Ke Monas, Ke Jantung Indonesia


Niatnya pengen liburan, mengusir penat. Kemana ya? berhubung waktunya sempit dan gak cukup energi untuk liburan ke tempat yang jauh, akhirnya aku dan seorang teman memutuskan untuk liburan ke Monas. Cukup merakyat dan nasionalis. Ke Monas memang jadi, tapi kayaknya hari ini memang harus menjalani 'Episode Berdiri' deh. Pertama, setelah sekitar 1/2 jam nunggu kereta jurusan Bogor-Jakarta Kota di Stasiun UI pas masuk kereta harus berdiri dan baru dapat tempat duduk pas sampai stasiun Gondangdia, Jakarta. Kedua, pas mau naik ke puncak monas, ya ampun antrian banyak banget sampai dibuat 2 garis.  Udah 500an orang kali yang dapat giliran, sisanya nyaris dengan jumlah yang sama. Panas lagi, panas banget sampai kulitku merah dan gatal. Tak tik tuk tak tik tuk akhirnya setelah menunggu 2,5 jam, berdiri duduk berdiri, akhirnya sampai juga giliranku dan kawanku menuju puncak Monas. Setelah sampai di atas 'oh, gini ya Monas?'

Kelupaan cerita, didalam ruang bawah tanahnya, kan ada diorama-diorama sejarah Indonesia dan sejarah pembangunan Monas, eh...ternyata karena remang-remang dimanfaatin juga buat 'mojok' sama yang pacaran. malah ada satu keluarga tidur bersama di lantainya yang dingin. Alangkah tidak tertibnya manusia Indonesia ini dalam mengunjungi Museum Nasional. 

Berhubunga aku gak punya kamera saku ataupun yang canggih seperti kamera SLR, kupakai handycam untuk memotret Jakarta dari puncak monas. Ah, benar-benar photografer amatiran, hasilnya kacau semua. Diperparah dengan langit Jakarta yang abu-abu dan suram karena polusi. Apa yang indah dipandang dari Monas? suram suram suram. Ke segala aram memandang, disana kesuraman menyambut. Huh, Jakarta. Selain itu, karena aku juga gak paham-paham amat cara mengoperasikan handycam, jadilah hasil photoku jelek. Sungguh jelek. Parahnya temanku itu gak punya jiwa photografer, jadi pas gilirannya memotretku, kacau semua hasilnya sementara aku memotret dia dengan sebaik mungkin. Ah, apa yang bisa dikenang kalau begini?

Lihat lebih dekat, ada gedung Pertamina kan?

Mikir, kemarau gini kok pada kebanjiran ya?

Mejeng di depan Monas...

Pas perjalanan pulang, kereta penuh, maklum hari Minggu, wiken, dan udah sore. Berdiri lagi. Wah, tumitku rasanya mau melepuh. Pahaku sakit. Kakiku juga sakit. Pas nyampe rumah dan kuperiksa, ternyata ada beberapa wilayah dengan bulatan kebiruan sebagai pertanda mampetnya aliran darah. Inilah akibatnya kalau sangat kurang berolahraga. 

Depok, 10 Oktober 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram