sedang dipresentasikan merupakan makalah yang ditulis oleh salah satu mahasiswanya sehingga ia paham bahwa kawanku yang sedang presentasi telah melakukan plagiarisme. Entah benar atau tidak pengakuan sang dosen, tapi kupikir wajar saja beliau merasa demikian sebab beliau adalah pengajar di beberapa universitas dan juga seorang peneliti. Mungkin ratusan kasus semacam ini telah berulang kali ia hadapi dari berbagai angkatan mahasiswa. Duh teman, mau nyontek kok gak cantik caranya! mana ada dosen macam begitu bisa ditipu!

Sebagai mahasiswa yang berusaha untuk jujur dalam membuat tugas dan karya-karya akademis aku juga kecewa. Pasalnya untuk melakukan sebuah kegiatan yang berkaitan dengan tugas akademis membutuhkan perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan. Minggu lalu aku dan beberapa kawan lain belum bisa memastikan dimana kami akan magang dan tema perubahan sosial apa yang akan kami kemukakan. Tapi demi menyelamatkan diri aku dengan memberanikan diri maju ke depan kelas dan mempresentasikan rencana magang yang beberapa menit sebelumnya hanya berupa coretan dalam selembar kertas. Setelah benar-benar melakukan kontak dengan lembaga dimana aku akan magang,  maka aku telah siap mempresentasikan rencana magangku. Dalam hal ini aku sungguh berterima kasih pada diriku sendiri yang pada tahun-tahun lalu sejak aku menjadi mahasiswa S1 di Universitas Lampung aku banyak belajar dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Selain itu pengalaman kerjaku di sebuah NGO membawa perubahan besar dalam diriku dalam cara memandang berbagai persoalan termasuk tatacara berfikir kritis dalam menyelesaikan rencana diri sendiri. Setelah sukses melakukan presentasi di depan kelas, malam ini, aku tersenyum dan berterima kasih pada diriku dimasa lalu dimana kehendak menceburkan diri dalam proses belajar dan menyakitkan dan melelahkan membuahkan hasil yang manis kini. 

Aku ingat pertanyaan penting seorang kawan ketika awal tahun ini aku pulang ke Lampung. Ia bertanya padaku apa tugas mahasiswa S2. Aku dengan datar menjawabnya bahwa tugas mahasiswa S2 adalah untuk memberikan karya-karya solutif bagi persoalan masyarakatnya. Bukan katanya! Tugas mahasiswa S2 adalah berfikir bebas dan berfikir kritis. Barulah hasil dari kegiatan berfikir itu yang akan membuatnya mampu melakukan tindakan-tindakan atau transfer pengetahuan mengenai perubahan sosial. Ya, benar. Kalau berfikir bebas dan berfikir krtitis saja malas dan masih menganggap menggunakan karya orang lain sebagai karyanya adalah hal lazim, maka tugas besar sebagai pemimpin dan pembaharu salam masyarakat tak akan pernah terwujud. Mungkin ini juga yang selama ini menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga.

Depok, 28 Maret 2012
- Hujan-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram