GARIS BATAS dan Pengembaraan di Jalur Sutra

Padang rumput dan pegunungan salju di Asia Tengah
Reupload lagi nih:

Membaca buku KEREN yang ditulis oleh backpacker Indonesia, Agustinus Wibowo, tentang perjalanannya di negara-negara Asia Tengah dalam "Garis Batas" membuat kepalaku berfikir keras tentang 'Kotak Etnis' yang selalu digembor-gemborkan penjajah dalam menghancur leburkan persatuan diantara sebagian manusia. Dalam buku ini, Agus begitu apik bercerita tentang kehidupan masyarakat di Asia Tengah, di negara-negara sangat kecil pecahan negara raksasa Uni Soviet, yang membangun kebanggaan 'etnisitas' dalam kehidupan yang miskin dan mengenaskan. Meski begitu, meski telah menjadi negara-negara kecil merdeka berdasarkan suku bangsa, mereka tak bisa bangun dan bersaing dengan negara lain yang sedang berlari meraih kemajuan seperti China yang ada di perbatasan negara mereka. Kehidupan mereka sulit, kelaparan, penuh kejahatan, birokrasi yang korup, kelangkaan sumber daya alam, 'sedikit kesombongan etnisitas', kedinginan karena dikepung gunung-gunung bersalju, rangkaian pegunungan tinggi yang disebut 'atap dunia', juga oleh buayan masa lalu sebagai pusat peradaban yang cemerlang.

Buku ini sangat menarik untuk dibaca bukan hanya karena berisi dokumentasi perjalanan unik yang dipilih seorang pelancong sebagai tantangan untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan daripada sekedar memenuhi paspor dengan cap dari kantor imigrasi, juga berisi informasi menarik dan aktual mengenai kehidupan yang terkurung dalam kebanggaan 'kotak etnis' bangsa-bangsa di dunia. Melalui pandangan dan pemikiran penulisnya, kita dapat mempelajari banyak hal dari kehidupan bangsa-bangsa yang sedang belajar untuk merdeka, mandiri dan bangga pada 'nasionalisme' sebagai negara berdaulat meski harus kelaparan dan dilupakan dunia yang tengah bergelut dengan arus pasar bebas dan modernisasi. 

Bangunan peninggalan Romawi di Jalur Sutra
Sangat bisa dimengerti mengapa penulis memilih judul 'Garis Batas' untuk buku yang mendokumentasikan perjalanannya ke negeri nun jauh yang tak terbayangkan. Pertama, negara-negara Asia Tengah yang memiliki akhiran 'stan' merupakan negara-negara kecil pecahan negara raksasa Rusia yang berpaham komunis, kolot dan kejam. Bangsa-bangsa yang dulu menginduk dalam perintah Moskow dan mendapat jaminan hidup harus berjalan tertaih-tatih dalam kemerdekaan yang tiba-tiba tak lama setelah kejatuhan Uni Soviet dan paham komunisnya. Negara-negara itu dibentuk atas dasar etnisitas. Tajikistan untuk etnis Tajik, Kazakhstan untuk etnis Kazakh, Kirgizstan untuk etnis Kirgiz, Uzbekistan untuk etnis Uzbek, dan Turkmenistan untuk etnis Turkmen. Semua bangsa kecil ini saling membanggakan diri dan sejarahnya masing-masing dan mengklaim sebagai pewaris imperium besar di masa lalu dan daerah emas perlintasan yang sangat terkenal dalam sejarah, yaitu Jalur Sutra. Dinegara-negara 'stan' itu, hak dan aktivitas manusia dibatasi atas dasar etnisitas dan mayoritas-minoritas. Bahkan Islam sebagai agama mayoritas tak lagi mampu menyatukan perbedaan kultural mereka, dan Islam disana memiliki komunitas dan masjidnya masing-masing. Itulah peninggalan penjajah, peninggalan Uni Soviet yang dulu melakukan politik belah bambu.

Reruntuhan bangunan kuno di Jalur Sutra
Aku begitu ngeri membayangkan jika pendirian 'negara bangsa' berdasarkan 'kotak etnis' berlaku di Indonesia. Akan begitu banyak negara-negara kecil dan super kecil yang saling membanggakan diri dan menutup diri dari menerima etnis lain. Belum lagi kalau mau bepergian harus berpegang pada 'nyawa' berupa paspor yang tentunya akan menyuburkan praktek korupsi di bagian imigrasi dan wilayah perbatasan. Aku juga membayangkan jika negara-negara 'stan' itu bersatu dan melakukan unifikasi menjadi negara yang besar, niscaya mereka akan memiliki kekuatan yang tak kalah tangguh dari negara tetangganya yang telah maju, Cina. Negara-negara 'stan' itu memiliki struktur alam yang indah dan dapat menjadi ikon pariwisata dunia, juga dengan budaya mereka yang unik dan ikatan universal mereka sebagai bangsa Muslim. 

Meski demikian kejam dan pedihnya hidup dalam 'kotak etnis' yang tak punya kekuatan apa-apa dalam percaturan dunia, negara'negara 'stan' ini setidaknya sedikit lebih baik dari negara tetangganya, yang hanya dipisahkan oleh sebuah gunung dan sungai Amu Darya. Orang-orang Afghanistan selalu menatap iri ke negara-negara tetangganya yang berpendidikan dan berpikiran maju meski sama-sama miskin. Setidaknya kaum wanita di seberang Afghanistan tak terkurung dalam 'kotak burqa' yang menghapus identitas kecantikan mereka sebagai manusia yang sama-sama punya hak untuk menikmati dunia. 

Sang Amu Darya, Sungai yang melintasi beberapa negara sekaligus menjadi batas administratif negara berkembang Turkmenistan dan negara kolot Afghanistan.
Di negara-negara 'stan' ini, bahasa, budaya dan 'Vodka' Russia sangat kentara dan menjadi jiwa mereka.

Selamat membaca bukunya. Oh ya, bisa juga membaca catatan mentah perjalanan Agustinus Wibowo di blog pribadinya. Catatan awal tentang perjalanannya sebelum dibukukan. Silakan kunjungi situs ini, photo-photonya sangat mengesankan: AGUSTINUS WIBOWO

Sumber Gambar:
www.china-briefing.com
http://destinasian.co.id/situs-sejarah-baru-di-daftar-unesco/
http://agustinuswibowo.com/7581/1pic1day-peninggalan-jalur-sutra-remnants-silk-road-kyrgyzstan-2006/
http://www.azernews.az/region/64342.html

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram