Suka Duka Kuliah di Universitas Indonesia

Kecewa?

Apa yang kubayangkan tentang studi di kampus kuning UI sungguh diluar dugaan. Banyak dosen berumur yang masih menggunakan cara-cara kolot dalam menyampaikan materi kuliah, melakukan wawancara pada muridnya berbingkai diskusi dan menurutku terkesan interogatif. Dengan cara itu mana mau aku angkat tangan dan mengemukakan pendapatku. Satu kata saja yang redaksinya tak sama dengan alam pikirnya bisa menjadi kesalahan fatal, padahal dalam bahasa Indonesia itulah-kata si murid yang seharusnya dibenarkan. Serba salah, benar. Aku biasa ngoceh dikelas ketika kuliah S1 kini cuma bisa diam-mendengarkan. Apa yang akan terjadi dengan alam pikirku setelah dua tahun kuliah di UI dengan biaya selangit? belum lagi pengulangan bahasan  di 3 mata kuliah. Alamak, makin bodoh saja aku kuliah di UI. Alhasil, aku harus menulis ulang materi yang disampaikan dan itu menyita waktu jika dibandingkan dengan hanya membacanya saja. Ini kuliah untuk S2, tapi kok nggak lebih baik dari sesi perkuliahan S1 di universitas negeri di daerah. Bagaimana mau melakukan perubahan dna percepatan macam universitas bergensi di luar negeri? Ah, dilema.

I'am a student
Aku kuliah di UI untuk mendapatkan pencerahan, terutama ide-ide untuk perbaikan diriku dan masyarakat jika aku pulang kembali ke Lampung. Adakah pencerahan setelah nyaris 2 bulan kuliah? belum.

Hari ini, beberapa hari menjelang ujian tengan semester/UTS atau mid tes, aku malah bingung. Bahan-bahan untuk dipelajari sih lumayan banyak, tapi menghadapi ujian tertulis di kelas: apakah itu menggambarkan kemampuan akademik dan sosial kita dimasa depan? bukankah ujian tertulis dikelas dilaksanakan dibawah tekanan? Apakah fair mengetes kemampuan akademik dengan cara lama seperti ini? Tidakkah UI punya cara yang lebih canggih dibanding cara-cara yang selama ini dilakukan universitas di daerah? Ujian semacam ini seperti meminta mahasiswa untuk berfikir dan bekerja dalam satu cara yang sama dan apakah hasilnya sama dengan yang dosen maui. Inikah cara untuk menilai kemampuan akademis mahasiswa di abad 21? apalagi mahasiswa di kelasku itu tak semua berbasis pengetahuan sosial, tentu memiliki cara pandang yang berbeda.

Aku punya ide: 
1. Misalnya dihari ujian mahasiswa diajak menonton sebuah film dokumenter tentang fenomena sosial, setelah menonton barulah mahasiswa diberi kertas ujian untuknya menulis pandangannya dan rekomendasi penyelesaian persoalan didasarkan pada teori-teori yang diajarkan atau justru pengalaman pribadinya di lapangan selama bekerja.
2. Misalnya dihari ujian mahasiswa diberi sebuah buku tentang mata kuliah "A" dan ia dipersilakan untuk menilai esensi isi buku tersebut terkait dengan pemecahan masalah sosial tertentu. Ujian semacam ini dapat dijadikan penilaian kemampuan baca dan daya tangkap mahasiswa dalam waktu singkat terhadap isi sebuah buku.
3. Dosen memberi contoh kasus tertentu lalu mahasiswa dipersilakan untuk menulis pandangannya dan merekomendasikan solusi-solusinya. 2 jam cukup. 

Membayangkan ujian tertulis didalam kelas, menulis ulang materi-materi kuliah dalam lembar jawaban membuatku seakan-akan dilemparkan ke bangku sekolah dasar.



Puyeng deh gue...


Depok, 30 Oktober 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram