Setiap Hari adalah Hari Baru


Ilustrasi hari baru

Setiap hari adalah hari baru.
Saat matahari baru terbit dari timur, saat itulah hari baru dimulai. Manakala separuh bumi diterangi cahaya lembut dan hangat, saat itu pula alam mulai menggeliat dan membangunkan penghuninya yang semalaman terlelap dan terbuai mimpi.  Ayam jantan berkokok membangunkan semesta, burung-burung mulai bercericit riang dan terbang kian kemari, daun-daun menggeliat menghantarkan embun ke langit dan manusia memulai hari barunya dengan membuka kedua matanya sembari tersenyum. Para ibu tersenyum sembari menyiapkan sarapan bagi keluarganya, para ayah tersenyum lega sebab ia akan mulai berjuang kembali untuk mencari rezeki yang halal untuk keluarganya, dan anak-anak tersenyum gembira menyambut hari baru untuk semakin dekat pada cita-cita. Semua bekerja sama dalam hangatnya mentari, dan kehidupan yang dipenuhi cahaya. Harapan-harapan kembali terucap setiap hari baru, dan ia semakin dekat.

Setiap hari adalah hari baru.
Setiap hari baru tak boleh sama dengan hari yang kemarin, atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Setiap hari baru adalah lompatan baru dimana setiap orang bersemangat untuk membuat masa depannya sebagai akumulasi dari lompatan-lompatan di setiap hari baru yang dilaluinya. Setiap hari baru adalah kebaikan baru, kesuksesan baru, dan keberhasilan baru. Hari baru adalah catatan-catatan baru. 

Saat aku kecil, aku selalu menyambut hari baru dengan ketakjuban pada kemunculan matahari dari balik bukit. Aku berdiri mematung menunggu pedang-pedang cahaya keemasan menghunus horison, terkadang sembari duduk memangku dagu dengan tangan. Aku begitu terpesona pada langit yang selalu indah dipagi hari, yang tak pernah lupa pada tugasnya menerangi semesta. Hari baru adalah senyuman baru, harapan baru, kebahagiaan baru. Semua serba baru. Semua hal tentang yang lama, kemarin dan yang telah berlalu tidak akan pernah kembali sampai hari kiamat. Aku tidak mencatatnya sebagai dokumentasi, tapi dua malaikat mencacatnya. Entah dengan apa mencatatnya. Hingga kini aku hanya punya 4 buku harian, tetapi dua malaikat itu telah memiliki setidaknya 10 buku harian paripurna tentangku, baik dan burukku, apapun tentangku sejak hari pertama kau haid dan memulai hariku sebagai perempuan balig. Hm, aku jadi berpikir iseng: apakah cara mencatat mereka sama dnegan caraku mencacat, ataukah catatan mereka tak bisa kumengerti? Apapun itu, mereka tak akan melakukan akuntabilitas padaku, melainkan pada Allah. Apakah kedua malaikat itu punya semacam chip tentang buku harianku?

Setiap hari adalah hari baru.
Catatan-catatan baru.
Kebaikan-kebaikan baru.

Depok, 31 Desember 2011
- Langit begitu riuh dengan suara petasan dan kembang api, kosan sepi-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram