Menulis Kematian, Naskahku Menang


PEMENANG AUDISI MINI KEMATIAN


Sebelum Kematian Menjemputku

Aku telah menyaksikan banyak kematian sejak aku masih kanak-kanak. Keluarga terdekatku, bibi Mida meninggal dunia dimalam Idul Fitri 1990 yang juga malam bahagia bagi persiapan pesta pernikahannya yang rencananya digelar esok harinya selepas shalat Id. Saat menatap tubuh kakunya yang dibaringkan diatas selembar tikar dan ditutupi kain batik panjang, aku mengira bahwa ia tak benar-benar mati. Aku mengira ia tengah tidur panjang seperti Putri Salju dalam dongeng yang akan segera bangun manakala pangeran mencium pipinya. Dia meninggal, kata orang-orang, juga kata nenekku yang meraung-raung meratapi kepergian putri kesayangannya. Mengapa seorang gadis cantik yang sedang menunggu detik-detik pesta pernikahannya harus meninggal dan membuat anggota keluarga histeris? Tidakkah Allah memberikan kesempatan barang sehari saja, menunggu pesta usai, menunggu sepasang kekasih resmi menjadi suami istri atau menunggu mereka shalat bersama? Kulihat orang-orang menangis, dan aku mematung saja. Apakah aku juga akan meninggal seperti bibi Mida dimalam pesta pernikahanku kelak?  

Peristiwa ‘kematian’ merupakan hal yang sangat penting, yang memenuhi pikiranku siang dan malam. Hingga suatu hari saat aku telah menjadi seorang remaja dan telah mendengar ribuan berita kematian dari pengeras suara di masjid-masjid, aku seringkali bermimpi tentang kematian. Apakah aku takut karena kematianku telah dekat? Apakah aku takut karena aku belum bertaubat dengan sungguh-sungguh? Apakah aku takut tidak akan masuk syurga? Apakah aku takut dikuburkan dibawah pohon beringin? Entah kenapa, setiap kali setelah aku bermimpi tentang kematian, aku akan berfikir tentang Amerika. Jika suatu saat aku mati dan semua orang di dunia mati, apa yang akan terjadi dengan Amerika? Konyol! Mengapa aku harus berfikir tentang Amerika sementara Amerika bukanlah jalanku untuk mati dengan terhormat dan masuk Syurga. Sungguh, aku kerap berfikir tentang nasib Amerika dalam rangkaian berita dan mimpi kematian. Aha, apa mungkin aku akan mati di Amerika dan dikubur di suatu tempat di Amerika dan masuk gerbang akhirat via Amerika?  

Aku paranoid. Ketika orang-orang sholeh berambisi untuk mati syahid sebagai jalan terbaik bagi kematiannya, aku tak tahu aku mau jalan yang mana. Aku semakin sering berfikir tentang Amerika dan bermimpi tentang kematianku sendiri. Sekali waktu aku bermimpi peristiwa kematianku sendiri diatas ranjang di sebuah rumah sakit akibat mengalami kecelakaan mobil dan tiba-tiba dalam mimpi itu aku ingat hutang-hutangku yang belum kubayar. Aku terbangun dalam keadaan lelah dan jatuh dari ranjang. Duhhh! Dalam mimpiku yang lain aku mati menggunakan gaun pengantin dalam keadaan marah pada ibuku dan aku takut jadi anak durhaka. Aku tidak mau mati sebagai anak durhaka. Kurasa saat itu aku juga belum menulis surat wasiat ahar hartaku yang sangat sedikit tidak menjadi rebutan. Saat aku terbangun dalam keadaan kuyup oleh keringat, aku ingat satu hal bahwa aku belum menulis wasiat agar setengah dari hartaku akan kuberikan pada adik semata wayangku jika aku mati, tentunya setelah dipotong biaya pemakamanku. Ada-ada saja.  

Entah sudah berapa banyak berita kematian yang kudengar dari pengeras suara di masjid-masjid, atau dari cerita teman-temanku, atau dari akun facebook, bahkan dari berita di koran dan televisi. Setiap berita tentang kematian selalu menggetarkanku, mengingatkanku akan waktu kematianku sendiri dan tentang Amerika. Kematian seperti apa yang menjadi jalanku? Apakah aku akam mati dalam keadaan miskin sehingga tubuhku tak ditutupi lima lapis hijab dan kain kafan? Apakah aku akan diterima sebagai calon penghuni Syurga? Apakah aku akan mati setelah membayar luas semua hutang-hutangku? Apakah aku akan mati dalam sebuah kecelakaan atau justru tenggelam di laut? Kemudian aku berfikir bagaimana perasaan orang-orang saat mendengar berita kematianku dari pengeras suara di masjid-masjid, dari akun facebook, dari berita koran dan televisi, bahkan dari pesan singkat berantai via blackberry dan Nokia? Atau orang-orang tak akan pernah tahu tentang kematianku karena secara tiba-tiba aku hilang saat pesawat yang kutumpangi melintas segitiga Bermuda jatuh dan aku tenggelam, lalu dimakan hiu? Atau aku akan mati dimalam pesta pernikahanku sebagaimana bibi Mida?  

Sesungguhnya aku punya ambisi untuk kematianku. Aku ingin mati syahid. Tapi sebelumnya, aku ingin menikah dan memiliki beberapa orang anak dan membesarkan mereka dan tentunya menjadi ibu yang paling baik di seluruh dunia. Aku juga ingin keliling dunia, ingin menjadi donor bagi restorasi negara merdeka Palestina, juga menerima sebuah nobel. Aku ingin mati tanpa meninggalkan hutang juga tunggakan pajak pada Negara. Aku ingin mati dengan tenang, berbaring diatas perahu yang mengapung di lautan, dibawah taburan bintang langit malam dan ditalqin orang-orang terkasih. Aku ingin mati dalam keadaan dicintai Allah dan semesta dengan segala isinya, dan tak lagi peduli pada nasib Amerika. Aku ingin ingin dijemput Izrail dan para malaikat sebagai seorang putri yang akan menemui ratunya di syurga, Fatimah Az-Zahra. Adakah nasihat untukku dalam merancang peta jalan kematianku? 

Flashback:
Aku kan ikut grup di facebook 'PENULIS SAMARA' yang kegiatannya bikian audisi menulis. Di adisi pertama tentang cinta, aku gak lolos padahal bukunya sekarang udah cetak ulang dan laku keras, nyampe ke Kairo. Ada audisi 'kematian' dengan beberapa kata kunci. Ya udah, ngalor ngidul aja nulis dan dikirm deh ke inbox pengelola. Nunggu cukup gak sabar juga, eh hari ini buka FB ada namaku tertera sebagai pemenang. Alhamdulillah. Hadiahnya klo gak salah kain khas Kalimantan. Ditunggu..ditunggu pak pos ke alamatku. 

Nih dia photo kainnya: namanya kain Sasirangan dari Kalimantan...

Kain Sasirangan, merah-pas banget dengan warnaku

Depok, 18 Oktober 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram