Ketika LEDku 66 # 1


Kondisi darah yang baik

Suatu pagi di bulan awal Oktober 2011 aku bangun dengan tenggorokan serak, ketika aku batuk disertai dahak sangat kental berwarna coklat muda, hm..seperti cappucino. Kok? aku terhenyak. Selain itu tubuhku juga mengalami kondisi ektrem yaitu panas-dingin secara bergantian. Pagi itu, setelah kelelahan membuang dahak yang sulit keluar karena kental hingga rasanya perutku terangkat aku merenungi kegiatan-kegiatanku beberapa hari sebelumnya, makanan yang kumakan, camilan yang kumakan hingga jam berapa aku tidur malam. Normal. Aku tidak makan sembarangan, selalu memperbanyak makan sayur dan buah, hanya beberapa kali minum kopi dan aku rutin minum madu setiap pagi dan malam. Hari itu jelas aku tak bisa kuliah, bisa kacau kondisiku jika memaksakan diri. Akhirnya aku istirahat di kosan sembari mengupayakan kesembuhan dengan resep herbal dan tradisional sebelum memutuskan untuk mengobatinya dengan bantuan dokter.

Seminggu, tak berubah. Kondisiku makin parah. Celakanya batuk yang paling kubenci menyambangiku lagi. Gatal tenggorokanku. Ini batuk yang selalu mendatangi setiap tahun. Bisa sebulan aku dideranya tanpa ampun. Kalau tenggorokanku gatal maka otomatis aku akan terbatuk-batuk antara 10-30 menit lamanya, lebih parah lagi jika batuk disertai dahak tapi dahaknya kental. Selama beberapa hari aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah. Setiap pagi, dahakku semakin kental saja dan aku sangat kesakitan saat proses pembuangan dahak itu. Aku tak mau menggunakan obat yang dijual bebas di warung-warung untuk menyembuhkan penyakitku, sebab sesungguhnya aku sudah terlalu lama mengonsumsi obat dan aku muak melakukannya. 


Obat tidak membuatku sembuh, obat juga memiliki efek samping.

Aku kembali kuliah dalam keadaan yang belum membaik. Cuaca di Depok memburuk dan itu membuatku kedinginan, dingin yang menusuk tulang meski setiap hari aku selalu mengenakan pakaian dobel. Batuk yang menyiksa ini tak saja menderaku di kosan, tapi di kelas. Parahnya, ketika aku tengah fokus mendengarkan dosen menyampaikan materi kuliah tiba-tiba tenggorokanku gatal yang serta merta membuat airmataku mengalir karena aku tak kuat menahannya, dan aku harus terburu-buru ke tolilet. Di dalam toilet, aku terbatuk-batuk hebat hingga muntah-muntah. Perutku rasanya tertarik. Beberapa kali aku hanya mengikuti setengah sesi perkualiahan sebab badanku terasa sangat dingin dan batukku akan semakin parah. Sore 27 Oktober, aku memutuskan ke dokter di RS Bunda Margonda (tak ada pilihan). Ini pemeriksaan awal: tekanan darahku normal. Dokter menanyakan riwayat medisku: apakah pernah mengonsumi obat dokter secara berkesinambungan? Ya, jawabku, nyaris 6 tahun secara berkesinambungan ditambah obat penambah darah dan obat-obatan medis lain jika tiba-tiba aku sakit. Pernah tekanan darahku di angka 70/60 dan itu membuatku tak bisa bangun dari tempat tidur. Bahkan dengan tekanan darah serendah itu aku nyaris tak bisa bicara, tak bisa makan meski makanan itu berupa bubur, dan tak bisa menyentuh air meski suhunya normal (suhu ruangan). Waktu itu aku mungkin sekarat, tapi aku masih ingin hidup.

Proses pengambilan darah untuk tes Hematologi

Akhirnya dokter hanya memberiku antibiotik, quinobiotik 500 sebanyak 10 tablet dan obat batuk mucopet 30mg 10 tablet. Jika tak ada perubahan signifikan maka aku harus kembali dan melakukan pemeriksaan mendalam. Lima hari kemudian obatku habis dan aku ragu-ragu untuk kembali ke dokter, meski keadaanku belum membaik. Batuk gatal dan dahak kentalku sudah berkurang tapi kini berganti menjadi sesak napas. Sama tersiksanya. Sore lima Nopember aku kembali ke rumah sakit yang sama dan menyatakan keluhanku. Keputusannya: aku harus melakukan scan paru-paru/ Rontgen Thorax AP/ PA dan tes Hematologi lengkap. Sebelumnya, pada April 2011 aku telah melakukan scan yang sama saat melakukan medical ckeck up untuk kepentingan administrasi pengajuan kontrak beasiswa, tanpa tes Hematologi. Dari keseluruhan data aku dinyatakan normal/ baik-baik saja. Hasil scan kali ini serupa, kedua paru-paruku dalam kondisi baik. Jadi aku sakit apa? untuk mendapatkan jawabannya aku harus menunggu hasil tes Hematologi selama 1,5 jam. Sebelumnya seorang petugas mengambil sampel darahku yang merah kedalam sebuah tabung kecil hingga penuh, ngeri juga melihat darah sendiri yang merah pekat. Untuk menghidari dari munculnya sikap cengeng dan rapuh di depan publik, aku ke Detos, melihat pameran kerajinan tangan/ handmade, juga kampanye jilbab oleh komunitas Hijabers bersama Dian Pelangi. Aku membeli sebuah gaun dan bahan makanan untuk dimasak pada pagi hari raya Idul Adha, juga hadiah kecil untuk beberapa teman.

Satu setengah jam kemudian aku telah melihat hasil tes Hematologi dan kembali berkonsultasi dengan dokter. Hasilnya; data-data menunjukkan bahwa kondisiku normal/ dataku ditengah-tengah jumlah minimal dan maksimal rujukan medis. Hanya satu data yang patut dicurigai, LED. Angka rujukan dokter adalah 0-20 mm per jam atau 0-15 mm per jam, sedangkan LEDku mencapai 66mm/jam. Aku kaget, kenapa bisa begitu, tidak berbahaya kan? tanyaku. Dokter tak bisa menjawab sebab jika dilihat dari kondisi paru-paruku yang baik, maka kemungkinan besar ada infeksi atau kasus lain. Maka aku dirujuk untuk berkonsultasi pada dokter spesialis paru-paru, dan hanya harus minum obat batuk berupa sirup bernama Levopront Syrup Levodropropizine 120 mil. Rasanya dunia berputar terbalik. Setiba di kosan, di kamarku, aku menangis. Inikah dunia kecilku, beginikah jadinya, beginikah jalannya? Suara takbir menjelang perayaan Idul Adha  membuat tangisku meledak. Aku sendirian, sakit dan merasa sekarat untuk kesekian kalinya. 

Sungguh tiada daya dan kekuatan melainkan karena pertolongan Allah swt. 

 Aku memohon ampun kepada Allah atas keluhan-keluhan yang tak berkesudahan ini. 


Hematologi.
Hitung darah lengkap -HDL- atau darah perifer lengkap –DPL- (complete blood count/full blood count/blood panel) adalah jenis pemeriksan yang memberikan informasi tentang sel-sel darah pasien (disini). HDL merupakan tes laboratorium yang paling umum dilakukan. HDL digunakan sebagai tes skrining yang luas untuk memeriksa gangguan seperti seperti anemia, infeksi, dan banyak penyakit lainnya. HDL memeriksa jenis sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih dan trombosit (platelet). Pemeriksaan darah lengkap yang sering dilakukan meliputi:
  • Jumlah sel darah putih
  • Jumlah sel darah merah
  • Hemoglobin
  • Hematokrit
  • Indeks eritrosit
  • jumlah dan volume trombosit
LED
Laju Endap Darah/ LED atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Semakin banyak darah yang mengendap maka semakin tinggi LED. Parameter LED berada dalam kisaran normal 0 - 15 mm/jam. Angka LED tinggi bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan dalam tubuh. Namun seseorang yang hasil pemeriksaan LED nya tinggi belum tentu memiliki gangguan kesehatan. Sebaliknya seseorang yang memiliki gangguan kesehatan bisa saja nilai LEDnya normal. LED dapat meningkat pada kondisi-kondisi berikut :
  1. Wanita hamil
  2. Obesitas/Kegemukan
  3. Kadar kolesterol yang tinggi
  4. Anemia/kurang darah
  5. Penyakit Tuberkulosis (TBC)
  6. Gangguan pada ginjal
  7. Penyakit Tiroid (kelenjar gondok)
  8. Penyakit yang berhubungan dengan peradangan
  9. Rhematoid Artritis, penyakit yang dapat menimbulkan peradangan dan kerusakan sendi.
  10. Demam Rematik
  11. Hiperfibrinogenemia, peningkatan kadar fibrinogen (zat yang berperan dalam pembekuan darah).
  12. Multiple myeloma 
  13. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan).
  14. Hasil LED adalah temuan kasar sebelum melakukan tes spesifik seperti CRP.  Tes LED bukan penentu penyakit sehingga harus dilakukan cek medis yang lain (Disini).
    Sedangkan kadar LED di bawah angka normal dapat disebabkan oleh : 
    1. Penyakit yang berhubungan dengan gagal jantung.  
    2. Kadar protein dalam plasma darah rendah → bisa terjadi pada gangguan hati/ginjal.  
    3. Hipotermia, suhu tubuh di bawah normal  
    4. Anemia sel sabit  
    5. Penggunaan obat anti radang jenis steroid  
    6. Hipofibrinogenemia, kurangnya kadar fibrinogen dalam darah
      Cara pemeriksaan LED yang sering dipakai adalah 
      Wintrobe dan cara Westergren. 

      Wintrobe nilai rujukan:
      - Wanita : 0-20 mm/jam
      - Pria : 0-10 mm/jam

      Westergren nilai rujukan:
      - Wanita: 0-15 mm/ jam
      - Pria: 0-10 mm/ jam 

      dan nilaiku 66???? 

      What next?
      Bau rumah sakit sudah tercium, menyesakkan. Selama enam tahun, saat aku SD dulu aku adalah pelanggan pemeriksaan medis dan konsumen obat-obatan medis. Entah sudah berapa ribu buah aneka jenis pil yang kutelan sebagai 'benda' ajaib yang dipercaya dapat menyembuhkan. Hm, mungkin kondisiku sekarang merupakan efek jangka panjang dari pengobatan medis selama bertahun-tahun tersebut. Jalan hidup yang membuat diriku sendiri penasaran. Entah, aku tak tahu. Besok, aku harus bertemu dokter dan memperjelas perkara ini. Aku nggak mungkin melanjutkan hidup dengan gesit dan ceria jika kondisiku begini.

      Depok, 06 Nopember 2011


      Sumber bahan bacaan dan gambar:
      http://labkesehatan.blogspot.com
      http://www.zimbio.com
      klikdokter.com
      kapukonline.com
      mademoiselle-merisa.blogspot.com
      gender_female_head2 
      cingcingsehat.blogspot.com
       

      Wijatnika Ika

      No comments:

      Post a Comment

      PART OF

      # # # # #

      Instagram